You're My Boy

You're My Boy
Bertemu mantan 1



Sudah seminggu berlalu setelah kunjungan dari Mom Sania. Boy kembali dalam mode mendiamkan Marsha karena Marsha mengadu pada Sania jika Boy tidak mau menyentuhnya, sehingga Boy di marahi habis-habisan.


Dan kali ini, tampaknya istrinya itu pantang menyerah. Dia selalu bertingkah absurd di depan Boy. Marsha mencoba menggoda iman Boy dari hari ke hari sehingga Boy harus mengalah untuk tidur di sofa. 


“Pak, kenapa anda lesu sekali? Apakah anda tidak dapat jatah dari istri?” Ucap Sarah sambil mengamati wajah Boy yang kurang bersemangat, tidak seperti biasanya. 


‘Jatah? Bahkan sejak menikah aku belum menyentuh istri ku selain menciumnya.’ Batin Boy dalam hatinya.


“Kamu kepo sekali.” Boy memberikan jawaban aman. Tidak lucu kalau Boy menjawab jika Marsha selalu menawarkan diri, tapi Boy menolaknya.


“Lalu, bagaimana? Apakah Bapak bisa meeting bersama dengan Romeo Smith jam 12 nanti?” 


Romeo Smith adalah suami dari Cassie Sebastian alias adik Reno. Boy berpikir sejenak. Dia sangat mengantuk sekarang. Tapi jika dia membatalkan ini, dia tidak enak pada Cassie. 


“Di mana meeting nya?” 


“Restoran korea Share Meat.” 


“Oke, aku akan bertemu dengannya.” Boy harus meninggalkan kursinya yang nyaman. Dia menggunakan kacamatanya, lalu pergi keluar dengan ogah-ogahan. 


Sarah menatap punggung bosnya sambil geleng-geleng kepala. “Kasihan Pak Boy tidak dapat jatah. Pasti dia melakukan sesuatu yang aneh sampai istrinya kesal.” 


(Padahal kebalik yaa..😆😆)


Sementara itu, Boy mengendarai mobilnya dengan sedikit terburu-buru karena dia tidak ingin terlambat. Dia tidak terlalu mengenal Romeo, jadi Boy tidak ingin memberikan kesan jelek pada partner bisnisnya itu pada kerjasama pertama mereka.


Restoran Share Meat tampak sedikit ramai menjelang makan siang. Boy mencari tempat yang kosong di pojok ruangan dekat dengan dapur. Melihat tempat duduk yang tersisa hanya sedikit, pasti restoran ini memiliki makanan yang enak dan pelayanan yang bagus. 


“Boy...” suara itu terdengar tidak asing di telinga Boy. Boy menengok pada sosok wanita cantik yang menggunakan pinafore pink dengan rambut di kucir kuda keluar dari dapur.


“Leana?” Tebak Boy dan pasti tebakannya benar karena wajah Leana tidak berubah sejak dia mengenal wanita itu. 


Leana begitu takjub dengan penampilan pria di depannya. Dia terlihat lebih tinggi, berisi dan juga lebih modis sekarang. Dia sampai terbengong dan tidak sadar jika Boy sedang mengamatinya. 


“Apa kabar,Le?” Tanya Boy canggung. 


“Baik. Kamu sendiri?” 


“Ya, aku juga baik."


"Kamu sendiri?" tanya Leana penasaran.


"Aku sedang menunggu partner bisnis di sini. Emm.. masih setengah jam lagi.” Ucap Boy sambil melihat jam tangannya. 


“Oke, kita bisa mengobrol sebentar.” Leana meminta Boy untuk duduk. Dia sendiri juga duduk di hadapan Boy.


"Kamu semakin tampan saja Boy.." puji Leana yang tidak bosan memandangi wajah Boy.


Boy tertawa mendengar ucapan Leana. 'Istri ku malah bilang kalau aku si rambut hijau jelek.' batin Boy miris.


"Apa kamu pemilik restoran ini?" tebak Boy setelah mengamati penampilan Leana.


"Iya, aku ingin coba usaha baru." "Tunggu sebentar, aku akan siapkan menu spesial untuk mu, Boy." Leana bangkit dari kursinya dan berlari ke dalam dapur.


Boy menatap kepergian Leana dengan tersenyum. Dia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Leana setelah sekian lama wanita itu hilang bak di telan bumi.


Leana Jung adalah wanita yang telah mengambil hati Boy dulu di masa SMA. Ya, Leana adalah mantan sekaligus cinta pertama Boy. Seharusnya mereka bertemu beberapa minggu lalu saat acara reuni, tapi karena Boy pergi ke rumah Ny.Lee, dia pun melupakan Leana.


Boy tidak sabar untuk menantikan Leana kembali dan juga melihat wajahnya lagi. Dia tidak pernah bosan memandang wajah itu.


Pak, maaf.. Tuan Smith baru saja membatalkan janjinya karena sesuatu yang mendesak.


Boy tersenyum. Kebetulan sekali meetingnya batal. Boy jadi bisa mengobrol lebih lama dengan Leana.


*


*


*


Jeni dan Marsha sudah sampai di restoran Share Meat. Mereka datang berdua tanpa Ken. Ken tidak enak badan, jadi Marsha menyuruhnya untuk pulang saja.


"Di mana kita akan duduk?" Jeni menengok untuk mencari tempat yang kosong.


Marsha memandang ke sekeliling. Dia sangat terkejut ketika melihat si rambut hijau di antara banyak nya pengunjung.


"Itu ada suami ku." Marsha menunjuk ke arah Boy.


"Wah, kebetulan sekali.." teriak Jeni senang.


Mereka berjalan mendekat ke meja Boy.


Deg.


Jantung Marsha seolah berhenti ketika dia mendapati Boy duduk di meja bersama seorang wanita. Terlebih wanita itu tidak asing untuk Marsha. Boy tertawa riang sambil bertukar cerita dengan Leana.


Jeni merasakan sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi. Dia sangat ingin kabur, tapi Marsha lebih dulu menarik Jeni untuk mendekat.


"Ehem." Marsha berdehem.


Boy terperanjat ketika Marsha sudah berdiri di sampingnya.


"Marsha.." Leana berdiri untuk cipika cipiki dengan Marsha.


"Apakah kami boleh bergabung di sini?" Marsha berusaha tersenyum pada Leana.


"Duduklah.. ini sangat kebetulan. Hari ini aku bertemu dengan mantan dan juga teman kuliah ku." ucap Leana senang.


Marsha mengambil duduk di sebelah Boy, sedangkan Jeni duduk di sebelah Leana. Marsha menatap tajam Boy yang masih shock dengan kehadirannya.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Leana yang memperhatikan Boy-Marsha sedang berpandangan.


"Tidak."


"Iya."


Marsha dan Boy menjawab secara bersamaan. Boy menjawab iya, sedangkan Marsha menjawab tidak.


Leana bingung dengan jawaban yang berbeda dari keduanya.


"Maksudnya, aku tahu pria ini, tapi kami tidak dekat." jawab Marsha sambil melengos dari Boy.


"Oooo.. apa kamu sedang makan siang?" tanya Leana mengubah topik pembicaraan supaya tidak canggung.


"Iya.. kami berdua kebetulan syuting iklan di dekat sini. Jadi kami mampir untuk makan." "Yah, kebetulan sekali aku bisa bertemu kamu dan juga mantan mu." Marsha menekan kata mantan sambil memandang sinis ke arah Boy.


Jeni sudah tidak berani bicara. Dia tahu Marsha sedang sedih, marah, dan kecewa. Meskipun Marsha tersenyum, itu sudah terlihat jelas dari nada dan cara dia bicara.