
Boy keluar dari kamar tamu. Semalam dia tidak kembali ke kamar karena dia kecewa pada Marsha. Selain itu, Boy takut tidak dapat mengontrol dirinya karena Marsha selalu sukses membuat Boy panas dingin. Ya, bagi Boy percuma saja jika mereka melakukan hubungan tanpa dasar cinta dan hanya nafsu saja. Dan karena tidak melihat wajah Marsha, Boy merasakan tidurnya begitu nyenyak semalam.
Seperti kebiasaannya setiap pagi, Boy mengambil air putih di meja makan, lalu meminumnya sampai habis. Boy bahkan mengeluarkan suara kesegaran seperti iklan sp**te.
"Pagi yang sangat cerah.." ucap Boy dengan puitis.
'PLAK' Kepala Boy di pukul sesuatu dari belakang.
"Hey,siapa yang bera.." Boy menghentikan ucapannya ketika menengok dan menemukan ibunya berdiri di belakang sambil bercak pinggang.
"Mom!" "Mom kenapa di sini?" protes Boy.
"Kenapa? Apa Mom tidak boleh mengunjungi anak sendiri?" Sania masih bercak pinggang. Sudah lama dia tidak memarahi anaknya itu. Rasanya hidup Sania ada yang kurang sejak Boy tidak tinggal di rumahnya lagi.
"Boleh dong, Mom.." Boy memeluk Sania erat sambil menggoyang-goyangkan badannya mengikuti gaya teletubies berpelukan.
"Ish.. awas Boy." Sania mendorong badan Boy yang lengket. Dia melihat penampilan Boy yang belum mandi dan hanya menggunakan boxer saja.
"Kamu jadi tidak terawat di sini." kritik Sania. Selama di rumah, Boy selalu menggunakan piyama dan tidak pernah menggunakan boxer seperti ini. Dia harus memberitahu Marsha nanti untuk lebih memperhatikan penampilan suaminya.
"Mom, sama siapa ke sini?"
"Jessica. Dia menunggu di mobil karena tidak mau bertemu kamu." kata Sania jujur. Ya, semalam Jessica bilang jika hubungan Boy dengan Marsha kurang baik. Dan Boy juga tidak pulang ke rumah sampai membuat Marsha meneleponnya. Karena itu Sania memaksa Jessica untuk mengantarkan ke rumah Boy pagi-pagi buta. Sekarang, Jessica menunggu di mobil dan memilih tidur ketimbang bertemu dengan Boy.
"Mana Marsha? Apakah di dalam?" Sania menengok ke arah pintu di mana Boy keluar tadi.
"Dia di atas, Mom."
"Lalu, kenapa kamu tidur di situ? Kalian pisah ranjang?" teriak Sania. Dia kembali memukul kepala Boy dengan menggunakan tas nya.
"Sakit, Mom." protes Boy.
"Boy... gimana Mom bisa cepat dapat cucu kalau kalian seperti ini?" Sania menangkap wajah Boy dengan kedua tangannya. Dia sangat gemas dengan anaknya yang cerdas tapi bodoh.
"Mom, Boy bukan anak kecil lagi." Boy melepaskan tangan Sania. Mom nya itu selalu saja memperlakukan Boy seperti anak TK.
"Mom ingin bertemu Marsha." Sania belum melihat menantu nya sejak masuk ke rumah ini. Dia hanya melihat bibi yang bersih-bersih dan memasak di dapur.
"Ya sudah, ayo Mom." Boy menggandeng Sania ke atas.
*
*
*
"Marsha, ayo bangun." panggil Sania. Dia meng goyang-goyangkan lengan Marsha.
"Hmm.. apa sih.. berisik sekali." Marsha menepuk tangan yang menyentuh badannya, lalu dia membalikan badan.
'Mampus gue.' batin Boy. Dia yakin setelah ini akan ada ceramah umum di bawah.
"Sya.." Sania belum menyerah. Kali ini dia menggoyangkan punggung Marsha dengan kuat.
"Boy, pergi saja sana kalau memang sudah tidak menginginkan ku." teriak Marsha kesal.
Sania melotot ke arah Boy. Dia sebenarnya sedang meminta penjelasan pada Boy melalui tatapan matanya itu.
Boy akhirnya bergerak untuk turun tangan. Dia naik ke ranjang, lalu membisikan sesuatu di telinga Marsha.
Marsha terbangun setelah Boy membisikan jika ada mertua berkunjung dan sekarang sedang marah besar.
Marsha bangun dari ranjang. Dia berdiri di samping ranjang sambil menundukkan kepala, seperti anak TK yang sedang di hukum.
"Maaf, Mom. Marsha kesiangan."
'Memang kamu selalu bangun siang.' ucap Boy dalam hati.
"Tidak apa-apa Marsha.. Mom tunggu kalian di bawah ya.."
Sania lebih dulu turun ke bawah. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang sedang di jalani Boy dan Marsha. Mereka tidur di kamar yang berbeda, mereka bangun siang, dan sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda romantis. Tidak seperti dirinya dan Bayu. Mereka masih bisa bersikap romantis meskipun pernikahan mereka sudah berjalan 30 tahun lebih.
Marsha hanya melirik pada Boy sesaat. Dia masih sakit hati karena Boy meninggalkannya begitu saja semalam.
Marsha berjalan keluar dan sengaja menyenggol lengan Boy.
"Lho, aturan kan aku yang marah. Kenapa jadi dia yang marah?" Boy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Booooy.. Marshaaaa" suara Sania terdengar nyaring sampai ke lantai 2.
Boy buru-buru turun ke bawah sebelum Sania mengeluarkan api seperti naga. Dia harus menyiapkan mental supaya kuat menghadapi omelan Mom nya yang cerewet itu.