You're My Boy

You're My Boy
Honeymoon 4- Aurora



"Terimakasih karena sudah menemani kami hari ini." ucap Boy dengan sopan pada wartawan yang tampak sudah kelelahan mengikuti mereka.


"Saya yang mengucapkan terimakasih karena anda dan Marsha sudah mengijinkan kami untuk meliput. Ternyata anda baik sekali, Boy."


Ya, wartawan tadi sangat senang karena Boy memberikan mereka beberapa botol wine yang sangat mahal.


Marsha masuk ke kamar lebih dulu, karena dia tidak tahan dengan pujian yang diberikan untuk Boy. Dia juga sangat lelah setelah seharian jalan-jalan ke beberapa lokasi.


Marsha sudah meminta pihak hotel untuk menyiapkan jacuzzi di kamar. Jadi, Marsha bisa langsung berendam sekarang. Marsha melepas kaos polo dan celana jeansnya, hingga hanya menyisakan tank top dan celana street selutut. Dia mengikat rambutnya, dan menyalakan musik instrument, sebelum masuk ke jacuzzi.


"Ini sangat nyaman.." ucapnya pada diri sendiri. Dia mulai berendam sambil menikmati view di luar jendela yang sudah mulai gelap. Pihak hotel bilang, hari ini akan muncul aurora Borealis dan, mereka dapat menyaksikan dari kamar.


"Hey, kenapa berendam sendiri?" tanya Boy yang baru saja masuk.


"Ijinkan aku menikmati hidup ku sebentar saja, Boy." kata Marsha tanpa menengok pada Boy.


Boy tersenyum licik. Mana mungkin dia akan membuat hidup Marsha tenang. Sejak tadi Marsha mencubit, menjambak, dan menginjak kaki Boy. Boy juga melepas pakaiannya dan hanya mengenakan boxer saja. Dia masuk ke dalam jacuzzi dengan tiba-tiba membuat air di dalam menciprat ke mana-mana.


"Booooy.. bisa ga sih pelan-pelan." teriak Marsha heboh.


Boy tertawa puas. Semakin Marsha jengkel, Boy akan semakin senang. Boy membuka botol wine yang tadi di belinya, lalu menuangkan pada gelasnya.


"Kenapa minum sendiri?"


"Kamu ingin mengulang kejadian lalu?" Boy mengingatkan Marsha pada kejadian di club. Sebenarnya Boy tidak masalah jika wanita itu mabuk, karena mereka sudah sah menjadi suami istri. Tapi yang Boy takutkan jika Marsha mabuk, dia akan mengamuk dan melemparnya dengan vas bunga.


Marsha mengurungkan niat untuk mencicipi wine milik Boy. Dia tidak akan terjebak lebih dalam dengan pria itu. Pernikahan ini hanya pernikahan bisnis. Ya, Marsha tahu jika Ny.Lee tidak akan dengan mudah menikahkan dia dengan Boy. Pasti ada alasan di balik itu semua. Apalagi jika bukan untuk urusan besar keluarga Lee dan Setiawan.


"Boy, coba lihat.." ekspresi Marsha berubah ketika cahaya hijau mulai muncul dan membentuk seperti tirai.


"Ya, aku sudah lihat." saat ini Boy sedang memandang leher jenjang Marsha yang mulus. Boy cukup normal ketika melihat penampilan istrinya yang menggunakan pakaian ketat dan sedikit terbuka.


"Aish.Bukan aku, lihat di depan." Marsha memukul pelan lengan Boy yang kepergok menatap Marsha tanpa berkedip.


Boy menengok dan menyaksikan pemandangan luar biasa. Aurora Borealis. Itu begitu cantik dan luar biasa indah. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan pemandangan itu selain kata wow, daebak, atau amazing.


"Warnanya persis dengan rambut mu." kata Marsha geli.


"Berarti aku begitu mempesona, bukan?"


"Cih.Mempesona dari hongkong?" elak Marsha.


"Wajahmu memerah." goda Boy.


Marsha memegang kedua pipinya dengan tangan.


"Ini karena kepanasan, bambang." protesnya.


"Setelah pulang nanti, kita akan tinggal di mana?" tanya Marsha mencoba mengalihkan pembicaraan.


Boy sampai lupa. Selama ini dia tinggal di rumah Bayu Sania karena Boy memang tidak berencana menikah dalam waktu dekat. Sekarang, dia sudah menikah. Boy tidak mungkin membawa mereka ke rumah Bayu, karena di sana ada Jessica yang selalu mencari ribut. Dia juga tidak mungkin tinggal di rumah Ny.Lee karena tidak mau bersitegang dengan wanita yang tampak cerewet itu.


"Aku perlu beli rumah dulu." ucap Boy akhirnya. "Kamu ingin yang seperti apa?"


"Atau kita tinggal di apartemen ku dulu?" tawar Marsha.


"No." tolak Boy mentah-mentah.


Boy mengambil ponselnya, dan membuka website beberapa agen properti yang menjadi rekan bisnisnya. "Pilih saja yang kamu mau sekalian dengan interiornya."


"Ide bagus." Marsha mengambil ponsel Boy dengan senang hati. Ini waktunya dia balas dendam dengan Boy dengan mencari rumah yang paling mahal.


"Oh iya, bagaimana dengan Bear?" tanya Boy yang tiba-tiba teringat bodyguard Marsha.


"Dia akan tetap ikut bersama ku."


Boy terdiam sesaat. Ken cukup mencurigakan untuk bisa di bilang Bodyguard. Dia lebih seperti baby sitter Marsha yang selalu menempel ke mana-mana. Bahkan untuk urusan makanan pun, Ken bisa tahu apa saja kesukaan Marsha.


"Kamu tidak takut kalau dia suka dengan mu?"


Marsha tertawa geli. "Haduh, mana mungkin sih.. Ken itu sudah seperti keluarga sendiri. Aku sudah anggap dia sebagai kakak."


"Baiklah, kalau kamu yakin." Boy kembali meminum wine yang tersisa di gelasnya sampai habis.


"Done." Marsha mengembalikan ponsel milik Boy ketika sudah mendapat rumah yang dia inginkan.


"Okey, aku akan urus pembayaran dan barang-barang kita ke sana."


Marsha menatap Boy yang tampak keren karena bisa mengurus semuanya tanpa harus repot. Tapi semua itu hanya sesaat, karena Marsha mencium bau busuk yang menyeruak ke ruangan mereka.


"Boy, kamu kentut ya." Marsha segera keluar dari jacuzzi sambil menutup hidungnya.


Boy tertawa melihat Marsha yang panik.


"Kamu menjijikan! Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti mu." pekik Marsha sambil berlalu dari Boy menuju kamar mandi.


"Bukan kah ini seru, istriku?" teriak Boy dengan wajah yang puas.


***



Penampakan Aurora Borealis