You're My Boy

You're My Boy
Ide gila Jessica



Pagi itu Boy harus segera pergi ke kantor. Dia juga tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Sepertinya kebiasaan Marsha 'Bangun Siang' mulai menular pada Boy.


Marsha juga hari ini perlu keluar untuk melakukan podcast sebagai bintang tamu dalam chanel Youtube Megan. Mereka berdua siap dalam waktu bersamaan.


Jessica hanya dapat menyaksikan kakak dan istri nya itu berebut untuk turun tangga seperti anak kecil.


"Tunggu dulu. Kalian mau ke mana?" tanya Jessica kepo. Dia mencegat Boy dan Marsha tepat di bawah tangga.


"Minggir, bocah kecil. Aku sudah terlambat." Boy menggeser tubuh Jessica. Tapi, Jessica tidak bergeming.


"Jess.. aku hitung sampai tiga.. kalau kamu tidak menyingkir, aku akan usir kamu." ancam Boy.


Ancaman Boy itu di terima dengan baik oleh Jessica. Jessica segera memiringkan badannya supaya Boy dan Marsha bisa lewat.


"Sayang, aku pergi dulu.." Boy mencium bibir Marsha.


"Aku juga pergi dulu..kamu hati-hati ya.." Marsha membalas ciuman Boy.


"Love you honey.." ucap Boy mesra sambil memegang pipi Marsha.


"Love you more, My Boy."


"Ehem." "Katanya kalian sudah terlambat, tapi malah mesra-mesra an." omel Jessica sambil bersedekap. "Kalian buat nafsu makan ku hilang." lanjutnya.


Boy dan Marsha berjalan keluar di ikuti Jessica di belakang mereka. Boy menggunakan bugatti nya sedangkan Marsha menggunakan Huracan nya.


"Sayang, telepon aku kalau sudah sampai." teriak Boy.


"Iya..Oke sayang..aku akan video call kamu nanti."


Jessica menarik nafas panjang melihat pasangan yang sedang bucin-bucin nya itu. Bahkan saat sudah berada di mobil masing-masing, mereka masih bisa bercakap-cakap seolah memang tidak ingin pergi.


"Semoga suami ku besok tidak bucin akut seperti dia." ucap Jessica lirih.


"Sepertinya anda yang akan bucin akut."


Suara itu mengejutkan Jessica. Jessica berbalik dan dia di hadapkan dengan dada bidang Ken yang baru selesai berolahraga.


"Aku tidak bucin, cuma sedikit bodoh saja." Jessica tidak dapat menahan untuk menyentuh roti sobek milik Ken.


Tapi, tangannya segera di tangkap oleh Ken.


"Nona, anda harus pakai kacamata kuda." kata Ken sambil menghempaskan tangan Jessica dengan kasar.


"Jangan Ge er, kamu. Aku hanya ingin memegangnya, tidak lebih."


"Jessi!" teriakan itu membuat Ken dan Jessica menengok. Leana muncul dengan wajah yang kurang bersemangat.


"Lea..kamu kenapa?" Jessica segera menyadari jika Leana sedang tidak baik-baik saja.


Leana langsung memeluk Jessica dan menangis sesenggukan. Jessica yang kewalahan menopang badan Leana, akhirnya membimbing wanita itu ke dalam.


"Kamu kenapa, Le?" tanya Jessica sambil menyodorkan sekotak tisu pada Leana.


"Aku baru saja putus dengan pacar ku." Leana bicara dengan suara yang tersendat.


"Yah, kita senasib, Le." Jessica kembali memeluk Leana dan menepuk-nepuk punggungnya. "Aku putus dengan pacar ku, maka nya aku pergi ke sini."


Ken berdiri tidak jauh dari mereka untuk menguping pembicaraan keduanya. Rupanya keduanya dalam fase patah hati. Hanya bedanya, Leana terlihat frustasi, sedangkan Jessica tampak biasa saja. Tidak ada raut kesedihan di wajahnya.


"Aku harus bagaimana, Jess.."


"Ya, kamu harus cari kesibukan, jadi kamu tidak ada waktu untuk memikirkannya." saran Jessica. Dia sudah sering patah hati, jadi dia selalu menggunakan tips itu supaya cepat move on. "Yang penting kamu jangan sendirian, Le."


"Tapi, aku selalu sendiri. Kamu tau kan, papa dan mama ku sudah meninggal." Leana semakin sedih dan meratapi nasibnya mengingat jika dirinya selalu sendiri.


"Bagaimana kalau kamu di sini dulu." tiba-tiba dalam otak Jessica terbesit ide untuk membantu Leana.


"Nona, anda tidak boleh sembarangan menerima tamu. Tuan Boy bisa marah." sela Ken sebelum Leana menjawab.


"Kenapa marah? Boy sudah kenal Leana dan dia juga teman ku."


Ingin rasanya Ken membelah otak Jessica untuk memeriksa apakah dalam otak Jessica itu ada isinya. Dia benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh?


"Le, Ken benar. Aku ini mantan Boy. Pasti akan tidak enak nanti." jawab Leana yang sadar diri.


"Kenapa? Apa kalian masih punya perasaan?" selidik Jessica.


"Mana ada seperti itu, Jess." jawab Leana cepat. "Boy kan sudah punya istri."


"Yaa.. betul.. dan kamu lihat sendiri kan bagaimana tingkah mereka yang suka pamer kemesraan di depan umum?" Jessica mengibahi kakak dan kakak iparnya sendiri dengan semangat.


Kali ini, Ken bukan hanya akan membuka otak Jessica, tapi juga ingin melakban mulutnya.


"Jadi, kalau kamu menginap di sini, itu bukan masalah. Kamu teman ku dan juga teman Marsha." "Tenang saja, nanti aku akan bicara pada Boy." "Aku hanya perlu merayu nya sedikit saja supaya dia setuju." oceh Jessica. Dia sedang berusaha menerapkan simbiosis mutualisme, di mana Jess dan Leana akan saling menghibur di rumah yang sepi ini.


Ken mengambil ponselnya untuk memeberi pesan Marsha dan Boy tentang rencana gila dari Jessica ini. Dia berharap semua bisa dicegah sebelum terlambat.