
Perjalanan panjang ke Irlandia berakhir setelah 21 jam. Mereka langsung memutuskan untuk pergi ke hotel. Ken menawarkan untuk menggendong Marsha di punggungnya. Boy hanya diam dan berjalan lebih dulu sambil membawa koper mereka.
"Sial, kenapa jadi aku yang seperti pembantu mereka." keluh Boy dalam hati.
Boy membukakan pintu mobil, sedangkan Ken meletakkan Marsha di dalam.
"Minggir." Boy menggeser tubuh Ken dan menyabotase untuk duduk di sebelah Marsha.
Marsha melengos karena dia malas berdebat dengan Boy. Sepanjang perjalanan tadi, Boy tidak berhenti mengejeknya gendut, karena Marsha juga menghabiskan separuh makanan Ken.
Ken yang disingkirkan oleh Boy, akhirnya berputar untuk duduk di sebelah kiri Marsha.
"Wisata apa yang menarik di sini, pak?" Marsha berbicara pada driver dalam bahasa Inggris yang fasih.
"Downhill strand, Jameson Distillery Bow St, Dublin, atau Galway.. Apakah kalian sedang wisata di sini?"
"Tidak, kami sedang honeymoon." Sahut Boy.
"Bertiga?" driver menatap mereka dari spion tengah.
"Yang satu itu bodyguard." Boy memberikan penekanan pada kata Bodyguard supaya Ken sadar posisinya.
"Apakah masih jauh? Aku sangat lelah." kata Marsha pada driver.
"Tidur saja di sini." Boy menyandarkan kepala Marsha ke pundaknya.
"Kalian mesra sekali." puji driver sambil tersenyum sendiri.
"Boy, apaan sih." Marsha memukul lengan Boy. Dia lalu merapikan rambutnya yang berantakan.
Sepanjang perjalanan, hanya driver yang membuka mulut dan bercerita panjang lebar mengenai Irlandia. Boy hanya sesekali menimpali, sedangkan Marsha sudah tertidur tapi kepalanya bersandar pada Ken.
*
*
*
Hotel Ranga Irlandia
Marsha terbangun ketika mesin mobil di matikan. Dia mengulet sesaat sebelum menyadari jika ada 2 pria yang menatapnya.
"Bagaimana tidur mu? Apakah nyaman Tuan putri? " sindir Boy.
"Cepat bawa aku turun, Ken."
Marsha buru-buru meminta Ken untuk menggendongnya lagi. Boy merasa harga dirinya di injak-injak karena Marsha lebih memilih bodyguard daripada dirinya.
Begitu turun, 2 orang wartawan menghampiri mereka. Mereka tampak terkejut karena Marsha malah di gendong oleh Ken, dan bukan Boy.
Boy maju untuk menemui 2 wartawan itu. Dia heran, kenapa mereka sampai niat sejauh ini untuk mengikuti Marsha.
"Saat ini kami sedang merekam, Pak Boy." ucap wartawan perempuan yang masih muda itu. "Kami sudah meminta persetujuan dari Jeni."
"Dia manager ku." ucap Marsha pada Boy yang asing dengan nama Jeni.
"Oke, jadi berita apa yang akan kalian tulis lagi kali ini?" tantang Boy. Dia kesal karena gara-gara wartawan itu, kehidupan bujangnya jadi hilang seketika. "Apa kalian mau tulis kalau Marsha selingkuh dengan bodyguardnya?" ucap nya dengan penuh arti.
"Enggak.. enggak pak.. Kami hanya akan meliput acara bulan madu kalian, sekaligus untuk acara wisata luar negeri." jelas wartawan pria yang sedang memegang recorder.
Boy tampak berpikir sejenak. "Baiklah. Tapi, hanya satu hari saja." "Dan kalau sampai kalian mencuri gambar kami di hotel ini, saya akan tuntut kantor kalian." ancam Boy.
Mereka mengangguk tanda mengerti, lalu mereka berlalu dari Boy.
"Memang kita mau jalan-jalan ke mana?" tanya Marsha polos. Dia tidak pernah mengunjungi Irlandia sebelumnya.
Ny.Lee memesan kamar royal suite yang paling besar di hotel Ranga. Kamar itu desain nya modern dan sangat indah karena view nya adalah gunung. Di dalam juga ada jacuzzi untuk berendam. Boy sangat suka dengan pilihan Ny.Lee. Mertuanya memang tahu bagaimana memanjakan anaknya.
"Oke, kita istirahat. Cepat keluar, Ken." usir Boy.
Ken tidak bergeming. Dia masih berdiri di samping Marsha yang sudah tiduran di ranjang.
"Kamar ini sangat lebar Boy, biarkan dia di sini." pinta Marsha yang sedang memandang langit-langit kamar.
"Jadi, kamu ingin melihat bagaimana kami membuat anak?" Boy melepaskan jaket juga kemejanya sampai tubuhnya polos bertelanjang dada.
"Nona, saya akan tidur di kamar yang lain." akhirnya Ken menyerah. Dia tidak mungkin tidur bertiga di sini dengan majikan dan suaminya yang sangat sinis padanya.
Kini tinggal Boy dan Marsha. Boy cukup heran dengan Marsha karena wanita itu jarang sekali menatap Boy dan selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Awalnya Boy tidak masalah dengan tingkah Marsha ini, tapi Boy harus ingat jika mereka sudah berstatus suami istri. Marsha perlu belajar untuk menghormati suaminya.
"Hey, cepat.. ayo kita lakukan." Boy naik ke ranjang di sebelah Marsha.
"Lakukan apa? Kamu jangan mesum ya." omel Marsha.
"Kita sudah sah jadi suami istri." "Cepat lah.." Boy memegang pipi Marsha yang lembut, lalu dia mendekatkan wajahnya.
Marsha tampak salah tingkah dengan perbuatan Boy yang tiba-tiba romantis seperti ini. Apalagi Boy bertelanjang dada. Akhirnya Marsha hanya bisa menutup matanya karena dia tahu apa yang akan Boy lakukan selanjutnya.
Boy tersenyum kecil melihat reaksi Marsha.
'Aku yang mesum atau dia?' batin Boy.
Dia tidak ada niatan untuk menyentuh Marsha. Apa yang Boy lakukan ini murni karena ingin memberikan Marsha pelajaran.
"Cepat pijit badan aku." bisik Boy. Dia merebahkan badannya dan bersiap untuk menikmati pijitan dari Marsha.
"Boooy" teriak Marsha dengan nada 5 oktaf dari biasanya. Marsha sangat malu dan kesal karena Boy benar-benar kurang ajar pada istri sendiri.
"Aku tidak mau dan tidak bisa memijit badan kamu." kata Marsha ketus. Dia memandang punggung Boy yang sangat lebar dan kekar. Tangan Marsha bisa copot jika memijit punggung seperti itu.
"Kalau kamu tidak mau, aku akan telepon Mom Lee." "Kasihan dia, mungkin penyakitnya bisa kambuh karena memikirkan anaknya yang sulit diatur."
Boy tidak mendapat jawaban dari Marsha. Karena Marsha tidak mau juga, Boy akhirnya mengambil ponsel dan benar-benar menekan nomor Ny.Lee. Dan tidak disangka, Ny.Lee langsung mengangkat telepon dari Boy.
"Halo, Mom, aku mau bilang kalau Marsha.."
"Mom, kami sudah sampai, dan sangat senang disini." Marsha merebut ponsel Boy untuk mengambil alih pembicaraan. Dia memukul punggung Boy dengan keras sehingga membuat Boy berteriak kesakitan.
"Mom tenang saja.. Boy sangat menikmati honeymoon ini.." " Okey, mom.. daaah mom."
Marsha melempar ponsel Boy jauh-jauh. Dia akhirnya menyerah dan mulai memijit punggung Boy dengan cara memukul-mukul seperti sedang berlatih tinju.
"Marsha, kamu memang luar biasa gila. Ini namanya bukan memijit, tapi bikin jantungku rontok." ucap Boy yang merasakan punggungnya sakit semua.
"Salahmu sendiri. Aku sudah bilang tidak bisa memijit. Kamu yang memaksa kan?" balas Marsha sambil tertawa senang.
"Kita lihat, siapa yang akan tahan lebih lama." ucap Boy kesal.
*
*
*
Mari kita lihat hotel yang di tempati Boy-Marsha.