You're My Boy

You're My Boy
Mulai dari 0



Setelah seminggu bersenang-senang di Korea, sekarang Marsha dan Boy harus kembali ke Indonesia. Marsha begitu menikmati kencan sekaligus bulan madu kali ini. Boy benar-benar memanjakan nya dengan mengajak jalan-jalan dan belanja. Mereka bahkan bisa bertemu dengan aktor Korea kesukaan Marsha, Kim So Hyun. Tentu saja untuk itu, Marsha harus memberi 'jatah' spesial pakai telor pada Boy. 😂😂


Sekarang mereka sudah sampai di rumah. Marsha bingung karena Boy mengubah beberapa interior. Dia mengganti Gorden, meja makan, sofa bahkan memasang wallpaper yang baru.


"Boy, kenapa di ganti?"


"Aku sudah bilang kan, kita akan memperbaiki rumah tangga kita. Jadi, interiornya harus baru juga." Boy meletak kan kopernya di samping meja makan.


"Bi, Ken mana?" tanya Marsha ketika Bibi datang menghampiri mereka.


Bibi tidak menjawab dan hanya menunduk.


"Keeeeen" panggil Marsha. "Apa dia pergi, Bi?"


"Nanti aku jelaskan, Mars.." Boy menggantikan Bibi untuk menjawab Marsha.


"Bi, tolong buatkan kami coklat panas ya..Kami mau ke atas dulu." pinta Boy dengan sopan.


"Baik, Tuan. Nanti Bibi antar."


Boy menggandeng tangan Marsha untuk pergi ke atas, tepatnya di balkon.


"Duduk di sini, sayang." Boy mengajak Marsha duduk di bantal kursi yang ada di lantai balkon.


Marsha menurut. Dia duduk saling menghadap dengan Boy. Ya, sejak pindah, mereka bahkan tidak pernah menyentuh balkon. Dan bisa duduk berdua dalam keadaan santai seperti ini adalah hal yang langka untuk mereka berdua.


"Kenapa rumah begitu sepi, Boy. Mana Ken, Jessica dan Leana?"


"Sayang, itu yang ingin ceritakan." Boy meraih tangan Marsha. Sebenarnya hal itu yang ingin di bicarakan oleh Boy sejak kemarin. Nasib dari Jessica, Leana dan juga Ken.


"Jangan potong aku sebelum aku selesai bercerita." ancam Boy.


Marsha mengangguk. Dia tidak sabar mendengarkan apa yang ingin Boy katakan soal mereka.


"Leana sudah pergi. Dia juga sudah menikah dengan Max, orang yang memperkosanya."


"Boy, bagaimana bisa? Mereka ada di penjara." Marsha melanggar pesan Boy karena dia gatal untuk tidak mengomentari cerita Boy.


Leana menikah dengan orang yang memperkosanya? Ini sungguh mustahil. Hal ini bagaikan makan buah simalakama.


"Mars, kamu tau seperti apa keluarga Scotts kan?" "Leana setuju menikah karena Max dan orang tua nya memohon pada nya untuk berdamai dan juga bertanggung jawab."


"Tapi.. kenapa wanita itu begitu bodoh?" Marsha turut prihatin mendengar cerita Leana ini. Miris sekali nasibnya. Marsha jauh lebih beruntung. Dia terpaksa menikah dengan Boy hanya karena salah paham antara keluarga mereka. Tapi ini..


Marsha tidak dapat membayangkan bagaimana trauma nya menjadi Leana.


"Mars, Leana tidak punya pilihan lain."


"Tetap saja, Boy.. kalau aku jadi Leana, aku tidak akan memaafkan nya sampai seumur hidup. Seenaknya saja dia mengambil kehormatannya." ucap Marsha emosi.


Boy menelan ludah. Untung saja Boy melakukan hal yang tepat untuk melakukan hubungan setelah mereka memiliki perasaan. Jika Boy melakukan pemaksaan seperti Max, entah apa jadinya pernikahan mereka.


"Makasih bi."


Marsha dan Boy mengambil gelas masing-masing. Setelah Bibi pergi, mereka baru mulai melanjutkan percakapan mereka.


"Lalu, mana Jessica?" Kini Marsha beralih pada adik iparnya.


"Jessi sudah pergi keluar kota." "Max keluar, itu artinya Marcel juga keluar. Jessica harus sembunyi dari pria gila itu. Dan aku mengirim Ken untuk mengawasi Jessica." Boy menyesap minumannya.


"Lho, kenapa kamu ga bilang kalau kamu menyuruh Ken pergi?" protes Marsha.


"Marsha Setiawan, apa kamu begitu membutuhkan Ken?" tanya Boy dengan curiga.


"Ya, tentu saja Boy. Kamu tahu sendiri, Ken bisa menjaga ku, dan aku selalu menyuruh dia. Hanya Ken yang dapat di andalkan, Boy." curhat Marsha sedih.


Pletak.


Boy menjitak kepala Marsha. "Kamu pikir, aku tidak bisa menjaga mu? Dan aku tidak dapat di andalkan?' komplain Boy.


"Sakit, Boy." Marsha mengusap kepalanya yang jadi korban amukan dari Boy. "Kamu itu kan suami aku, tidak mungkin juga aku suruh-suruh kamu." Marsha mengusap jidatnya yang sakit.


"Justru karena aku suami mu, kamu harus percaya dan mulai mengandalkan aku, sayang." "Kita tidak membutuhkan Ken. Apalagi Ken memiliki perasaan sama kamu."


"Boy, kamu sakit ya?" Marsha memegang dahi Boy. Tapi, tidak panas. "Tumben kamu bisa bijaksana seperti ini."


"Mars, suami mu memang bijak." Boy memuji dirinya sendiri.


Setelah membaca buku yang diberikan oleh penumpang pesawat kemarin, Boy sadar jika masih banyak hal yang di perlu di upayakan untuk menjadi suami yang baik. Pernikahan itu tidak seindah seperti dalam drama Korea. Apalagi mereka belum saling mengenal karakter masing-masing karena harus menikah secara kilat.


"Sayang, minum lah.. ini sangat enak.. tidak seperti buatan mu yang kemarin." Boy mencoba mengalihkan perhatian Marsha sekaligus menggodanya.


"Jangan mulai, Boy.." Marsha mencubit pinggang Boy cukup kencang.


"Iya, oke. oke.. ampun." Boy menahan tangan Marsha.


"Baik lah, selama satu bulan ini, mari kita belajar menjadi suami dan istri yang baik. Seperti layaknya pasangan suami istri kebanyakan." Marsha meminum coklat panas nya sambil memandang Boy.


Boy tersenyum lebar. Dia mengacak-acak rambut Marsha. "Aku bersyukur bisa memiliki mu, Marsha."


"Aku juga sangat senang karena bisa bertemu dengan mu, My Boy." Marsha menyenderkan kepalanya di pundak Boy.


"Kita mulai dari 0 ya.. Anggap saja kita baru saja menikah."


"Kamu seperti petugas pom bensin, Boy." Marsha cekikikan menghadapi suaminya yang selalu bertingkah absurd.


Tapi, Marsha sangat senang hari ini karena baginya ini adalah sebuah awal yang bagus untuk menjalani rumah tangga mereka yang sebenarnya.


(Nantikan kisah hidup Jessica dan Leana di karya selanjutnya ya.. 😉😄 tapi kalian juga harus terus ikuti, beri like, vote atau komentar ya.. supaya author semangat nih.. )