
Boy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap barang-barang yang di beli oleh Jessica yang tampak seperti akan pindahan. Boy bahkan sampai membayar pegawai mall untuk membawakan barang bawaan adiknya.
"Jess.. kenapa lo beli barang begini banyak si?" tanya Boy dengan gaya informal nya.
"Boy, aku hanya membuang stress saja." Jessica merangkul lengan Boy dengan manja.
"Kalau mau buang stress, harusnya kamu berobat ke rumah sakit jiwa." Boy mentoyor kepala Jessica yang menyebalkan itu.
"Memang kakak ga punya akhlak." ucap Jessica sebal.
"Ya, kamu juga adik tidak berakhlak." balas Boy.
Boy menahan Jessica yang ingin melangkah masuk ke sebuah outlet tas. Jika membeli beberapa barang lagi, Boy yakin Dad Bayu akan memblokir semua ATM milik Jessica.
"Sudah, Jess.. kita pulang saja.." ajak Boy.
"Yah, baru juga 5 jam. Kamu payah Boy."
Boy kembali mentoyor Jessica. Wanita yang notabene adiknya itu memang shoapholic. Dia membutuhkan banyak sekali waktu dan juga uang untuk berbelanja. Jessica bahkan pernah berbelanja ke mall selama 10 jam dan menghabiskan uang sebanyak 1 Miliar. Jika tidak di stop, maka Jessica tidak akan berhenti dan pulang. Lagipula, Boy sudah terlalu lama meninggalkan Marsha. Dia sangat rindu pada istrinya itu.
"Oh iya, Boy. Apa tadi Leana tadi ke rumah mu?" tanya Jessica yang teringat Leana.
Boy menghentikan langkah nya tiba-tiba. Dia jadi ingat tentang Leana yang datang ke rumah mereka dan hampir mengacaukan mood Marsha.
"Jess.. kamu sudah membuat kesalahan yang besar."
"Lho, kenapa? Bukan kah kalian sudah lama putus?" tanya Jessica bingung.
"Iya, tapi aku tidak ingin membuat istri ku marah."
"Yaelah lebay banget lo, Boy." "Kenapa Marsha cemburu? Dia jauh lebih cantik dari Leana."
"Ya, intinya kamu jangan terlalu sering bergaul dengan Leana. Mengerti?"
"Iya,, iya.." akhirnya Jessica mengalah daripada banyak berdebat dengan Boy. Hubungan Jessica dengan Leana sejak dulu memang terbilang dekat. Leana begitu baik sehingga Jessica sangat menyukai nya. Sayang, Boy harus putus dengan Leana karena LDR. Jika tidak, sudah di pastikan Leana lah yang akan menjadi istri Boy sekarang.
*
*
*
"Sayang kenapa kamu lama seka...." Marsha yang menyambut Boy langsung terdiam ketika Boy masuk bersama Jessica.
Jessica melotot melihat penampilan Marsha yang berdiri mematung di depan pintu. Masalahnya penampilan Marsha begitu menggoda dengan lingerie hitam yang tipis.
"Hay, Jess." sapa Marsha kaku.
"Siapa yang menyuruh mu keluar kamar seperti ini?" bukannya senang, Boy malah membentak Marsha. Dia melepaskan hodie nya, lalu memakaikan pada Marsha. Apa jadinya kalau Ken sampai melihat Marsha seperti ini? Apa Marsha lupa kalau di rumah ini ada Bibi dan Ken?
Jessica cekikikan dengan momen canggung ini. Pantas saja Boy minta untuk cepat pulang. Ternyata Marsha memang menggoda iman.
"Jess, kamu sudah tau kamarnya kan?" tanya Boy pada adiknya.
"Kamar, maksudnya?" Marsha kebingungan dengan percakapan Boy-Jessica.
"Jessica akan menginap di sini untuk beberapa minggu."
"Eonni,, aku janji aku tidak akan mengganggu kegiatan kalian. Kalian anggap saja aku tidak ada." Jessica meraih tangan Marsha dengan wajah memelas.
"Tapi, kenapa tiba-tiba ke sini?" Marsha bukannya tidak mau Jessica tinggal di sini, tapi dia penasaran kenapa adik Boy tiba-tiba meminta tinggal di rumahnya.
"Mom and Dad sedang pergi keluar negeri untuk liburan, jadi aku takut sendirian di rumah." "Nanti kalau aku di culik, kalian pasti akan sangat sedih." ucap Jessica sambil menunduk.
"Hey, bocah.. tidak ada yang mau menculikmu karena kamu itu menyusahkan dan berisik." omel Boy. Dia memutuskan membawa Jessica ke rumah bukan tanpa alasan. Ya, selama pembicaraan mereka di mobil, Jessica menceritakan masalahnya belakangan ini. Akhirnya Boy memutuskan untuk membawa Jessica ke rumah supaya Jessica lebih aman.
"Oke,, santai saja Jess.. di bawah ada Ken, jadi kamu pasti aman." Marsha menepuk pundak Jessica.
"Ayo sayang. Kita naik ke atas." setelah menyelesaikan semua, Boy menggendong Marsha ke atas.
*
*
*
"Biiiii.." Teriak Jessica nyaring.
Seseorang keluar, tapi bukan bibi yang datang, melainkan bodyguard Marsha yang muncul menghampiri Jessica. Dia berpenampilan acak-acakan dengan kaos oblong yang memperlihatkan otot-otot di lengannya.
"Anda tidak tau ini jam berapa?" omel Ken.
"Jam 11 malam." jawab Jessica polos sambil menatap jam tangan mewahnya. "Ken, bantu aku turunkan barang-barang di mobil."
"Untuk apa?"
"Aku akan tinggal di sini bersama Boy oppa." Jessica memberikan kunci mobilnya pada Ken, sementara dirinya pergi ke kamar tamu.
'Astaga.. cobaan apalagi ini.' batin Ken sedih. Setelah harus merelakan Marsha, kini Ken harus menghadapi satu wanita manja yang menyebalkan seperti Jessica.
"Halo, Le.. Aku tidak di rumah, aku di rumah Boy..Apa kamu ke rumah?" "Besok saja kita bertemu." Jessica terlihat sedang menelepon seseorang sewaktu Ken membawakan belanjaan Jessica ke kamar.
'Apa dia baru saja bicara dengan Leana? Apakah hubungan Leana sedekat itu dengan Jessica?'
"Ken,, kamu ngapain sih.. Kamu nguping ya?" Jessica menutup ponselnya dengan tangan karena Ken bergerak mendekat ke arahnya.
Ken berdehem, lalu dia kembali pada posisinya untu berdiri tegak di samping Jessica. Karena rasa penasaran, tadi Ken sampai tidak sadar jika sudah berada di samping wajah Jessica.
"Saya hanya ingin bilang kalau semua sudah beres, nona." ucap Ken tenang. Padahal dalam hati dia memaki kebodohannya sendiri yang tertangkap basah oleh Jessica sedang menguping.
"Thanks. Sekarang cepat pergi." "Jangan lupa tutup pintunya." Jessica mengusir Ken terang-terangan.
Ken yang tidak ingin berlama-lama bersama gadis aneh itu, pergi dengan senang hati. Dia juga tidak lupa untuk mebanting pintu kamar Jessica dengan cukup kuat.
"Dasar bodyguard kurang ajar." Pekik Jessica. Dia tidak peduli jika Ken mendengarkannya.