You're My Boy

You're My Boy
Lupa sudah menikah



Ponsel Marsha berdering. Marsha meraba nakas untuk mencari ponselnya. Dia menekan tombol sembarangan, lalu meletakan ponselnya ke telinga.


"Ponselnya terbalik."


Marsha membalik ponselnya tanpa membuka mata.


"Sya.. you gila.. ini udah jam berapa? kenapa lo belum muncul juga?" teriak Jeni.


Marsha menatap layar ponsel nya. Ada reminder jadwal untuk syuting iklan jam 8 pagi dan ini sudah jam 10.


'Jam 10?!' Marsha langsung menyibak kan selimut, lalu melompat bangun dari ranjang. Dia berjalan ke arah pintu di sebelah kirinya.


"Lho, kok ke sini?" Marsha tampak bingung karena begitu membuka pintu, dia malah berada di walk in closet, bukan kamar mandi. Karena sudah tidak ada waktu lagi, akhirnya Marsha memutuskan untuk tidak mandi dan hanya berganti baju. Dia membersihkan wajah sebisanya, menggunakan lipstik pink glossy, lalu menyemprotkan parfum chanel kesukaannya.


"Perfect." ucapnya pada diri sendiri saat memandang cermin. Ya, tidak akan ada orang lain yang tau jika Marsha jarang mandi. Dia terbiasa bangun siang dan jarang berkeringat. Jadi, Marsha akan mandi jika dia sudah merasakan gerah dan lengket.


Marsha mengambil kunci mobil dan tasnya, lalu keluar dari kamar begitu saja. Dia tidak sadar bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang terus menatapnya dari ranjang.


"Pagi, Ken.. cepat antar aku ke stasiun televisi." Marsha melemparkan kunci mobil yang segera reflek di tangkap oleh Ken yang telah menunggu di depan pintu kamar.


Ken mengikuti langkah Marsha yang terburu-buru. Pagi ini Marsha tampak begitu ceria, membuat Ken bertanya tanya dalam hati, apakah Marsha dan Boy sudah semakin dekat? Biasanya wanita itu akan menekuk wajahnya seperti setrikaan rusak begitu keluar dari kamar.


"Seperti nya aku lupa sesuatu, tapi apa ya?" Batin Marsha.


"Ada yang salah, nona?" Ken memasangkan selt belt untuk Marsha.


"Tidak. Tolong cepat, karena aku sudah terlambat 2 jam."


Ken melajukan mobil dan tidak bertanya lagi. Marsha menyalakan audio di mobilnya, mengambil botol aqua di cup holder, lalu mulai menyanyi seakan dia adalah diva.


"walaupun dirimu tak bersayaaaap..."


"Mulai lagi.." Ken menekan earphone yang selalu di pasang pada telinganya, supaya dia bisa menyetir dengan tenang dan tidak terganggu dengan suara 'merdu' Marsha.


*


*


*


Stasiun televisi


"Pagiii.." sapa Marsha sambil menyeruak masuk ke dalam ruangan.


Semua orang memandang Marsha dengan tatapan dongkol. Mereka yang semula duduk, langsung berdiri dan bersiap-siap ke posisi masing-masing.


Jeni menarik Marsha untuk mendekat ke arahnya.


"Pagi, pagi. You ga liat ini jam berapa?" Dia memperlihatkan jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul 11.30. Bagaimana semua orang di ruangan ini tidak kesal melihat Marsha masuk dengan santainya.


"Yaelah,, Sorry.. cuma telat 3,5 jam." kata Marsha enteng.


Jeni memijit pangkal hidungnya. Berdebat dengan Marsha hanya akan memperpendek umurnya saja.


Marsha berjalan menuju ruang fitting. Make up artist sudah siap dengan baju di tangannya. Dia tersenyum pada Marsha yang tampak berbeda pagi ini.


"Kenapa terlambat begitu lama Sya?" tanya si make up artist penasaran. "Apa karena menyiapkan sarapan untuk suami lo?"


"Suami?" Marsha mengerutkan dahi.


Tapi, beberapa detik kemudian dia segera sadar kalau dirinya sudah menikah.


"Lo kenapa si?"


"Gue lupa kalau gue udah nikah." jawab Marsha dengan entengnya.


*


*


*


Boy memperhatikan tingkah Marsha sejak dia mengangkat telepon dengan terbalik. Dia juga melihat bagaimana wanita itu masuk ke walk in closet tanpa mandi terlebih dahulu. Bukan itu saja, Marsha bahkan tidak memandang Boy sama sekali dan berjalan keluar begitu saja.


"Apakah aku punya ilmu invisible?" Boy membolak balik tangannya dan membayangkan jika dia memang tidak dapat terlihat oleh orang lain sekarang.


"Wah, kalau Mom Sania tau, dia bukan hanya sakit jantung seperti Mom Lee, tapi juga asam urat dan darah tinggi." Boy lagi-lagi bermonolog dengan dirinya.


Dia bangun dari ranjang, lalu membereskan sprei Marsha yang berantakan. Fakta baru lagi mengenai Marsha Lee yang Boy dapatkan. Di balik kecantikan wanita itu, ternyata Marsha tidak bisa bangun pagi, jarang mandi dan juga berantakan.


'Duk' ponsel Marsha terjatuh ketika Boy mengangkat bedcover Marsha.


Boy akan menambahkan di listnya jika Marsha itu ceroboh.


Ponsel Marsha berdering. Boy enggan untuk mengangkat atau bahkan melihat siapa yang menelepon. Dia tetap asyik membereskan ranjang Marsha. Tapi, ponsel itu berdering beberapa kali. Akhirnya Boy menyerah dan mengangkatnya.


"Ya mom.." jawab Boy ramah. Ternyata itu telepon dari Ny.Lee.


"Lho, mana Marsha?"


"Marsha sedang ada kerjaan Mom, dan ponselnya tertinggal."


"Ya ampun.. anak itu.. pasti dia lupa untuk antar Mom check up." keluh Ny.Lee. Ini bukan pertama kali Marsha lupa jadwal check up nya. Karena itu Ny.Lee lebih senang untuk meminta Juna menemani dia.


"Jam berapa Mom?"


"Jam 2, Boy."


"Oke, nanti Boy yang antar kan Mom." "Boy antar ponsel ini dulu ke Marsha."


"Astaga, aku memang tidak salah memilih menantu. Makasih Boy." ucap Ny.Lee dengan nada sumringah.


Setelah selesai menelepon, Boy membuka laptopnya. Dia harus melakukan sesuatu pada handphone Marsha sebelum mengembalikan itu pada pemiliknya.


'Done..' dalam waktu singkat, Boy sudah berhasil meretas ponsel Marsha. Dia menyalin jadwal Marsha dan juga memasangkan GPS pada ponselnya.