You're My Boy

You're My Boy
Marahan



Ketika bangun, Marsha tidak melihat Boy di kamar. Dia mengecek ke kamar tamu, ruang makan, ruang kerja dan Boy tidak ada juga.


"Ken, apa kamu lihat Boy?" tanya Marsha sambil merebahkan diri di sofa.


"Tuan Boy sudah berangkat, nona."


Marsha melihat jam tangannya, masih jam 6 pagi. Ini aneh sekali. Tidak biasanya Boy pergi sepagi ini. Dan dia juga belum sembuh dari alergi nya.


Marsha menelepon Boy untuk memastikan keberadaan suaminya. Telepon berdering, tapi tidak diangkat. Marsha mengulangi lagi dengan perasaan cemas. Pada dering ketiga, baru telepon Marsha di angkat oleh Boy.


"Boy, kamu di mana?"


"Kantor."


"Apa badan mu sudah sehat?" tanya Marsha khawatir.


"Sudah."


"Kenapa jawabnya singkat-singkat?"


"Lalu aku harus jawab apa?" ada nada kesal dalam ucapan Boy.


"Ya sudah lah.. apa kamu akan pulang cepat nanti malam?"


"Belum tau."


Tut.. tut.. Boy langsung mematikan ponselnya dan membuat Marsha begitu kesal. Dia sudah merendahkan diri untuk menelepon Boy lebih dulu, tapi dia malah mendapatkan sikap dingin dari Boy.


"Apa Tuan Boy masih marah?" Ken memberanikan diri untuk bertanya pada Marsha.


"Sepertinya begitu.. Padahal aku ingin belajar untuk menerima nya." Marsha menarik nafas panjang. Ada rasa kecewa dalam kata-kata yang baru di ucapkan. Memang tindakan Marsha kemarin keterlaluan, tapi itu karena Jessica tidak memberikan informasi yang jelas. Marsha juga tidak akan secara sengaja mencelakai suaminya sendiri.


"Ken, beri aku saran.. Bagaimana aku harus meminta maaf pada Boy?" Marsha menatap Ken. Dia satu-satunya orang yang dapat Marsha andalkan untuk menjadi teman curhat.


"Emm.. bagaimana kalau anda makan malam dengan Pak Boy?" saran Ken.


Dulu, Marsha sering sekali mengajak Juna makan malam. Tapi ketika bersama Boy, Ken jarang melihat mereka makan berdua.


"Ide bagus. Kamu siapkan makan malam di pinggir kolam renang ya Ken." Marsha beranjak dari kursinya.


"Anda mau ke mana, nona?" Ken menahan tangan Marsha.


"Aku ke salon dulu." ucap Marsha sambil tersenyum. Sudah lama juga Marsha tidak merawat diri. "Aku sendiri saja, Ken.. kamu siapkan dengan baik untuk nanti malam."


Marsha melenggang pergi. Dia harus bersiap untuk menjalankan rencananya nanti malam. Kali ini dia memikirkan rencana yang baik dan Boy pasti menyukainya.


*


*


*


"Lo cantik banget sih say..Kalau gue jadi cowok, juga gue udh jatuh cintrong sama you." kata capster yang menangani rambut Marsha.


"Ya, itu yang tampak di luar." kata Marsha sambil tersenyum miris. Pada kenyataannya, Marsha selalu saja mengemis cinta dari para pria. Dulu, Juna Liem dan sekarang Boy Setiawan yang notabene suami sendiri. Boy bahkan sudah melihat seluruh badan Marsha, tapi tidak terjadi apapun di antara mereka.


"Apa ada perawatan yang lain?" tanya capster itu lagi. Marsha memandang dirinya pada cermin. Dia menata kembali rambut nya yang di curly. "Ini sudah sempurna. Thanks ya.."


'BRUK' Ketika berbalik, Marsha menabrak seseorang yang akan duduk di sebelahnya.


"Lo gi..." Marsha sudah ingin melayangkan protes, tapi ucapan terhenti ketika melihat orang di depannya.


Wanita itu mempunyai badan yang bagaikan gitar spanyol. Dia juga memiliki kulit putih susu dan wajahnya blesteran korea juga.


"Marsha!" wanita bernama Leana itu juga berteriak menyebut nama Marsha.


Marsha dan Leana langsung berpelukan setelah momen kaget-kaget an.


"Kapan Kamu kembali dari Korea?" ucap Marsha memulai pembicaraan. Leana adalah teman sekolah Marsha sewaktu mereka menempuh pendidikan di Amerika. Dia juga keturunan Korea dengan marga Jung.


"Sudah 6 bulan yang lalu. Aku buka usaha di sini."


"Wah, kenapa tidak kasih tau?"


"Sorry.. namanya juga mendadak." "Ku dengar kamu sudah menikah?" tanya Leana penasaran.


"Ya, aku sudah menikah.. nanti kapan-kapan aku kenalkan suami ku."


"Baiklah..Ajak suami mu ke restoran ku." Leana memberikan kartu namanya pada Marsha.


"Oke, aku jalan dulu.. aku mau makan malam bersama suami ku." Marsha sekali lagi memeluk Leana sebagai tanda perpisahan.


Leana duduk di kursi, sedangkan Marsha bersiap untuk pergi.


"Ya...Boy.. apakah bisa bertemu nanti malam?"


Marsha mendengar samar-samar suara di belakangnya. Apakah Leana baru saja menyebutkan nama Boy? Tapi bagaimana mungkin Leana kenal dengan Boy? Dan nama Boy juga banyak. Mungkin dia sedang bicara dengan pacarnya. Marsha meredam rasa penasaran nya karena dia harus kembali ke rumah sekarang.


*


*


*


Sementara itu di kantor, Boy kembali membaca pesan dari Marsha berulang kali. Marsha mengajaknya makan malam? Apakah wanita itu salah minum obat? Atau Marsha menyesal karena sudah membuat alergi Boy kumat?


"Pak, ada yang menelepon.." Sarah masuk ke dalam dengan membawa ponsel kantor.


"Siapa?"


"Namanya.. Le.. Le.. Leana.." jawab Sarah yang lupa dengan nama orang yang menelepon Boy. Nama Leana cukup asing bagi Sarah.


Boy terperangah mendengar nama itu. Dia segera mengambil ponsel kantor dan menyuruh Sarah keluar.


"Halo, apakah ini Leana Jung?" tanya Boy penasaran.


"Ya..." "Boy.. apakah bisa bertemu nanti malam?"


"Wah, kenapa tiba-tiba mengajak bertemu? Apakah kamu di Indonesia?"


"Nanti kita bicara.." "Ada acara reuni di restoran ku. Aku tunggu jam 7 malam ya.."


Leana Jung. Nama itu kembali muncul dalam benak Boy. Sudah lama sekali sejak mereka tidak bertemu. Bagaimana keadaan Leana sekarang?


Boy tersenyum kecil saat mengingat kisahnya bersama Leana.


*


*


*


Visual Leana Jung