
Besoknya, Boy mencoba menghubungi Marsha, tapi ponselnya tidak aktif. Dia lalu menghubungi Ken, dan seperti dugaannya, ponsel Ken juga tidak aktif. Harapan Boy saat ini hanya Ny.Lee.Marsha kemungkinan besar berada di rumah mewah itu.
"Halo, Mom.. apa kabar?" tanya Boy untuk basa basi.
"Boy.. Mom baik. Ada apa?"
"Mom, tadi Marsha pergi.. apakah dia pergi ke rumah Mom?"
"Tidak.Marsha tidak ke sini. Apakah kalian sedang ribut?" Ny.Lee mulai curiga pada menantu nya.
"Ya, sedikit." "Mom kasih tau Boy ya kalau Marsha pulang ke sana. Boy janji akan ajak Mom jalan-jalan lagi kalau Mom kerjasama dengan Boy." Boy mencoba menyogok mertuanya.
"Baiklah.Mom pegang janji mu." "Kamu cepat cari Marsha.. jangan biarkan masalah berlarut-larut Boy." saran Ny.Lee.
Boy mengangguk meskipun Ny.Lee tidak dapat melihatnya. Ya, semalaman Boy sangat gelisah memikirkan Marsha. Dia teringat ucapan Ken yang akan merebut Marsha jika Boy sampai menyakiti wanita itu.
"Boy.." Suara Leana membuyarkan lamunan Boy.
Boy tersenyum pada Leana yang jauh lebih baik. "Apa kamu lapar, Le?" tanya Boy yang kini sudah berada di samping ranjang.
Leana mengangguk lemah. Dia masih tidak bisa banyak bergerak karena beberapa bagian tubuhnya memar dan bengkak akibat melawan penculik itu.
"Aku suapi kamu ya." Boy mengambil sarapan di nakas yang telah di siapkan rumah sakit satu jam yang lalu.
"Mana Jessi, Boy?" Leana menengok ke sekeliling kamar, tapi dia tidak menemukan Jessica.
"Dia sedang istirahat di rumah."
Boy menyendok kan satu suapan, dan Leana menyambut nya dengan baik. Ini kemajuan bagus karena sejak kemarin Leana terus ketakutan.
"Pagi Boy.." Sam menyeruak masuk ke dalam ruangan karena pintu tidak di kunci.
Kehadiran pria asing itu membuat Leana memegang lengan Boy. Saat ini Leana hanya percaya kepada Boy dan Jessica. Dia akan waspada jika ada orang asing yang mendekatinya.
"Dia itu dokter, Le."
"Halo, Leana. Saya teman Boy, Samuel." Sam hanya melambaikan tangan karena dia tau Leana pasti trauma setelah apa yang terjadi dengan nya.
"Kamu sudah tangkap pelakunya?" Sam kembali berfokus pada Boy.
"Belum. Seperti nya aku tidak akan melaporkannya ke polisi." ucap Boy lirih. "Aku takut Marsha terkena masalah."
Sam mengerutkan dahinya. Apa hubungan semua ini dengan Marsha?
"Boy, aku ingin pulang." Leana yang mengerti arah percakapan mereka mendadak merasakan ketakutan lagi. Seluruh badannya bergetar ketika mengingat apa yang terjadi di gudang kemarin sore.
"Kamu belum sehat, Le."
"Tidak Boy. Aku ingin pulang sekarang. Pria itu pasti akan kemari. Dia bilang akan kembali lagi." Leana memeluk Boy sambil menangis histeris.
Sam menekan tombol untuk memanggil perawat. Dalam hitungan detik, para perawat datang dan, berdiri di depan Sam.
"Berikan dia obat penenang."
Perawat yang sudah membawa obat nya, menyuntikan itu pada infus Leana.
"Kamu akan bawa dia pulang?" tanya Sam bingung.
"Ya,, aku akan bawa dia ke rumah."
"Apakah Marsha tidak akan marah?" tanya Sam heran.
"Dia kabur, Sam. Aku tidak bisa melacaknya." curhat Boy.
"Seorang Boy bisa kehilangan jejak seorang wanita?" ejek Sam. Boy bahkan bisa membobol sistem perusahaan international sekalipun. Jadi, sangat lucu kalau Boy tidak dapat menemukan Marsha.
"Boy,, sebaiknya kamu bergerak cepat." saran Sam lagi.
*
*
*
Marsha sudah menyelesaikan masalah dengan memenjarakan Marcel dan Max. Dia tidak suka jika membiarkan orang jahat itu berkeliaran. Marsha bergidik ngeri ketika dia melihat rekaman di gudang. Dia tidak dapat membayangkan jika itu terjadi pada adik iparnya.
Ketika baru saja keluar, beberapa pria berjas hitam datang menghampiri Marsha dan Ken. Mereka adalah para pengawal Ny.Lee.
"Apa Mom tau kalau aku ribut dengan Boy, Ken?" Marsha menengok ke arah Ken dengan nada sedikit menuduh.
"Tidak, Nona. Aku tidak memberi tau dia."
"Nona, Marsha.. Nyonya meminta anda pulang sekarang."
Marsha merasakan sinyal kurang baik. Tapi, dia mau tidak mau harus mengikuti kemauan Mom nya. Dia juga sudah lama tidak mengunjungi Ny.Lee karena kesibukannya.
Selama perjalanan, Marsha hanya terdiam. Begitu juga dengan Ken. Mereka sibuk dalam pikiran masing-masing. Marsha mencoba menebak reaksi Mom nya kalau tau dia kabur. Sedangkan Ken sedang berpikir apakah dia masih punya kesempatan untuk merebut Marsha dari Boy.
Ny.Lee segera memeluk Marsha begitu anaknya muncul dari balik pintu. Dia begitu sedih melihat wajah Marsha yang pucat dan lebih kurus dari biasanya. Ya, Marsha memang tidak tidur semalaman. Dia juga sudah berhasil menurunkan berat badannya hingga 7kg sehingga membuat wajahnya semakin tirus.
"Mom.. Mom kenapa sii.." Marsha melepas pelukan dari Nyonya Lee.
"Mom sangat menyesal Sya.. seharusnya Mom tidak memaksa kamu menikah dengan si hijau kurang ajar itu." Ny.Lee mulai menangis.
"Mom, kita duduk dulu." Marsha membawa Mom nya untuk duduk di ruang tengah supaya mereka lebih enak untuk bicara.
"Mom kira Boy itu pria baik-baik. Ternyata dia itu memang playboy." ucap Ny.Lee emosi. "Berani nya dia memasukan wanita lain ke rumah."
"Mom ikutin Marsha?"
Ny.Lee menggeleng. Setelah Boy menelepon tadi, Ny.Lee bertanya pada pembantu Boy di rumah. Pembantu Boy menceritakan semua jika akhir-akhir ini Marsha sering ribut dengan Boy karena kehadiran Leana. Ny.Lee juga memaksa Jeni untuk bercerita. Hasilnya, dia tau Marsha kabur dari rumah karena Boy lebih membela Leana dan menuduh Marsha melakukan kejahatan pada wanita itu.
Ny.Lee tidak tau masalah anaknya akan serumit ini. Dia sungguh menyesal karena sepertinya keputusan menikahkan Marsha dan Boy bukan keputusan yang tepat.
"Mom..ini sebenarnya salah paham saja." Marsha membuka suaranya. Dia sebenarnya masih sakit hati dengan Boy, tapi dia tidak ingin Mom nya sampai membenci Boy. Lagipula Marsha sudah cukup puas karena sudah menangkap Marcel dan Max.
"Sya, tidak apa-apa kalau kamu ingin bercerai dengan Boy." "Mom tidak akan memaksa mu lagi."
Deg. Marsha terdiam. Bercerai dengan Boy?