
Marsha menutup pintu kamar Ny.Lee dengan hati-hati. Dia baru saja menenangkan Mom nya karena Mom nya sangat terpukul dengan sikap Boy. Ny.Lee setuju untuk menyembunyikan Marsha sementara waktu dan dia tidak akan memberitahu siapapun soal keberadaan Marsha.
"Nona,," Ken datang dan memberikan secangkir teh hangat untuk Marsha. Marsha mengambil cangkir itu dari Ken, lalu dia berjalan ke balkon.
"Ken, Mom memberi ku pilihan yang sulit." Ucap Marsha sambil memandang ke langit.
"Apa itu, Nona?" tanya Ken penasaran.
"Mom bilang aku harus berhenti dari dunia hiburan, atau menceraikan Boy."
Ken menengok ke arah Marsha. Dia ingin bersorak saat ini juga karena peluang mendapatkan Marsha semakin besar. Tapi, di satu sisi, Ken merasa sedih melihat Marsha yang sedih seperti ini.
"Aku baru saja mencintai dia,, tapi kenapa sekarang malah seperti ini." lanjut Marsha yang akhirnya kembali menangis.
Ken mendekat lalu meletakkan tangannya di pundak Marsha. Dia sebenarnya ingin memeluk wanita itu, tapi Ken mengurungkan niatnya karena dia takut tidak dapat menahan perasaannya pada Marsha. Ya, meskipun Ken sangat menyukai majikannya itu, tapi Ken harus ingat jika Marsha masih menyandang status sebagai istri Boy.
"Jadi, apa keputusan mu, nona?" Ken penasaran dengan pilihan Marsha. Marsha sangat senang dengan dunia hiburan. Dia juga sudah semakin terkenal. Sekarang tinggal pilihan bercerai dengan Boy. Apakah Marsha benar-benar akan menceraikan Boy?
"Entah lah, Ken. Aku tidak ingin memikirkan itu malam ini." Marsha menghapus air matanya dengan punggung tangan.
"Ya, anda harus memikirkan baik-baik soal ini." ucap Ken penuh arti. Entah apapun keputusan Masha nanti, Ken ingin Marsha bisa bahagia.
"Apa Jessica baik-baik saja, Ken?" Marsha memutar badannya menghadap ke arah Ken.
"Ya, dia selalu berada di rumah. Dan hari ini Tuan Boy dan Leana kembali dari rumah sakit."
"Apa dia mengajak Leana ke rumah?"
Ken tidak mengiyakan atau menyangkal. Dia hanya terdiam karena tidak ingin menambah pikiran Marsha.
"Sudahlah. Aku tau jawabannya." Marsha tersenyum kecil. "Aku ingin kembali ke kamar."
"Baik, nona. Anda harus istirahat." Ken mengantarkan Marsha kembali ke kamarnya.
*
*
*
Rumah Boy
Jessi berjalan mondar mandir di dalam kamar tamu. Sesekali Jessi memandang Leana yang sudah tertidur karena obat penenang. Sudah 3 hari sejak kejadian itu, Leana belum juga membaik. Jessi sendiri pun juga tidak bisa tidur sama sekali. Ada banyak kesalahan yang dia lakukan dan itu membuat hidupnya tidak tenang.
'Kamu memang biadab, Jess.' Jessi mengutuki dirinya sendiri. Dia tidak bisa bilang pada Boy karena dia takut kakaknya itu akan marah.
Jessi sudah mencoba menghubungi Marsha ratusan kali untuk menjelaskan persoalan ini, tapi Ponselnya tidak aktif.
'Bagaimana ini? Apa aku mengaku pada Boy saja?' Jessi kembali dilema.
"Jess,, kamu belum tidur?" Leana terbangun karena mendengar langkah kaki Jessi.
"Eh, iya.. ini baru mau tidur." Jessi mau tidak mau naik ke atas ranjang untuk menemani Leana di sisinya.
"Le, aku minta maaf." ucap Jessi lirih. Hubungan Jessi dan Marcel ternyata harus memakan banyak sekali korban seperti ini.
"Kita tidur saja." Leana tidak ingin menjawab Jessi, karena dia jadi teringat peristiwa yang lalu.
Jessi berpura-pura tidur supaya Leana juga tidur. Tapi setelah beberapa menit, Jessi kembali membuka matanya saat mendengar suara Leana.
"Tidak,, jangan mendekat. Jangan sentuh aku." Leana mengigau dan kembali gelisah.
"Le, tenang Le.." Jessi memeluk Leana, lalu menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Aku harus mencari dua orang gila itu." kata Jessi dengan penuh emosi.
"Sam, apakah kamu sudah dapat info tentang Marcel dan Max?" tanya Jessi saat teleponnya di jawab oleh Sam.
"Ya.. Mereka ada di penjara sekarang."
"What?" Jessi terkejut mendengar ucapan Sam. Tapi dia segera menutup mulutnya, takut Leana akan terbangun lagi.
"Apa ada yang ingin kamu tanya kan lagi, Jess?"
"Kamu tau siapa yang memasukkan mereka ke penjara?"
"Nona Jessica yang terhormat, saya bukan petugas kepolisian. Anda datang saja ke sana dan tanya pada mereka."
"Oh, iya. Kamu memang pintar. Pantas bisa jadi dokter." puji Jessi.
Sam langsung mematikan teleponnya karena tidak ingin mendengar perkataan Jessi yang melantur ke mana-mana.
Ya, Jessi besok harus pergi ke kantor polisi untuk meminta pertanggung jawaban dari Max.