
Begitu pintu terbuka, Boy di hadapkan dengan berpuluh-puluh orang yang membawa kamera dan recorder. Mereka juga mengerubungi Marsha yang tampak ketakutan.
“Boy, bagaimana apakah anda akan bertanggung jawab pada Marsha?”
“Boy, apakah Marsha ke sini untuk meminta pertanggungjawaban?”
“Apakah kalian akan menikah?”
Boy tidak terlalu mendengarkan mereka, karena fokusnya kini tertuju pada Marsha. Dia mengambil topi yang di pegang Marsha, lalu memakaikannya pada wanita itu.
Boy juga merangkul Marsha, lalu mengajak Marsha untuk jalan. Marsha yang sedikit terkejut, akhirnya memahami maksud Boy. Dia ingin menyelamatkan Marsha dari kerumunan wartawan. Marsha mengikuti langkah Boy sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Melihat keduanya pergi, wartawan itu juga mencoba mengikuti mereka. Boy buru-buru menekan pintu lift dan berharap lift itu cepat terbuka. Doa Boy terkabul karena tidak lama pintu lift terbuka dan juga sangat kebetulan lift itu kosong.
“Kamu tidak bersama Ken?” Tanya Boy begitu mereka sudah berdua di dalam lift.
“Dia pergi ke rumahku.” Ucap Marsha singkat. Dia tidak menatap Boy karena sibuk mengirimkan pesan untuk Ken.
Boy juga sibuk dengan ponselnya. Dia perlu menelepon resepsionis nya untuk menanyakan keadaan di luar.
“Halo, apakah masih ada wartawan di depan?” Tanya Boy dalam teleponnya. “Oke. Tolong siapkan mobil, di pintu samping saja.”
Boy menarik nafas panjang. Sebentar lagi mereka akan sampai di lantai bawah.
“Ayo.” Boy menggenggam tangan Marsha. Tepat saat pintu lift terbuka, Boy menarik Marsha untuk berlari secepatnya. Marsha sekali lagi harus merasakan spot jantung karena tindakan Boy yang tanpa aba-aba.
“Boy,,, lo gila..” pekik Marsha.
Wartawan yang sedang berdiri di depan kantor menyadari Boy dan Marsha yang berlari ke arah samping. Mereka lalu mengejar keduanya dengan semangat demi mendapatkan berita yang sedang viral saat ini.
Boy dengan cepat menemukan mobil ferrari kuning miliknya yang telah disiapkan oleh salah seorang karyawannya.
Dia segera masuk ke dalam, tapi Marsha tampak berdiri saja di samping mobil.
“Cepat masuk, atau aku tinggal.” Kata Boy tidak sabar.
“Ya sudah, tinggal saja.” Kata Marsha tidak peduli.
Boy sudah menyalakan mesin mobil. Bunyi khas mobil sport segera menggema dan menimbulkan suara berisik. Dia tidak punya waktu karena para wartawan sudah semakin mendekat.
Marsha menengok ke belakang. Dia harus membuat pilihan sekarang. Membuang gengsinya untuk naik ke mobil Boy yang masi terbuka, atau tertangkap oleh wartawan dan akan muncul berita baru.
“Cepat” Boy masih memberikan Marsha kesempatan meskipun dia sudah ingin meninggalkannya.
Akhirnya Marsha masuk dan langsung menutup pintu mobil. Keputusannya tepat karena para wartawan sudah tepat berada di samping mobil Boy dan menggedor kaca mobilnya.
Boy tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan tetap menjalankan mobilnya.
Mereka akhirnya bisa bernafas lega karena bebas dari para wartawan.
Boy menengok pada Marsha. Wanita itu sedang merapikan rambutnya yang acak-acakan karena topi yang dipakainya.
“Sebentar lagi akan ada artikel baru.” Ucap Boy dengan penuh keyakinan.
“Ya sudahlah.. Kan kamu bisa hapus lagi.” Jawab Marsha santai.
Marsha betul. Boy bisa melakukan itu dengan mudah. Tapi dia tidak suka dengan nada bicara Marsha yang menyebalkan. Ini kedua kali dia menyelamatkan Marsha, tapi Boy tidak pernah mendengar wanita di sampingnya mengucapkan tolong atau terima kasih. Sungguuh sangat arogant sekali.
“Kamu mau turun di mana?” Tanya Boy yang mengendarai tidak tentu arah.
“Ke rumah ku saja.”
*
*
*
“Rumah yang cat krem di depan ya.” Marsha menengok sesaat pada Boy, lalu dia kembali menatap ponselnya. Sepanjang perjalanan tadi, Marsha mencoba menghubungi Ken. Tapi, bodyguardnya itu tidak menjawab telepon. Dia juga tidak membalas pesan dari Marsha. Ini sungguh aneh, karena Ken selalu standby bahkan jika Marsha meneleponnya jam 2 pagi.
Boy menghentikan mobilnya di depan gerbang. Dia sengaja tidak ingin masuk, karena tujuan Boy hanya menurunkan Marsha saja.
Pintu gerbang tiba-tiba terbuka. Baik Boy dan Marsha cukup terkejut karena beberapa orang berjas hitam muncul dari dalam dan mereka berdiri di samping mobil Boy. Marsha tau itu adalah para pengawal di rumahnya, tapi kenapa mereka semua berkumpul mengelilingi mobil Boy?
“Nona, silahkan turun.” Satu pengawal Marsha membukakan pintu mobil untuk Marsha dan mempersilahkan majikannya keluar.
“Anda juga silahkan keluar, Tuan Boy.” Pengawal itu melongok ke dalam dan menatap Boy dengan sinis.
Boy nampak enggan untuk keluar. Perasaannya mendadak berubah tidak enak. Tapi, Boy juga tidak bisa melarikan diri, karena pengawal Marsha menghalangi jalan mobilnya. Mereka bahkan sudah membukakan pintu mobil untuk Boy dan mengambil kunci mobilnya dengan paksa. Karena tidak ingin membuat keributan, Boy akhirnya keluar juga.
“Apa Ken masih di dalam?” Tanya Marsha penasaran.
“Ya, kalian sebaiknya masuk sekarang, karena Ny.Lee sudah menunggu.”
Gleg.
Firasat buruk segera muncul dalam benak Marsha. Dia segera berlari ke dalam, membuat para pengawal juga berlari mengikuti Marsha.
Sesampainya di dalam, Marsha mendapati Ken yang sudah babak belur sedang duduk di kursi. Di depan Ken, ada seorang wanita tua dengan rambut yang seluruhnya beruban sedang diam sambil melamun.
“Ken..” Marsha segera menghampiri Ken dan memeriksa kondisinya. Pantas saja Ken tidak membalas pesan darinya. Tapi, kenapa Ken bisa sampai dipukuli seperti ini?
"Mom yang pukuli Ken." ucap Ny.Lee setelah melihat Marsha mencemaskan Ken.
"Mom, Ken salah apa sih?" protes Marsha.
"Salah apa?" Ny.Lee menarik nafas dalam. "Dia sudah lengah jaga kamu sampai kamu tertimpa gosip hamil." ucapnya dengan nada tinggi.
Ny.Lee kembali emosi. Dia bangun dari kursinya, lalu memukul-mukul lengan Ken dengan tangannya.
"Mom, udah mom..kasihan Ken." bela Marsha.
"Hahaha.."
Semua yang berada di ruangan itu menengok ke sumber suara.
Boy langsung menutup mulutnya karena mendapat tatapan tajam dari 6 pasang mata yang merasa terganggu. Tentu saja Boy tidak bisa menahan tawanya melihat Ken tidak berdaya ketika dipukuli seorang wanita tua.
Ny.Lee melupakan jika dia sudah menunggu Boy sejak tadi. Dia berdiri di depan Boy dan menatapnya dengan pandangan membunuh.
Boy sedikit terintimidasi dengan Ny.Lee. Dia tidak mampu berkata apapun dan hanya diam seperti patung.
"Boy Setiawan. Anak dari Bayu Setiawan dan Kim Seo Hyun."
"Emm, Sania Setiawan." koreksi Boy. Ya, Ny.Lee baru saja menyebutkan nama dari orang tua Boy.
"Sama saja." kata Ny.Lee kesal. "Sekarang, saya mau tanya, kenapa kamu bawa Marsha ke hotel?"
"Karena.." Boy berhenti sejenak. Dia merasakan ponsel di sakunya bergetar.. Eomma calling..
"Boy Setiawan, Cepat kembali ke rumah, sekarang!"
Boy merasakan gendang telinganya pecah mendengar teriakan Sania yang begitu kencang. Dan Boy tidak dapat protes karena telepon sudah terputus. Dia memasukan kembali ponselnya ke saku, dan memabalikkan badan untuk pergi dari sini. Tapi baru satu langkah, Ny.Lee dengan sigap menangkap tangan Boy.
"Mau ke mana kamu? Urusan kita belum selesai."
Boy yang bingung dengan situasi saat ini, tanpa ragu memegang tangan Ny.Lee dengan kedua tangan nya.
"Nyonya Lee yang cantik, baik hati dan tidak sombong, marahnya nanti lagi saja ya.. Saya janji, setelah ini akan kembali ke sini. Anda boleh ceramahi saya, asalkan jangan pukul saya seperti dia." pinta Boy dengan memelas.