
Pagi ini Boy meminta Marsha untuk ikut ke kantornya. Marsha sedikit merasa aneh karena tidak biasanya Boy seperti ini. Suami Marsha itu justru tidak suka kalau Marsha pergi ke kantornya.
"Sayang, cepat.. aku ada rapat.." teriak Boy dari bawah.
Marsha terburu-buru menuruni tangga sambil mengikat rambutnya.
"Ayo.. Boy." ajak Marsha.
"Tunggu dulu." Boy menahan tangan Marsha. Dia memandangi penampilan istrinya dari bawah ke atas.
"Penampilan apa ini?" Boy bicara dengan nada sedikit lebih tinggi."Cepat ganti, aku tidak suka."
Marsha mencoba memeriksa kembali penampilannya. Dia menggunakan crop top seperti biasa dan celana jeans ketat. "Aku biasa memakai ini kan, Boy? Apa yang salah?"
"Kamu ingin semua orang melihat perut mu?" kata Boy sewot.
"Ya sudah, aku tidak usah ke kantor." Marsha berbalik badan, tapi Boy memegang pergelangan tangan Marsha.
"Kamu tetap ikut. Pakai jaket ku saja."
Boy melemparkan jaket nya dan langsung di tangkap oleh Marsha. Dia mengikuti Boy dengan kesal karena suaminya begitu protektif padanya.
"Boy, kemarin kamu hapus kontak-kontak di ponsel ku?" tanya Marsha ketika mereka sudah berada di jalan.
"Ya, kontak mu terlalu banyak nama pria." ucap Boy santai.
"Katanya mau jadi suami yang baik?" sindir Marsha. "Suami yang baik itu harus percaya dengan istrinya."
"Suami yang baik itu harus menjaga istrinya dengan baik." balas Boy.
"Mana ada seperti itu." ucap Marsha lirih.
Dia lalu memilih untuk menatap keluar jendela daripada meneruskan perdebatan nya dengan Boy.
Mobil Boy berhenti di lampu merah. Di sana ada baliho besar yang memanjang foto iklan sabun Secret dengan Marsha sebagai modelnya.
"Boy, lihat itu." Marsha yang kebetulan melihat iklannya, menunjuk ke arah luar supaya Boy ikut melihat. "Wah, ternyata aku sangat cantik." puji Marsha pada dirinya sendiri.
"Hey, kamu sudah tidak menjadi artis, kenapa itu tidak di copot?" kali ini Boy bicara dengan nada 3 oktaf lebih tinggi. Boy tidak suka melihat iklan Marsha karena pose istrinya itu terlihat begitu seksi. Boy mengambil ponsel nya untuk menelepon vendor dan meminta mereka mengganti baliho iklan Marsha.
"Ya, saya akan bayar ganti ruginya asal foto itu di copot sekarang juga." kata Boy dengan emosi.
"Boy, kamu kenapa si?" Tanya Marsha heran. Marsha melihat perubahan cukup drastis dalam diri Boy. Sehari dia sangat romantis, sehari ini marah-marah. Apa dia perlu menghubungi Dokter Ericka untuk memeriksa kejiwaan Boy?
"Sayang, gambar itu terlalu terbuka." ucap Boy sambil memandang Marsha yang mulai terlihat kesal.
"Astaga Boy, itu aku masih memakai baju. Terbuka itu kalau kita di kamar." protes Marsha. Dia tidak suka dengan tingkah Boy yang tiba-tiba cemburu tidak jelas seperti ini.
*
*
*
Marsha duduk di sofa, sementara Boy membereskan berkas untuk rapat sebentar lagi.
"Anda makin cantik saja, Nona Marsha." puji Sarah yang kebingungan untuk memulai pembicaraan.
"Ya, dan karena terlalu cantik, suami ku sampai bertindak berlebihan pada pria yang ada di sekitarku." curhat Marsha sambil melipat kedua tangannya.
"Sayang, jangan curhat dengan Sarah."
"Lalu, aku harus curhat dengan siapa? Ken?"
Mendengar kata Ken di sebut, darah Boy langsung mendidih. Sebenarnya, Boy kemarin membaca chat Marsha yang ingin Ken untuk kembali ke rumah. Tapi, dia mencoba mengenyahkan pikiran negatif itu. Sekarang, Marsha menyebut nama Ken, dan entah kenapa Boy langsung naik pitam.
"Sarah, kamu keluar dulu saja ke ruang rapat. 15 menit lagi aku menyusul." usir Boy.
Sarah yang tidak ingin terlibat permasalahan suami istri itu, langsung kabur keluar.
Boy berjalan mendekat dengan perlahan. Marsha hendak berdiri, tapi sepertinya terlambat karena Boy lebih dulu mengunci badannya di sofa. "Boy, kamu mau.." Marsha tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat ini Boy sudah menciumnya dengan kasar.
"Jangan dekat-dekat lagi dengan Ken. Kamu itu milik ku.." ucap Boy setelah dia melepaskan Marsha.
"Boy, kamu bukannya akan rapat?" ingat Marsha sambil sedikit mendorong tubuh Boy yang sudah menindihnya.
Tapi sepertinya Boy tidak mendengarkan Marsha. Dia tetap melakukan apa yang dia inginkan sejak kemarin. Ya, belakangan ini Marsha selalu menolaknya. Padahal, akhir-akhir ini Boy justru sangat bergairah setiap kali melihat Marsha. Dia setuju dengan Sarah yang mengatakan jika Marsha makin cantik saja. Apalagi sekarang Marsha terlihat semakin berisi. Tangan Boy sudah bergerilya ke mana-mana, tapi lagi-lagi kegiatannya harus terhenti karena ponsel nya berdering.
"Boy, angkat dulu." ucap Marsha seraya mengambilkan ponsel Boy.
"Nanti saja,, tanggung."
"Boy, itu Dad Bayu." kata Marsha lagi. "Itu pasti penting."
Boy masih melanjutkan saja kegiatannya, membuat Marsha mau tidak mau juga mengikuti kemauan suaminya.
*
*
*
"Aku rapat dulu, sayang." kata Boy sambil mengancingkan kemejanya.
"Kamu ini aneh sekali Boy. Kamu kenapa si?"Marsha menggunakan kembali jaket milik Boy untuk menutupi seluruh bekas yang diberikan oleh Boy.
"Aku kenapa?" tanya Boy bingung. Dia juga tidak mengerti kenapa dia sangat sensitif sekali ketika berada di dekat Marsha. Dia juga selalu menginginkan Marsha tiap saat dan tidak ingin jauh dengan nya.
"Maaf sayang, kalau aku terlalu berlebihan." Boy mengusap wajah Marsha yang masih menunjukan rasa kesal dan kecewa.
"Tidak apa-apa,, kamu rapat dulu saja. Aku tunggu di sini." Marsha tersenyum karena tidak ingin membuat Boy tidak berkonsentrasi saat rapat nanti.
Boy tersenyum. Dia harus meninggalkan Marsha karena Boy sudah terlambat 15 menit.