You're My Boy

You're My Boy
Honeymoon 3- Jalan-jalan



Boy memandang Marsha yang masih tertidur lelap di sofa. Semalam mereka berdebat siapa yang akan tidur di ranjang, dan akhirnya Boy yang menang. Marsha tampak begitu kelelahan sampai tidur sambil melongo. Boy berjongkok tepat di depan wajah Marsha. Dia dapat dengan jelas melihat air liur yang mengering di sudut bibir Marsha.


'Ya, setidaknya kamu masih manusia, karena bisa ngiler.' batin Boy sambil tersenyum kecil.


Boy mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan moment ini. Ini bisa jadi senjata untuk mengancam Marsha jika dia macam-macam.


"Nona.. Tuan.. apa kalian sudah bangun?" Ken berteriak sambil mengetuk pintu.


"Hey, bangun.. si Bear sudah datang." Boy menepuk pipi Marsha pelan.


"5 menit lagi.." igau Marsha.


"Bangun, atau aku akan cium kamu." ancam Boy.


Marsha membuka matanya karena mendengar suara Boy yang cukup kencang di telinganya.


Begitu membuka mata, dia mendapati Boy berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Boooooy" Marsha yang terkejut menendang Boy dengan kuat.


Boy jatuh dengan posisi terduduk. Baru 2 hari saja menjadi suami Marsha, Boy sudah terkena sial. Dia digigit, di tendang. Boy heran apakah Marsha ini keturunan kuda atau badak. Dia kasar sekali. Sungguh berbeda dengan apa yang terlihat di televisi.


"Cepat mandi. Ini sudah jam 9. Kita sudah janji dengan wartawan." kata Boy kesal.


"Sorry, aku pikir kamu itu monster." ucap Marsha dengan entengnya. Dia melenggang pergi meninggalkan Boy yang sedang mengusap pantatnya yang sakit.


Setelah menunggu istrinya selama 2 jam, akhirnya Marsha sudah siap. Dia menggunakan pakaian yang telah disediakan oleh Boy. Kaos polo couple warna biru muda. Sebenarnya, Marsha tidak ingin menggunakan kaos yang tidak ada modelnya seperti ini, tapi Boy memaksa dan mengatakan bahwa mereka harus terlihat mesra dan kompak di depan para wartawan.


"Anda cantik sekali, nona." puji Ken begitu melihat Marsha dan Boy keluar dari kamar.


"Biasa saja." Boy yang menjawab pertanyaan Ken.


"Bagaimana, apakah kalian sudah siap?" 2 orang wartawan yang kemarin, tiba-tiba muncul lengkap dengan peralatan mereka. Mereka tidak lupa memasang clip on pada Marsha dan Boy.


Marsha menghela nafas kasar. Hidupnya sungguh menyedihkan. Setiap memiliki pasangan, Marsha harus berpura-pura di depan kamera. Dulu dia juga selalu memaksa Juna untuk berpura-pura mesra dalam konten miliknya, sekarang giliran dia berpura-pura bahagia bersama dengan Boy.


"Kita mau ke tebing. Karena Marsha suka sekali berdiri di pinggir tebing. Iya kan sayang?" Boy merangkul pundak Marsha, lebih tepatnya merangkul dengan kuat sampai hampir mencekiknya.


"Iya, tentu saja.. Karena di situ kamu menyelamatkan aku." Marsha menepuk dengan keras dada Boy dengan tangannya.


"Wah, kalian mesra sekali.." puji para wartawan.


Mereka berlima akhirnya melakukan perjalanan menuju tebing Moher, yaitu salah satu wisata yang indah di Irlandia.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya bercakap-cakap ringan. Boy yang paling banyak bicara, sedangkan Marsha dan Ken lebih banyak diam.


"Jadi, bagaimana anda bertemu dengan Marsha?"


"Ya, ceritanya panjang. Waktu itu kami berbisnis bersama. Kalian lihat kan foto di cafe? Waktu itu kami langsung bisa dekat.. " "Aku baru sadar kalau Marsha menyukai aku, ketika aku mendengar detak jantungnya yang begitu cepat." cerita Boy. Dia mengingat pertemuan pertamanya dengan Marsha yang cukup unik.


"Masa itu terdengar?" tanya Marsha heran. Dia mengakui kebenaran cerita Boy. Marsha sampai memastikan dengan memeluk Juna saat itu, tapi jantung nya tidak bereaksi seperti waktu dia tidak sengaja memeluk Boy.


"Wah, so sweet sekali.. jadi, apa yang membuat anda tertarik pada Marsha?"


Boy menatap Marsha yang duduk di sampingnya. Dia mengusap pipi Marsha dengan lembut.


"Tentu saja aku suka semuanya.." ucap Boy yakin.


Marsha sedikit tersentuh dengan akting Boy yang begitu nyata. Boy selain jago akting, ternyata sangat pandai mengarang indah.


"Aku.. suka sekali kepribadiannya. Dia begitu humoris dan sangat pintar." kata Marsha terpaksa.


"Terima kasih sayang atas pujiannya." Boy memeluk Marsha dari samping.


Marsha hanya tersenyum pada para wartawan, padahal dalam hati dia sudah ingin menyikut ulu hati Boy.


"Kita sampai.." ucap driver.


Marsha sudah lebih baik, jadi dia tidak perlu di gendong Ken atau Boy lagi. Boy melihat hamparan laut luas yang begitu cantik. Dia merasakan sangat nyaman ketika angin menerpa wajahnya. Ya, sudah begitu lama Boy tidak menikmati kebebasan setelah terlibat dalam gosip murahan tentang Marsha.


"Sayang,, coba lihat itu.." Boy mengajak Marsha untuk berlari mendekati tebing. Marsha sedikit kewalahan karena Boy berlari begitu cepat.


"Boy, pelan-pelan.." omel Marsha.


Tapi begitu sampai di tebing, rasa lelah dan komplain Marsha seakan menguap begitu saja dan berganti dengan perasaan yang sangat nyaman dan damai. Tempat ini sangat indah. Boy mengambil kamera DSLRnya untuk mengambil beberapa gambar.


"Ken, tolong ambil foto kami." Dia menyerahkan kameranya pada Ken yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Marsha merapikan rambutnya, lalu berpose dengan gaya cute nya. Ken tersenyum karena Marsha begitu lucu dan imut. Dia sampai lupa mengambil foto Boy.


"Apa-apaan ini, Ken. Kenapa kamu hanya mengambil foto Marsha?" komplain Boy.


"Anda, berdiri terlalu jauh, Tuan."


"Ulangi lagi."


Kali ini, Boy mendekat pada Marsha. Marsha hanya menengok sesaat pada Boy dan kembali memandang lensa kamera. Dia selalu senang jika di minta untuk berfoto.


"Satu.. dua.. tiga.."


Tepat diangka tiga, Boy mencuri untuk mencium pipi Marsha. Baik Marsha dan Ken terkejut dengan perbuatan Boy yang tiba-tiba itu.


Boy tertawa senang. Dia melihat hasil foto yang di ambil oleh Ken.


"Lihat, aku sangat tampan bukan?" ucapnya bangga.


"Pipiku ternoda.Dasar sialan." ucap Marsha, tapi dalam hati. Dia harus menjaga sikap karena masih ada wartawan yang mengikuti acara jalan-jalan mereka.


"Pasang ini di media sosial mu." perintah Boy.


"Nanti saja lah..Setelah ini kita mau ke mana?"


"Tentu saja membeli wine.. bulan madu kita tidak akan lengkap tanpa segelas wine." Boy mengerlingkan matanya dengan genit.


Marsha bergidik ngeri melihat tingkah suaminya yang seolah mereka akan melakukan sesuatu nanti malam.


***



Tebing Moher



Jameson Distillery Bow Streets