
Boy menggunakan kacamata hitamnya sebelum masuk ke dalam gedung. Beberapa orang di sana menatap Boy dengan takjub. Penampilan Boy sudah mirip sekali Boy band Korea dengan rambut hijau dan sepatu kuning yang mentereng.
Boy berjalan menghampiri 2 wanita yang berada di front desk. Wanita itu saling menyenggol ketika Boy mendekati mereka.
"Hai nona cantik.." Sapa Boy ramah. "Di mana lokasi syuting iklan.." Boy kembali membaca tulisan di ponselnya. "Iklan sabun Secret?"
"Lantai 10, Pak." "Anda ingin menemui siapa?" salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya pada Boy.
"Marsha Lee." "Okey, nanti kita ngobrol lagi ya.." Boy tersenyum setelah berhasil menebar pesona pada wanita-wanita yang tengah gugup itu.
'Sayang sekali, aku harus ingat kalau aku sudah menikah.' batin Boy sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
Lift berhenti di lantai 10. Boy melongok kan kepalanya ke arah pintu yang sedikit terbuka. Dari pengamatan Boy, sepertinya itu ruangan yang benar. Dia memperhatikan sekeliling mencari sosok Marsha atau Ken.
"Anda cari siapa?" seorang pria yang menggunakan kaos hitam berlogo stasiun televisi membuka pintu sehingga Boy hampir saja terjungkal.
"Apa Marsha di sini?"
"Ya, dia sedang berganti pakaian."
Boy masuk ke dalam. Dia dengan percaya diri langsung menemui sutradara yang sedang bersiap di kursinya dan bercakap dengan seseorang.
"Marsha selalu saja terlambat. Dia membuang waktu ku selama 3 jam." omel sutradara pada script writer yang berdiri di sebelahnya.
"Ya, anda tau sendiri siapa Marsha Lee. Kita tidak bisa protes, Pak."
"Ehem." Boy berdehem membuat kedua orang itu kompak menengok ke arahnya.
"Kamu undang Boy band korea?" tanya sang sutradara bingung.
Script writer menggeleng.
"Saya mau menemui Marsha.. Dan ini untuk kalian." Boy menyerahkan 2 kotak besar kue yang di belinya sebelum ke sini.
"Thanks,, tapi anda siapa?" Sutradara merasa pernah bertemu dengan Boy, tapi entah di mana.
"Boy.." panggil Marsha yang baru saja kembali dari ruang make up.
"Sayang,, aku mengantarkan ponsel mu." Boy menarik Marsha ke dalam rangkulannya. Tidak sampai di situ saja, Boy juga mengusap pipi Marsha dengan punggung tangannya.
Marsha bergidik ngeri karena melihat akting Boy yang begitu fasih. Dia mengambil ponselnya dari tangan Boy, lalu segera mendorong Boy supaya menjauh.
"Kenalkan, ini Boy. Suami aku." Marsha memberi penjelasan karena seluruh ruangan menatapnya tajam seolah menuntut sebuah penjelasan dari Marsha.
"Maaf, karena Marsha tadi kesiangan. Semalam kami baru saja.." Boy menghentikan ucapannya karena mendapat cubitan di pinggangnya.
"Kamu tidak ada pekerjaan?" kata Marsha kesal.
"Ya, aku akan mengantar Mom check up."
"Oh iya aku lupa." Marsha menepuk jidatnya karena untuk kesekian kali, dia melupakan jadwal check up Ny.Lee. "Ken.." panggil Marsha.
Ken mendekat ke sumber suara. "Baik nona, saya akan mengantar Nyonya." sahut Ken yang sudah tahu maksud dari Marsha.
Boy menahan tangan Ken yang hendak pergi. "Tidak perlu, Ken. Aku sudah berjanji untuk mengantar Mom. Kamu jaga saja istriku di sini." ucap Boy pada Ken. "Sayang, aku pergi dulu,, cepat pulang karena aku merindukan kamu." Boy beralih pada Marsha. Dia mengecup pipi Marsha, lalu mengacak-acak rambutnya.
Tindakan Boy itu sukses membuat seluruh orang di ruangan itu baper. Mereka gemas sekali dengan Boy yang sangat romantis. Bahkan sutradara yang sedang kesal, jadi cekikikan sendiri melihat interaksi pasangan baru tersebut.
"Halo, Mom ku yang cantik." Sapa Boy begitu Ny.Lee masuk dengan salah satu asisten pribadinya.
"Mana ada wanita 65 tahun yang cantik, Boy." ucap Ny.Lee kesal. Boy terlambat menjemputnya setengah jam dan itu membuat Ny.Lee ngambek pada menantu nya itu.
"Ya, mom satu-satunya yang masih sangat cantik." puji Boy lagi.
"Cepat jalan, jangan merayu." Ny.Lee memukul tangan Boy dengan tongkatnya.
"Pantas saja Marsha suka memukul, ternyata menurun dari Mom nya." protes Boy.
"Booooy.." teriak Ny.Lee, kali ini sambil menjewer telinga Boy.
"Ampuun Mom.."
Asisten Ny.Lee tertawa geli melihat Boy dan mertuanya yang terlihat sangat akrab. Jarang sekali Ny.Lee bertindak begitu ekspresif seperti ini.
"Mom, Boy janji akan ajak Mom makan es krim setelah ini." pinta Boy dengan memelas.
Akhirnya Ny.Lee melepaskan Boy. Dia cukup terkejut karena Boy tau makanan kesukaannya.
Boy memegangi telinganya yang merah. Dia heran, kenapa orang tua seperti Ny.Lee yang punya penyakit jantung bisa sekuat itu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya Boy menjalankan mobilnya. Dia takut Ny.Lee kembali marah dan memukulinya tanpa ampun.
Perjalanan ke rumah sakit sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi, mereka baru sampai 1 jam kemudian. Boy yang biasa menyetir dengan ugal-ugalan, kini terpaksa harus mengurangi separuh kecepatannya berhubung Ny.Lee meminta untuk pelan-pelan.
Begitu sampai, mereka bertiga turun dan langsung menuju ke ruangan Dr.Samuel yang notabene adalah sohib Boy.
"Wah, menantu yang hebat." puji Sam ketika melihat Boy mengantarkan Ny.Lee.
"Hebat apanya. Juna tidak pernah terlambat. Dia baru satu kali sudah terlambat." omel Ny.Lee.
"Mom, jangan bandingkan aku dengan Juna." Boy bercak pinggang karena Ny.Lee membandingkan dirinya dengan orang lain.
"Itu kenyataan, Boy."
"Anak Mom juga selalu bangun kesiangan."
"Hey, jangan bicarakan aib orang di sini. Terima saja kekurangan Marsha."
Sam memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi sakit kepala yang mendadak muncul karena tingkah 2 orang yang sedang asyik bertengkar itu.
"Kalau kalian masih lama, aku akan cek pasien yang lain dulu." ucap Sam tegas.
"Tidak. Kami sudah selesai." kata Ny.Lee dan Boy bersamaan.
Boy duduk diam di kursi, sementara Sam beranjak untuk memeriksa Ny.Lee.
"Semua baik, tante. Sepertinya anda jauh lebih sehat karena memiliki menantu seperti Boy." Sam menengok ke arah Boy yang terlihat masih asyik bermain game online. Dia bisa membayangkan bagaimana repot nya Ny.Lee dan Marsha mengurus pria aneh seperti Boy.
"Ya, meskipun dia norak, tapi Boy sangat penuh kejutan." ucap Ny.Lee sambil tersenyum. Dia dapat dengan mudah beradaptasi dengan Boy, dan pasti Marsha juga bisa beradaptasi dengan pria itu.