
"Ken, kenapa sih?" Marsha menengok kursi di sebelahnya. Ken tampak resah sambil memandangi ponsel.
"Tidak apa-apa, Nona." Ken hendak memasukan ponselnya ke saku, tapi Marsha lebih dulu merebutnya.
Dia membulatkan mata karena melihat foto di ponsel Ken. Di situ terpampang foto Boy dan Leana sedang bermain anak anjing di taman.
"Dasar semua laki-laki sama saja." Marsha melempar handphone di tangan nya ke arah Ken. Untung saja Ken dengan sigap menangkapnya.
"Nona, duduk lah dengan tenang. Sebentar lagi pesawat berangkat." Ken mencoba menenangkan Marsha karena suara Marsha tadi membuat seluruh penumpang pesawat yang kebanyakan adalah pria menengok tajam ke arah Marsha.
"Jam berapa ini, Ken? Kenapa lama sekali?" Marsha memandang jam di tangannya. Mereka sudah menunggu 30 menit dan tidak ada tanda-tanda pengumuman delay.
"Seharusnya Kita minta Mom gunakan pesawat pribadi saja." Omel Marsha lagi.
"Tidak biasa nya delay selama ini." Ken juga membenarkan perkataan Marsha.
Tapi pertanyaan mereka terjawab karena suara announcement mulai terdengar.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, selamat datang di Penerbangan nomor 3 perjalanan dari Indonesia dengan tujuan ke Korea. Saat ini pesawat belum dapat berangkat dikarenakan ada penumpang yang di tunggu oleh suaminya. Di mohon kepada Nyonya Marsha Setiawan untuk segera turun dari pesawat Karena dia belum menyelesaikan urusannya dengan suaminya.
Seluruh penumpang VIP saling memandang. Dan mereka segera menatap ke arah Marsha. Marsha adalah kandidat terkuat wanita yang di cari dalam pengumuman tadi.
Marsha sendiri terperanjat mendengar suara pramugari di pesawat yang menyebut namanya.
"Suami anda sudah gila." bisik Ken yang merasa terintimidasi dengan seluruh penumpang pesawat.
"Aku tidak akan turun." ucap Marsha dengan tegas.
"Nona, kalau ada masalah rumah tangga, jangan melibatkan orang lain seperti ini." protes orang di depan Marsha.
"Iya, turun saja supaya pesawat bisa berangkat." kata yang lain lagi.
"Bagaimana ini, Ken?" Marsha mulai terintimidasi dengan komentar orang-orang.
"Anda mau turun menemui Boy atau tidak?" tanya Ken lebih dulu.
Marsha mengalami dilema. Di satu sisi, dia senang karena Boy mencarinya, tapi di sisi lain, Marsha kesal karena Boy semakin mesra saja dengan Leana.
"Nona.. cepat lah turun." protes mereka lagi.
"Ken, kita tetap berangkat ke Korea." Akhirnya Marsha tetap membuat keputusan untuk pergi.
"Baik, aku akan urus. Anda tunggu di sini sebentar." Ken berdiri dan berjalan untuk menemui pramugari yang menyampaikan pesan dari Boy.
Tidak lama setelah Ken pergi, bunyi nada announcement mulai terdengar lagi.
Ibu-ibu dan Bapak-Bapak, Maaf karena ada sedikit gangguan tadi. Pesawat akan segera berangkat dan ganti rugi delay akan dibayarkan oleh pihak yang bersangkutan. Pesawat akan mengudara dalam waktu 7 menit lagi. Kami meminta Anda untuk mengencangkan sabuk pengaman dan mengamankan semua bagasi di bawah kursi Anda atau di kompartemen atas. Kami juga meminta agar tempat duduk dan nampan meja Anda dalam posisi tegak untuk lepas landas.
Marsha bernafas lega karena Ken memang sangat dapat di andalkan untuk mengurus masalah ini. Penumpang yang lain juga tidak jadi marah pada Marsha.
"Nona, apakah anda bertengkar dengan suami anda?" Seorang penumpang di depan Marsha menengok ke belakang untuk bicara pada Marsha. Dia penasaran dengan kisah Marsha karena suaminya bisa membuat heboh satu pesawat.
"Ya, begitu lah." jawab Marsha singkat. Sebenarnya Marsha malas menanggapi, tapi wanita itu terus memandang Marsha.
"Pasti suami anda orang yang hebat, sampai bisa menghentikan pesawat yang akan berangkat." puji nya.
"Hebat apa nya? Dia itu sangat sok tahu dan seenaknya sendiri. Dia juga tidak pernah memikirkan perasaan istrinya." Kali ini Marsha terbawa emosi ketika wanita itu memuji Boy.
"Seperti apa penampilan suami anda?"
Marsha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa wanita itu begitu penasaran dengan Boy? Apakah kisah hidupnya sebegitu penting untuk dia?
"Dia tinggi dan cukup tampan.. rambutnya hijau ala aktor kpop dan..." Marsha kebingungan memilih kata-kata untuk mendeskripsikan Boy.
"Kenapa ciri-ciri nya seperti orang yang berdiri di belakang anda?" wanita itu tersenyum kaku ke arah belakang Marsha.
Marsha menengok dan suprise...
Boy sudah berdiri tepat di belakang Marsha dengan wajah lebam-lebam. Dia diam tanpa ekspresi sambil memandang Marsha dengan intens.
Marsha refleks berdiri karena dia begitu terkejut dengan kedatangan Boy di dalam pesawat.
"Kenapa kamu di sini, Boy?" "Mana Ken?" tanya Marsha terbata.
"Karena kamu tidak mau turun, maka aku yang naik. Dan kamu tidak perlu khawatir pada Ken, karena dia sudah ku tendang ke bawah." jawab Boy asal. Dia memang sudah menyuruh Ken untuk turun karena Boy yang akan menemani Marsha ke Korea.
"Kenapa kamu kabur?" giliran Boy yang bertanya kepada Marsha.
Dia mendekat selangkah pada Marsha, tapi Marsha mundur selangkah juga karena dia tidak ingin terlalu dekat dengan Boy.
"Aku hanya ingin hidup tenang, Boy." "Bukan kah kamu juga sibuk dengan Leana?" sindir Marsha.
"Aku sungguh tidak ingin seperti ini, Le." kata Boy dengan ekspresi sedih.
"Ya, aku juga sungguh tidak mengerti jalan pikiran mu. Kamu itu bukan hanya membela Leana, tapi merawatnya seperti seorang kekasih." "Aku bingung Boy, yang istri mu itu aku, atau dia?" Marsha setengah berteriak. Mereka tidak sadar jika sedang menjadi tontonan seluruh penumpang VIP. Mereka seperti sedang menyaksikan drama Korea secara live.
"Tentu saja istri ku itu kamu." Boy memegang pipi Marsha dengan kedua tangannya. Dia sangat senang bisa berada di dekat Marsha seperti ini. Ya, Boy harus mengakui jika dia rindu dengan pelukan dan ciuman Marsha yang selalu menjadi candu untuknya.
"Boy, apa kamu tau kalau Mom menyuruh kita berce.."
Marsha tidak dapat meneruskan ucapannya karena Boy lebih dulu menciumnya singkat.
"Maksud mu berciuman kan?" Boy tersenyum genit. Dia kembali mencium istrinya dengan lembut.