You're My Boy

You're My Boy
Mengikuti suami-part 2



Marsha menatap ruangan milik Boy dengan takjub. Ternyata Boy memang 100% norak no debat. Ruangan kerja Boy lebih mirip seperti timezone daripada ruang bekerja. Marsha berjalan ke arah mesin dance revolution yang merupakan mainan kesukaannya. Ya, daripada bosan menunggu Boy, Marsha memutuskan untuk bermain.


Ken duduk sambil mengamati Marsha yang mulai bermain dengan riang gembira seperti anak TK. Dia masih penasaran kenapa Marsha tidak ingat apa yang terjadi semalam dengan Mr.Park. Dan kenapa Boy tiba-tiba melimpahkan tugas ini pada Ken?


"Ken, kamu tidak ingin ikut bermain?" teriak Marsha tanpa menengok ke arah Ken.


"Tidak, nona saja." tolak Ken. Dia lebih tertarik untuk mencari tahu apa yang terjadi semalam dengan menghubungi restoran perancis tempat pertemuan Marsha dengan Mr.Park.


"Kami tidak tau Pak.. Semalam Mr.Park menyewa satu restoran dan meminta kami pulang setelah mengantar makan malam mereka." jelas manager Restoran.


"Apa ada yang aneh?"


"Ya, kaca depan pecah dan ada pintu ruangan yang rusak."


Benar dugaan Ken. Pasti terjadi sesuatu semalam dengan Boy dan Marsha.


"Apa sudah di cek CCTV nya?"tanya Ken lagi.


"Rekaman di jam itu hilang Pak."


Ken mematikan teleponnya. Dia lupa jika Boy si master IT bisa menghilangkan itu dengan mudah. Ken menyandarkan badan di sofa sambil melipat kedua tangannya.


"Oppaaaa.." si rambut biru menyeruak masuk ke dalam dengan mudah. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Ken yang duduk di sofa dan juga kakak iparnya yang sedang bermain.


"Hai Jess.." Marsha menge-pause permainannya untuk menyapa Jessica yang tampak kesal. "Boy sedang rapat."


"Oh.." Jessica hanya ber-oh saja. Ya, Jessica hampir putus asa karena sulit sekali menemui Boy. Sejak tadi Boy mengabaikan teleponnya dan ketika dia ke kantor, lagi-lagi dia juga tidak bisa menemui kakaknya.


"Apa ada hal yang penting?" Marsha menepuk pundak Jessica dengan nafas tersengal. Baru sebentar saja bermain, Marsha sudah kelelahan. Usia memang tidak bisa bohong.


"Eonni, tangan mu basah." Jessica melirik tangan Marsha yang masih memegang pundaknya. Dia sebenarnya menyindir secara halus supaya Marsha menyingkirkan tangannya.


"Kenapa kamu kelihatan kesal?" tanya Marsha lagi.


"Boy mengabaikan telepon ku sejak pagi. Padahal ada hal penting yang harus aku sampaikan." kata Jessica sedih.


"Apa? Siapa tau aku bisa bantu." Marsha menawarkan diri meskipun dia ragu-ragu. Apa yang seorang Jessica inginkan? Dia tidak begitu mengenal Jessica. Setau nya adik Boy ini tidak beda jauh dari kakaknya, aneh bin ajaib.


"Kak Marsha tau kan, ada konser BTS bulan depan? Aku ingin minta tolong Boy untuk belikan tiket VIP." Jessica akhirnya mengungkapkan perasaannya pada Marsha. Dia berjalan mengambil air minum di kulkas, lalu memberikan pada Marsha yang masih saja ngos-ngos an.


"Thanks." Marsha tersenyum sambil menerima air dari Jessica. "Itu bukan soal sulit, Jess."


"Tapi, masalahnya tiket VIP sudah habis." keluh gadis itu lagi.


"Ken, temani Jessica untuk mendapatkan tiket VIP."


Ken terperanjat. Dia langsung menghampiri Marsha untuk melayangkan protes. "Itu bukan tugas saya, nona. Jadi saya tidak mau."


"Tapi aku juga ingin menonton, Ken. Beli juga untuk ku."


"Baik lah. Kalau anda mau menonton, saya akan pergi."


"Beres kan. Aku jamin, Ken bisa mendapatkan tiket nya dengan mudah." ucap Marsha dengan yakin.


Ken sudah terbiasa dengan permintaan yang tidak masuk akal dari Marsha. Jika Marsha sudah minta suatu hal, sampai ujung dunia pun Ken akan dapatkan. Apalagi ini hanya soal tiket VIP yang habis. Ken bahkan bisa mendapatkan dalam waktu 5 menit.


"Daebak.. Eonni gomawo.." Jessica mengucapkan Terimakasih sambil memeluk Marsha. Dia sampai tidak ingat jika baju Marsha masih basah karena berkeringat.


"Ini Om. Kau yang setir mobilnya." Jessica melemparkan kunci mobilnya pada Ken. Dia berjalan lebih dulu dan tidak menunggu Ken.


"Memangnya aku seperti om-om?" Ken berdceak kesal.


Ken tidak menjawab dan hanya pergi dengan putus asa. Baginya mencari tiket itu bukan masalah besar, tapi justru Jessica lah yang jadi masalah besarnya.


*


*


*


Marsha kini sendirian di ruangan Boy. Dia melihat jam tangannya. Sudah 2 jam Boy rapat dan suaminya itu tidak muncul juga.


Ponsel Marsha berdering. Ada sebuah pesan dari Jeni.


Sya, endorse kemarin di batalkan. Sepertinya suami you yang ingin kontrak nya batal.


"Booooy" teriak Marsha geram. Pantas saja sutradara itu memblokir nomer Marsha. Dia pasti takut kalau Marsha akan marah.


'Keterlaluan si rambut hijau itu. Aku harus balas.' batin Marsha masih dengan emosi yang meluap.


Marsha menyunggingkan senyuman kecil ketika sebuah ide terlintas di benaknya. Dia mengambil cermin dan lipstik di tas, lalu memoleskan lipstik bewarna merah menyala. Setelah memastikan tidak belepotan, Marsha berjalan dengan percaya diri ke ruangan rapat Boy.


Ruang rapat berada di lantai 4. Marsha menarik nafas panjang, lalu mendorong pintu dan langsung masuk. "Sayaaang.." panggil Marsha dengan suara yang mesra.


Semua orang menengok sambil melongo. Terlebih lagi Boy yang baru saja presentasi. Pointer pen nya sampai terjatuh ke lantai karena tidak percaya Marsha memanggilnya dengan nada seperti itu.


Marsha berlari ke arah Boy, dan memeluknya erat. Dia membenamkan kepalanya dalam dada bidang milik Boy.


"Hey perempuan gi.." Boy menghentikan kata-katanya karena tersadar ada banyak mata yang sedang memandang mereka.


"Sayang, aku belum selesai.." Boy melepaskan Marsha yang memeluknya dengan cukup kuat.


Marsha tersenyum karena sudah meninggalkan jejak lipstik di kemeja Boy. Sekarang tinggal langkah selanjutnya untuk membuat Boy malu di depan para karyawannya.


"Kenapa kamu begitu lama? Aku kangen sayang.." ucap Marsha manja.


"Sayang, tolong tunggu aku dulu ya di ruang kerja. 10 menit lagi akan selesai." Boy menekan kata-katanya supaya Marsha berhenti mengganggu dan mengerjainya.


"Oke sayang.." Marsha meringis dengan senang. Dia lalu berjinjit untuk mencium pipi kanan Boy.


'Sempurna.' batinnya. Kini Marsha benar-benar puas karena sudah meninggalkan jejak lipstik yang lain di tubuh Boy.


"Silahkan lanjutkan rapat kalian." Ucap Marsha tanpa dosa. Terakhir, Marsha mengerlingkan satu mata pada Boy sebelum pergi.


Boy terduduk lemas di kursi. Perbuatan Marsha kali ini sukses menghancurkan fokus dan moodnya. Percuma dia melanjutkan rapat ini.


"Ibu Marsha betul-betul romantis sekali."


"Namanya pengantin Baru.."


"Lihat, wajah Pak Boy memerah.."


"Aku jadi ingin segera pulang ke rumah."


Saat itu juga semua karyawan Boy mengibahi bos mereka.


"Diamlah.. aku bisa dengar suara kalian." kata Boy kesal.


'Marsha Lee.. awas saja.. aku akan balas setelah pulang nanti.'