You're My Boy

You're My Boy
Makan malam yang gagal



Marsha membuka tutup ponsel berulang kali. Pesan darinya sudah berubah menjadi centang biru sejak 3 jam lalu, yang artinya sudah di baca oleh Boy. Marsha sekali lagi membaca pesannya, untuk meneliti apakah ada kata-kata yang salah.


Boy, aku ingin makan malam bersama. Aku tunggu di kolam renang jam 7 malam. Pulang lah tepat waktu.


"Nona, ini sudah malam.. anda istirahat saja." ucap Ken yang kasihan pada Marsha. Sudah 3 jam lebih Marsha duduk menunggu suaminya pulang.


"Aku akan tunggu sampai jam 11,Ken. Kamu turun saja." jawab Marsha tanpa menengok pada Ken.


"Tapi.."


"Ini perintah, Ken." kali ini Marsha menengok ke belakang.


Ken menatap Marsha sesaat. Dia sudah paham dengan ekspresi Marsha yang sedang kecewa dan tidak ingin diganggu.


"Baik Nona. Saya istirahat dulu."


Marsha tersenyum pahit. Dia kembali menghadap meja di depannya. Makanan di situ sudah pasti semua sudah dingin. Lilin juga sudah mati sejak tadi. Tidak biasanya Boy pulang terlambat sampai selarut ini. Marsha bergerak untuk mengambil ponselnya. Dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Boy, atau alerginya kumat lagi. Tapi dia gengsi untuk menghubungi suaminya itu.


"Jess, apakah kakak mu ada di rumah?" akhirnya Marsha menelepon adik ipar.


"Tidak eonni. Boy tidak ke sini. Kenapa? Boy belum pulang ya? Eonni kangen dengan dia?" goda Jessica.


Pertanyaan Jessica ini menggelitik hati Marsha. Dia pun tidak sadar, kenapa dia mulai mencemaskan Boy. "Ya, aku kangen Oppa mu itu."


"Aku akan suruh oppa untuk cepat pulang."


"Oke, Jess.. thanks.."


Marsha menghela nafas berat. Dia sudah pergi ke salon selama 3 jam. Dia sudah berdandan dengan cantik, dia sudah menyiapkan wine dan makan malam romantis, tapi semua nya tampak sia-sia sekarang. Marsha menuangkan wine di gelasnya. Dia juga mulai makan apa yang ada di meja, daripada makanan itu terbuang percuma.


"Awas saja kamu Boy.." ucap nya sambil memotong steak dengan emosi.


Setelah menghabiskan 2 piring steak dan satu gelas wine, Marsha kembali ke kamarnya. Kepala Marsha sedikit pusing karena pengaruh dari wine yang tadi dia minum. Marsha melepaskan gaun nya, dan membuang itu sembarangan. Dia juga berganti dengan lingerie merah yang sudah dia siapkan tadi untuk menggoda iman Boy.


Jam sudah menunjukan pukul 12 malam dan Boy belum pulang juga. Akhirnya Marsha menyerah. Dia merebahkan diri di ranjang mengikuti keinginan kepalanya yang terasa berat.


*


*


*


Marsha yang sudah tidak sadar merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Dia ingin melihat, tapi matanya terlalu berat untuk di buka.


"Kamu sudah pulang, Boy?" tanya nya dengan tidak jelas.


"Ya, aku pulang." Boy pulang setelah mendapat telepon dari Jessica.


"Kenapa lama sekali? Hm?" igau Marsha. Kali ini dia mendekatkan diri pada badan Boy yang terasa begitu hangat.


"Kalau begini, bagaimana aku bisa marah lama-lama?" Boy membelai rambut Marsha. Dia sebenarnya tadi pergi ke rumah Ny.Lee karena mertua nya itu mendadak kurang sehat dan minta di antar ke rumah sakit. Ny.Lee melarang Boy untuk memberitahu Marsha supaya dia tidak khawatir. Boy bahkan lupa janjinya pada Leana dan juga ajakan makan malam Marsha. Boy baru ingat setelah Jessica menelepon, dan memberitahu jika Marsha merindukan dia.


Boy cukup terkejut saat mengecek CCTV di rumah. Dia melihat Marsha duduk di dekat kolam renang selama 3 jam. Boy juga melihat Marsha memakan semua yang sudah disiapkan, sampai masuk kamar dan berganti lingerie. Boy sudah secepat mungkin melajukan mobilnya, tapi tetap saja jarak rumah Marsha yang jauh membuat Boy sampai di rumah pukul 12 malam.


"Kamu jahat, Boy."


"Jangan bilang seperi itu, Mars. Kamu yang selalu memancing emosi ku." Boy mengamati wajah Marsha yang begitu cantik dan sempurna. Dia tidak bisa berbohong jika makin lama bersama Marsha, pikiran Boy semakin tidak waras. Kalau badannya, sudah tidak perlu di tanya. Boy merasakan sensasi panas jika sudah berdekatan seperti sekarang ini.


"Aku akan memberikan hukuman yang tertunda kemarin." Boy mulai mencium bibir Marsha dengan lembut.


Marsha yang dalam pengaruh minuman alkohol pun merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Akhirnya dia membalas apa yang Boy lakukan tanpa membuka matanya.


"Ini gila." Boy mendorong badan Marsha setelah dia kehabisan nafas. Dia segera bangun dari ranjang. Boy bukannya tidak suka dengan apa yang baru saja dia lakukan, tapi dia tidak bisa menahan dirinya untuk mencicipi yang lain.


Marsha menggeliat karena kehilangan sumber panasnya.


"Kamu melakukan itu karena sedang tidak sadar. Mana mungkin kamu mau mencium ku seperti tadi dalam keadaan sadar." ucap Boy dengan suara lirih.


Boy berjalan ke kamar mandi, untuk mendinginkan tubuhnya. Sebenarnya Boy bisa saja melanjutkan dengan Marsha, tapi dia tidak ingin mengambil kesempatan saat wanita itu tidak benar-benar menginginkan dirinya.


Setelah mandi, Boy memilih untuk tidur di sofa. Dia masih ingin melanjutkan akting untuk berpura-pura marah pada Marsha.