
Boy sudah sampai di rumah mewah kediaman Setiawan. Rumah bergaya Eropa itu adalah rumah ternyaman untuk Boy, tapi kali ini Boy enggan untuk masuk ke dalam. Boy sudah menebak kalau Bayu dan Sania pasti sudah tahu tentang gosipnya dengan Marsha.
'Kenapa gue jadi tegang gini sih? Ini kan cuma gosip. Mereka pasti mengerti.' ucap Boy dalam hati sebelum membuka pintu rumah.
"Siang, mom ku yang cantik.." sapa Boy dengan ramah. Dia memeluk Sania yang sudah menunggunya di ruang tengah. Sania yang biasanya senang mendapat pelukan dari Boy, kini diam tidak menunjukan ekspresi.
"Hai, Daddy.. Dad kelihatan lebih muda." puji Boy pada Bayu yang sedang duduk sambil menatap ponselnya.
"Sudah Boy, sia-sia kamu rayu mereka." seorang wanita dengan rambut bewarna biru terang menginterupsi Boy.
"Diam kamu anak kecil." Boy menjitak kepala wanita yang duduk tak jauh dari orang tuanya. Dia adalah adik Boy yang bernama Jessica.
"Sini duduk, Boy." Bayu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Boy menurut dan duduk di sebelah Bayu. Mereka keluarga yang cukup humoris, jadi untuk berbicara serius seperti ini, suasananya tampak sedikit canggung.
"Mom, Dad dan Jessica sudah baca artikel tentang kamu dan anak dari Ny.Lee." Bayu memulai ceramahnya. "Dad tahu, kamu itu sedikit playboy dan berjiwa bebas. Tapi, kenapa kamu sampai lakukan itu?"
"Bukan sedikit, Dad.. tapi memang playboy." Ucap Jessica geli.
"Jess, diam dulu." potong Sania.
"Boy tidak melakukan apapun, Dad." ucap Boy dengan tegas.
"Boy, Dad tidak pernah ajari kamu untuk berbohong. Cukup akui saja.."
Boy mengusap wajahnya dengan kasar. Semua orang saat ini mencurigai dirinya. Fotonya saat membawa Marsha ke kemar hotel menjadi bukti kuat bagi mereka untuk menuduh Boy.
"Dad, kalau di ruangan hotel itu di pasang CCTV, Dad baru akan percaya kalau Boy ini jujur." ucap Boy pasrah.
"Bohong, Dad. Boy oppa harus di coret dari kartu keluarga, karena sudah mencoreng nama baik keluarga." timpal Jessica lagi.
Sania mengangguk setuju.
"Mom!" protes Boy.
"Sudah diam." kata Bayu tegas. "Jessica benar, Boy. Kamu sudah membuat nama baik keluarga ini rusak."
Keluarga Setiawan memang mempunyai reputasi yang baik di negara ini. Mereka terkenal sebagai keluarga yang harmonis, rendah hati dan juga jauh dari gosip.
"Oh, come on Dad.. Dad tau sendiri kan, nanti gosipnya juga hilang sendiri."
"Tidak bisa begitu, Boy. Kasihan Marsha." sambung Sania. Dia punya anak perempuan dan dia pasti akan sangat shock jika gosip itu menimpa anaknya sendiri.
"Mom tidak kasihan sama Boy?"
"Kasihan kamu bilang?" Sania menjewer salah satu telinga Boy.
"Awww" Boy berteriak kesaktian. Dia memegang tangan Sania supaya melepaskannya.
"Terus mom.." Jessica mengompori Sania sambil bersorak.
Bayu menghela nafas panjang melihat kelakuan keluarganya yang begitu ceria. Bahkan di saat ada masalah berat pun mereka masih bisa melawak.
"Ayo semuanya, kita pergi ke rumah Ny.Lee." teriak Bayu sambil menepuk nepuk kedua tangannya seperti guru TK yang sedang mengumpulkan muridnya.
Kegiatan 3 orang itu berhenti ketika kepala keluarga mereka sudah memberikan tanda peringatan.
"Ayo, kita selesaikan masalah ini." Sania mencengkram tangan anaknya supaya tidak kabur.
"Gak mau, Mom. Boy baru saja dari sana." tolak Boy mentah-mentah. Boy yakin pada kunjungan yang kedua, Boy akan bernasib seperti Ken.
Sania tetap menyeret Boy dibantu oleh Jessica. Bayu sekali lagi hanya mampu menghela nafas panjang. Akhirnya dia juga membantu istri dan anak perempuannya untuk mendorong Boy dari belakang.
*
*
*
Welcome back to Istana Lee.
Kehadiran Bayu Setiawan dan keluarganya di sambut dengan cukup baik oleh Nyonya Lee. Mereka cipika cipiki di depan pintu, lalu Ny. Lee mengantar mereka untuk duduk di ruang keluarga.
Ny.Lee dan Marsha duduk bersebelahan, sedangkan Ken berdiri di belakang mereka. Di depan mereka, Bayu Sania dan Jessica juga duduk besebelahan, sedangkan tersangka utama duduk di tengah.
"Sebelumnya saya minta maaf karena pertemuan kita harus terjadi dalam situasi yang kurang menyenangkan seperti ini." Bayu memulai pembicaraan.
"Saya mau tanyakan pada dia." Ny. Lee menunjuk ke arah Boy menggunakan tongkat di tangannya.
"Kenapa bawa anak saya ke hotel?"
"Karena saya tidak mungkin membawa dia ke pantai." jawab Boy dengan cukup tenang.
Sania dan Jessica berusaha menahan tawa mereka. Mereka saling menyenggol tangan satu sama lain. Bayu melirik ke arah mereka dan memberi kode supaya mereka menjaga sikap.
"Jadi, kami ke sini untuk minta maaf, mungkin ada kesalahan pahaman di antara anak kita." lanjut Bayu.
"Jadi, apakah dengan minta maaf semua akan selesai begitu saja?" kata Ny.Lee kesal. Dia sudah terlalu banyak menerima komplain dari beberapa rekan bisnisnya pagi ini.
"Betul. Karena semua bukan salah saya, kan. Kalau memang Marsha pergi ke club itu karena dia stress telah ditinggal menikah oleh mantannya. Dia juga banyak makan dan kalau dia gendut itu bukan kemauan saya. Saya hanya menolong Marsha saja. Jadi, korbannya itu justru saya." jelas Boy dengan lantang dan bersemangat.
Semua menengok dengan pandangan membunuh, tidak terkecuali Ken.
Marsha hampir saja melemparkan sandalnya pada Boy. Tapi dia urungkan karena memandang ada Bayu dan Sania.
"Kenapa rumit sekali.." ucap Ny.Lee sedih.
"Nyonya.. mari kita bicara dulu di sana." Bayu mengajak Ny.Lee untuk berunding di ruangan lain, di mana keadaan akan lebih tenang.
Sania mengikuti suaminya untuk pergi menjauh dari anak-anak mereka.
Hai.. Hai.. author mau spill visual yak.. biar makin lancar imajinasinya..
Boy
Marsha
Ken
Jessica