You're My Boy

You're My Boy
Menuduh Marsha



Rumah Sakit Husada


Leana sudah tertidur karena di beri obat penenang. Jessica langsung menodong Boy untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi. Leana tidak menggunakan pakaian dan dia berteriak-teriak seperti orang gila.


"Kenapa Leana, Boy?" tanya Jessi yang juga menangis ketakutan. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Jessi sendiri.


"Pria itu.." Boy tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia begitu kesal ketika mengingat wajah pria yang dia hajar tadi. Dia sudah melecehkan Leana, tapi tampak begitu santai dan tidak merasa bersalah. Boy juga memikirkan kemungkinan Marsha terlibat dalam urusan ini.


"Kamu tunggu Leana dulu. Aku ingin bertemu dengan Marsha." "Aku sudah menyewa Jo untuk menjaga mu di depan."


"Boy.. tapi.." suara Jessica menghilang karena kakaknya sudah pergi lebih dulu. "Kenapa sampai menyewa Jo? Apa segitu bahaya kah?" Jessica melanjutkan ucapannya meski tidak ada yang mendengar.


"Selamat sore nona." Seorang pria berpenampilan seperti Ken masuk ke dalam. Bedanya pria itu jauh lebih ramah dan manusiawi ketimbang Ken.


"Hai Jo." ucap Jessi singkat.


Jessica duduk dalam kebingungan nya. Sejak keluar dari gudang, Boy tidak mengucapkan apapun. Siapa yang menculik Leana?


Telepon Boy berdering. Boy ternyata lupa membawa ponselnya.


Sam calling..


"Halo Sam, ini Jessica..Ponsel Boy tertinggal di sini.." Jessi nekat menjawab telepon dari sohib Boy yang juga bekerja di rumah sakit ini.


"Oh.. tadi Boy minta aku untuk mencari data seseorang." "Ya sudah, nanti saja."


"Tunggu Sam." tahan Jessi.


"Apa ini soal orang yang menculik Leana?" tanya Jessi hati-hati.


"Iya, bagaimana kamu tau?"


"Jadi, informasinya bagaimana? aku juga perlu tau karena aku ada di tempat kejadian." Jessica berharap Sam memberitahu tentang identitas orang yang menculiknya.


"Dia adik dari Marcellino." kata Sam setengah berbisik.


"Maksud mu, Maxmillian?" pekik Jessi terkejut.


"Ya, kenapa kamu begitu kaget? Apa kamu kenal mereka?"


Jessi merasa kepalanya berputar. Dia sungguh perlu mencerna semua ini dengan baik.


"Jess.." panggil Sam. "Jessica.." "Jessica Setiawan.."


'Tut.. tut.. tut..'


Jessica mencoba menata kembali reka ulang kejadian tadi siang dalam otaknya. Marcel dan Max adalah kakak beradik dari keluarga Scotts. Jessi mengenal baik nama Marco karena dia adalah mantan pacar nya. Mereka baru saja putus 2 minggu yang lalu. Dan selama itu Marco selalu men teror Jessi. Marco tidak terima dirinya putus dengan Jessi dan selalu mengikuti Jessi ke manapun dia pergi. Hal itu lah yang membuat Jessi takut dan akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Boy.


Jadi, apakah Marco menyuruh Max mengikuti nya? Tapi kenapa Max malah menculik Leana?


*


*


*


Boy masuk ke dalam kamar. Dia menarik tangan Marsha yang sedang berbaring di ranjang.


"Sayang.. kamu kenapa?" Marsha merasakan perubahan pada sikap Boy yang sangat kasar menarik tangannya.


"Aku tau, kamu tidak suka Leana, tapi jangan begini caranya Mars." bentak Boy dengan suara 3 oktaf dari biasanya.


"Maksud kamu apa, Boy?" Marsha terkejut sekaligus bingung kenapa Boy sebegitu marahnya.


"Orang yang kamu suruh itu sudah menodai Leana."


"Maksudnya bagaimana Boy? Bicara yang jelas. Leana kenapa? Orang suruhan siapa?" Marsha makin bingung karena tiba-tiba Boy membahas hal yang dia tidak tau sama sekali.


"Aku benar-benar kecewa sama kamu Marsha." Boy tampaknya tidak tertarik untuk menjelaskan pada Marsha. Dia sudah terlanjur kecewa pada wanita yang di depannya itu.


"Boy,, kamu datang marah-marah dan menuduhku tidak jelas seperti ini. Harusnya aku yang kecewa sama kamu." Marsha balik memarahi Boy.


"Aku tau semua tentang kamu, Mars. Kamu bahkan menyewa orang untuk memotong kabel rem kekasih Juna. Kamu sewa orang untuk mencelakai Megan, dan sekarang.. karena kamu, Leana jadi celaka." Boy membuka masa lalu Marsha yang dia dengar dari Samuel beberapa waktu lalu.


"Apa kamu bilang?" Marsha sudah tidak dapat membendung air matanya lagi ketika Boy mengungkit kesalahannya dulu. Memang Marsha terlalu over protektif dengan Juna. Dia tidak mau kehilangan Juna. Tapi tuduhan Boy tentang Leana membuat Marsha begitu sakit hati.


Melihat Marsha menangis, Boy sedikit meredam emosinya. Dia sadar jika sudah berbicara terlalu keras pada Marsha. Boy menangkap wajah Marsha, tapi Marsha segera menepis tangan Boy.


"Mars.."


"Leana.. Leana.. aku sudah muak Boy." "Terserah kamu jika menuduhku melakukan itu." "Biar saja dia yang di sini, dan aku yang pergi."


Marsha berjalan ke walk in closet, mengambil dengan asal pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper. Dia lalu berjalan melewati Boy yang masih terdiam di tempatnya.


Boy yang tersadar, menahan tangan Marsha.


"Mau ke mana kamu? Urusan kita belum selesai."


"Aku akan pergi dari sini. Minggir." Marsha lagi-lagi menepis tangan Boy.


"Marsha Lee. Aku akan sangat marah kalau kamu sampai keluar dari kamar ini." teriak Boy.


Marsha berhenti. Dia menengok ke arah Boy yang masih terlihat emosi.


"Aku tidak peduli, Boy. Pikirkan saja Leana." "Atau jadikan saja dia istrimu sekalian." ucap Marsha sambil tersenyum sinis.


"Marsha!" Boy kembali memanggil Marsha, tapi Marsha tetap pergi tidak mempedulikan Boy lagi.