You're My Boy

You're My Boy
Memperbaiki pernikahan



Suara tepuk tangan memenuhi kabin. Boy tersadar jika mereka sedang berada di tempat umum sekarang. Boy melepaskan Marsha dan Marsha tersipu malu karena dia juga baru sadar kalau semua mata menatap ke arah mereka.


"Maafkan kami karena sudah membuat keributan di sini." Boy menarik Marsha ke dekatnya, lalu memeluk pinggang nya. "Saya sangat senang sampai tidak sadar kalau apa yang kami lakukan mengganggu kalian." "Karena kalian sudah berbaik hati, maka penerbangan ini kami yang akan bayar semuanya." "Uang kalian akan kami kembalikan beserta delay tadi."


"Suami anda memang benar-benar keren." ucap wanita tadi.


Marsha menyeret Boy untuk duduk, karena Boy benar-benar memalukan. Melihat drama sudah bubar, para penumpang lainnya pun kembali ke tempat duduk masing-masing dengan perasaan bahagia. Tentu saja mereka bahagia karena mereka mendapatkan tiket penerbangan gratis.


"Marsha, Maafkan aku." ucap Boy sambil mencium tangan Marsha dengan lembut. "Aku ingin memperbaiki pernikahan kita."


Ucapan Boy barusan membuat hati Marsha seperti tersiram es. Ini yang ingin Marsha dengar dari mulut seorang Boy.


"Aku juga minta maaf Boy." Marsha memeluk Boy dari tempat duduknya.


"Anggap saja kita sedang mengulang honeymoon yang lalu." Boy mencium pucuk kepala Marsha. Perjalanan mereka yang lalu tidak bisa dianggap honeymoon karena mereka tidak melakukan apapun. "Aku merindukanmu, Nyonya Setiawan."


"Boy kamu semakin mesum saja." Marsha menepis tangan Boy yang mulai merambah hendak membuka kancing kemeja Marsha.


"Namanya juga usaha." ucap Boy santai.


"Wajah mu terluka cukup parah, Boy." Marsha beralih pada wajah Boy yang lebam-lebam.


"Ya, Mom mu sangat pintar mengambil situasi. Tapi tidak apa-apa, karena yang penting aku sudah mendapatkan anak nya yang cantik." goda Boy.


"Boy.. tumben sekali kamu bisa romantis."


"Bukan kah aku selalu romantis kalau di ranjang?"


"Boy, kamu gila. Sudah lah, aku ingin tidur sambil memeluk beruang." Marsha tidak ingin menanggapi Boy lagi dan memilih untuk memejamkan mata sambil memeluk Boy.


*


*


*


Korea


Marsha tidak menyangka rencana perjalanannya dengan Ken malah menjadi acara bulan madu dadakan dengan Boy. Boy mendapatkan banyak ucapan selamat dan terimakasih dari para penumpang karena kemurahan hatinya.


"Ya, kan kita patungan. 50:50." Boy menyalami orang terkahir yang akan turun dari pesawat.


"Enak saja. Kamu pakai lah uang mu sendiri. Kan kamu yang janji."


"Kalau kamu mengikuti kata suami mu untuk turun, pasti lebih hemat. Jadi ini salah siapa?"


'Ehem.' Wanita tadi kembali masuk ke dalam pesawat.


"Saya ada hadiah untuk kalian. Semoga buku ini bisa membantu kalian dalam berumah tangga." Orang itu memberikan sebuah buku kecil untuk Marsha. Marsha segera menerimanya dan menaruhnya dalam tas.


"Terimakasih.. semoga anda menikmati perjalanan di korea." Boy tersenyum, lalu membungkukkan badan pada wanita tadi.


"Boy, kita sungguh memalukan." ucap Marsha yang merasa malu karena kehidupan rumah tangganya menjadi konsumsi publik.


"Malu apa sih.." "Ayolah, kita bikin Boy junior." ajak Boy sambil mencium pipi Marsha.


"Boy kamu belum mandi ya?" Marsha mencubit pinggang Boy sambil menutup hidungnya.


"Tapi kamu tetap suka kan?" Boy ganti mencubit pipi Marsha gemas. Dia lalu merangkul pundak Marsha sambil berjalan keluar dari pesawat.


Mereka tampak seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan. Ya, jika di pikir-pikir, sejak menikah mereka belum pernah merasakan yang namanya kencan layaknya orang normal.


"Boy, aku akan menghukum mu karena kamu sudah mengabaikan aku selama ini." ucap Marsha sembari mereka keluar dari airport.


"Mom sudah menghukum ku. Dan sekarang kamu yang menghukum ku?" "Wajah ku bisa babak belur Mars.. Atau aku operasi plastik saja sekalian supaya mirip Lee Min Hoo?"


"Kamu jangan macam-macam Boy. Biarkan wajah mu seperti itu.." "Kamu jelek saja banyak yang mengincar, apalagi kalau ganteng?"


Marsha menekankan kata mengincar. Ya, Marsha harus menyadari layar belakang Boy yang banyak dekat dengan wanita. Sekarang Leana, nanti entah siapa lagi.


"Terima kasih atas sindirannya, Nyonya Setiawan." ucap Boy kesal.


"Ayo lah.. cepat.. aku sudah tidak sabar untuk memberi mu hukuman." Marsha menarik tangan Boy supaya dia tidak berlama-lama di bandara.


Boy terpaksa mengikuti langkah Marsha tanpa banyak protes lagi. Dia merasa hukuman kali ini tidak akan mudah. Tapi kalau itu bisa membuat Marsha senang, Boy akan melakukan apa yang Marsha inginkan.