You're My Boy

You're My Boy
Mengikuti istri-part 2



Setelah peristiwa di tempat gym, Boy melanjutkan menemani Marsha untuk jadwal berikutnya. Dia pergi ke tempat syuting endorse Marsha. Kali ini Marsha akan syuting untuk endorse brand pakaian lokal milik teman Marsha.


Marsha berganti pakaian sedangkan Boy menunggu sambil mengecek pekerjaan nya. Dia perlu berhati-hati supaya Marsha hari ini tidak playing victim lagi, jadi lebih baik dia duduk diam.


"Jen, apa Marsha tidak lelah?" Boy bertanya pada Jeni yang sedang minum es teh sambil meng-utak atik ponselnya.


"Istri you itu sangat aktif.Dia justru tidak suka berada di rumah." jelas Jeni tanpa menengok pada Boy.


"Kenapa?"


"Dia sering kesepian." Jeni menghabiskan minumnya, dan kini menatap Boy dengan sungguh-sungguh. "Sepertinya setelah menikah sama you, Marsha lebih ceria."


"Jelas saja.. namanya juga Boy." kata Boy membanggakan diri. "By the way, You tau apa yang paling di benci Marsha?"


"Marsha sangat benci dengan kecoa. Tolong bersihkan rumah you dengan baik." Jeni ingat betul Marsha minta pindah apartemen karena menemukan kecoa di kamar mandi. Padahal kecoa itu bisa dengan mudah di singkirkan.


Boy mengangguk mengerti. Dia kembali pada kesibukannya untuk bermain game.


"Ai ke sana dulu ya.. Marsha sudah siap." Jeni berlari meninggalkan Boy.


Boy menengok ke arah Jeni, dan dia melihat dari kursinya, Marsha tampil dengan baju renang two pieces. Dia membaca kembali jadwal nya, dan tidak tertulis jika iklan nya adalah baju renang. Bukan itu saja yang membuat Boy terkejut. Seorang pria muncul juga menggunakan celana renang saja. Dapat di pastikan itu adalah partner Marsha.


Boy segera menghampiri Jeni dan ingin protes pada sutradara. Begitu mendekat, dia malah melihat pria itu dengan mesranya memeluk tubuh Marsha dari belakang. Perasaan emosi Boy memuncak. Ada rasa tidak terima saat miliknya di sentuh pria lain. Boy sendiri saja tidak pernah menyentuh Marsha semesra itu.


"Saya perlu bicara dengan anda." Boy mendekati sutradara yang sedang mengamati jalannya pemotretan.


"Boy Setiawan.." Sutradara terperangah karena kedatangan Boy. Dia segera berdiri dari bangku nya untuk menyambut Boy.


Karena tidak ingin Marsha tau, Boy menarik sutradara itu sedikit menjauh.


"Batalkan syutingnya." ucap Boy to the point.


"Apa? mana bisa?"


"Saya akan bayar semua kerugian 2x lipat. Tapi, jangan sampai Marsha tau kalau saya yang minta ini batal." Boy memberikan sebuah cek pada sutradara yang tampak masih bingung itu.


*


*


*


Rencana Boy berhasil. Sutradara men-cancel pemotretan. Dia bilang pada Boy akan mengganti modelnya, tapi dia tidak bisa memberitahu Marsha sekarang karena itu akan menimbulkan pertanyaan.


Jadwal Marsha berikutnya adalah pergi ke kantornya. Marsha memiliki beberapa bisnis, salah satunya bisnis kosmetik dan saat ini Marsha berfokus pada bisnis nya itu.


"Kenapa cemberut?" tanya Boy yang melihat Marsha diam saja sejak masuk ke mobil.


"Kamu ingat kan, perjanjian kita di poin pertama?"


Boy memutar bola matanya. Dia tidak ingat apa saja isi perjanjian itu selain nomer 2 di mana dia tidak boleh melakukan hubungan dengan Marsha sebelum mereka saling mencintai. Tapi, daripada Marsha semakin bete, akhirnya Boy mengangguk dan pura-pura mengerti.


"Kamu tidak boleh mencampuri urusan istri, Boy." tegas Marsha. Dia merasa batalnya pemotretan ini karena Boy.


"Aku tidak mencampuri, aku hanya mengikuti istriku bekerja."


"Ken.. cepatlah kembali.." Marsha merasa frustasi dan sangat malas berbicara dengan makhluk di sebelahnya.


"Banyak sekali pria yang mengisi hidup mu." ucap Boy dengan nada menyindir. Tadi pagi Steve, lalu model itu, lalu ada Jasper dan tentu saja Ken yang menempel seperti permen karet.


Perjalanan mereka ke kantor di habiskan hanya dengan saling diam. Marsha memilih memandang keluar jendela daripada harus melanjutkan pembicaraan dengan Boy.


Security kantor segera membuka pintu mobil, begitu Land Rover Marsha berhenti di depan gedung.


"Selamat sore, nona." sapanya ramah.


"Sore Pak Dar.." "Apa anak Pak Dar sudah sembuh?" Marsha tidak langsung masuk, tapi berbicara lebih dulu pada security nya.


"Sudah non. Terimakasih atas bantuan Non Marsha." Pak Dar meraih tangan Marsha dan sungkem pada Marsha.


'Ya ampun, semua orang menyentuhnya dan dia biasa saja. Giliran aku cuma menyentuh bibirnya, dia sudah menangis.' batin Boy yang keheranan dengan interaksi Marsha dan Pak Dar.


"Ayo, Boy." Marsha menyadarkan Boy. Dia mengikuti Marsha di belakang benar-benar seperti pengganti Ken.


Karyawan Marsha menyapa Marsha dengan ramah. Marsha selalu memberikan senyuman lebar pada yang menyapanya, tapi begitu sampai di ruangan, Marsha kembali memasang wajah dingin dan arrogant nya.


"Apa yang kamu kerjakan kalau ke kantor?" tanya Boy sembari bermain kursi putar di ruangan Marsha.


"Aku hanya mengecek data satu bulan dan cari apa yang perlu di perbaiki." ucap Marsha sambil menatap komputernya.


"Aku akan buatkan sistem supaya kamu tidak perlu ke kantor."


"Tidak usah Boy, aku sudah bilang kan, jangan mencampuri pekerjaan istri."


Boy tidak berdebat lagi. Dia membaca jadwal Marsha yang terakhir. Meeting dengan Mr.Park. Boy mengenal pria itu dengan baik. Umurnya hanya 5 tahun lebih tua dari Boy. Mr.Park sangat pandi dalam berbisnis, dan sepak terjangnya di dunia hiburan Korea sudah tidak perlu di ragukan lagi.


"Di mana kita akan bertemu Mr.Park?" tanya Boy di tengah keheningan.


"Di restoran perancis." "Tapi, nanti kamu ga perlu masuk ke dalam. Aku hanya sebentar."


Boy kembali diam dan menyandarkan tubuh pada, kursi sembari menunggu Marsha menyelesaikan tugasnya. Sesekali Boy mengamati Marsha. Wanita itu begitu serius dalam pekerjaannya. Boy tidak menyangka kalau istrinya pintar juga. Wajahnya itu sangat berbeda ketika Marsha sedang tidur.


"Kenapa cekikan sendiri?" Marsha tampak curiga karena Boy tertawa sambil menatap ponselnya.


Saat ini Boy sedang membuka gambar Marsha yang sedang ngiler dan membandingkan dengan wajah Marsha saat bekerja.


"Ini ada gambar lucu." Boy membalik ponselnya.


Marsha yang melihat foto aib nya langsung berdiri sambil menggebrak meja.


"Boy, cepat hapus." protes Marsha. Dia berlari ke arah Boy, tapi sial nya dia tersandung karpet sehingga Marsha menubruk Boy yang sedang duduk di kursi. Boy melempar ponselnya, dan memegangi Marsha karena kursi mereka meluncur ke belakang dan baru berhenti ketika menabrak tembok.


"Kamu tidak apa-apa Mars?" tanya Boy sambil memandangi Marsha yang tengah memeluk dirinya dengan erat.


"Booooooy" Marsha terkejut karena dia baru sadar sedang duduk di pangkuan Boy atau lebih tepatnya duduk menindih Boy.


"Cepat bangun, kamu berat."


Marsha segera bangun. Dia merapikan baju nya dan ternyata bagian pinggir kanan baju nya sobek cukup lebar.


"Ponselku.." teriak Boy sedih. Dia mengambil ponselnya yang mati.


Di tengah kerusuhan itu, ponsel Marsha berdering.


"Baik Mr.. saya segera ke sana."


"Ayo, Boy.. kita pergi sekarang. Mr. Park harus segera ke Korea malam ini, jadi jadwal nya di majukan." Marsha menarik Boy yang masih meratapi ponselnya.