You're My Boy

You're My Boy
Mengikuti istri-part 1



Marsha tertawa mendengarkan pernyataan Boy yang terkesan seperti bercanda. Mengikuti seharian?


"Boy, kamu ga ada kerjaan ya?"


"Kerjaan ku fleksibel." kata Boy sambil menunjukan ponselnya pada Marsha.Sebelum menikah dengan Marsha pun, Boy memang lebih banyak bermain daripada bekerja.


"Tapi, tidak perlu. Ken akan menjaga aku seharian." sanggah Marsha lagi. Dia berharap kali ini Boy dapat berpikir dan menyerah.


"Ken, cuti. Besok dia baru kembali."


"What?" Marsha baru sadar, kalau kemarin malam dia tidak melihat sosok Ken. "Tapi, kenapa dia tidak bilang.."


"Sudahlah.. ayo, cepat." Boy meraih tangan Marsha, lalu menariknya keluar kamar. Marsha sedikit kewalahan karena langkah Boy yang besar-besar.


Hari ini Boy menggunakan mobil Land Rover milik Marsha. Dia melemparkan tas Marsha ke belakang, lalu memasangkan sabuk untuk istrinya yang masih saja bengong.


"Boy, aku sendiri saja, plis."


"Tidak bisa, kita pergi ke gym sekarang."


Boy menjalankan mobil setelah dia menggunakan kacamata hitamnya. Perasaan Marsha jadi tidak enak. Entah akan apa lagi yang Boy perbuat hari ini.


Marsha memilih gym di sebuah hotel bintang 5. Dia sudah berlangganan di situ beberapa bulan belakangan ini, jadi beberapa orang sudah mengenalnya.


Boy yang juga suka gym, mengambil kesempatan ini untuk ikut berolahraga bersama istrinya. Dan dia baru sadar ternyata kehadiran Ken memang di perlukan di sini karena 75% pengunjung yang Boy lihat sekarang adalah pria.


"Hey, beb..Baru keliatan." seorang pria bertubuh bak Ade Rai menghampiri Marsha dan langsung cipika cipiki dengannya. "Mana si Ken?" pria itu mencari keberadaan bodyguard Marsha.


"Dia sedang cuti." "Kenalin Steve, ini Boy, suami gue."


Steve menjabat tangan Boy erat. Dia memandang Boy dan Marsha yang berdiri sebelahan. Mereka tampak terlihat sangat serasi. Yang satu seperti artis Korea dan satunya seperti boyband k-pop yang disukai anaknya.


"Kalian mesra sekali olahraga bersama." ucap Steve sembari menepuk pundak Boy.


"Apa latihan hari ini Steve? Aku sudah naik 5 kg." keluh Marsha pada PT nya itu.


"Ya, dan karena lemak itu hidupku jadi sial." celetuk Boy.


Steve mencubit lemak perut Marsha di depan Boy.


"Kamu pemanasan dulu, lalu sit up 20x3."


Boy memandang Steve yang dengan santainya menyentuh tubuh Marsha dan Marsha tampak tidak keberatan dengan perlakuan Steve.


Marsha mulai melakukan stretching. Dia melakukan gerakan-gerakan seperti biasa.


Boy melakukan hal yang sama sambil melihat ke sekeliling. Mata para lelaki di sana tidak berhenti menatap Marsha.


"Kenapa para wanita suka sekali mengumbar badannya?" ucap Boy lirih.


"Apa Boy?" Marsha melepas ear phone nya lalu menengok pada Boy.


"Enggak, kamu sangat jelek kalau gendut." kata Boy asal.


Boy melepaskan jaketnya, lalu melemparkan ke arah Marsha. Marsha yang tidak siap menangkap, harus menerima ketika jaket itu jatuh tepat di wajahnya.


Marsha menatap bagian perutnya. Memang sedikit berlipat, tapi itu tidak masalah. Ada yang lebih gemuk dan mengenakan pakaian seperti ini pun mereka tampak percaya diri. Tapi karena Boy terus melihatnya, akhirnya Marsha mengikuti apa kemauan Boy.


Setelah pemanasan, Steve kembali untuk membantu Marsha untuk melakukan sit up. Marsha tiduran di matras, sedangkan Steve memegangi kaki Marsha.


"Aku harus menggantikan tugas Ken." ucap Steve sambil menengok pada Boy.


'Jadi, Ken yang memegangi Marsha seperti itu? Wah, dia menang banyak.' komplain Boy dalam hati.


"Aku saja, yang lakukan." Boy mengalihkan Steve. Dia memegang kaki Marsha dengan kuat.


"Cepat, gendut." ucap Boy tidak sabar karena Marsha tidak kunjung melakukan sit up.


Marsha akhirnya melakukan sit up dengan Boy yang memeganginya. Dan setiap kali bangun, wajahnya begitu dekat dengan wajah Boy.


"Boy, kenapa wajah mu memerah?" tanya Marsha di sela-sela sit up nya.


"Di sini panas sekali. Apa AC nya mati?" Boy mengipas dengan satu tangannya.


"Pegang yang benar, Boy." protes Marsha karena Boy melonggarkan pegangannya.


"Apa?" Boy yang tidak mendengar Marsha sedikit maju ke depan, tapi dia malah mendapatkan bibir Marsha yang baru saja bangun.


'Cup'


"Booy..." Marsha langsung berontak. Begitu juga Boy langsung melepas Marsha dan menjauhkan badannya.


"Kamu lupa perjanjiannya?" Marsha mengelap bibirnya dengan punggung tangan berulang kali.


"Yang mencium aku itu, kamu." Boy lebih tenang dari Marsha. "Bukan kah kamu sudah sering melakukannya dengan Juna?"


"Apa Juna terlihat mencintaiku?" Marsha menunduk lesu. Selama pacaran dengan Juna, Marsha tidak pernah lebih dari sekedar mencium pipi saja. Kini malah Marsha mengingat kembali momen-momen nya dengan Juna.


"Hey, kenapa menangis?" Boy melihat air mata Marsha mengalir turun. Orang-orang memandang mereka karena Marsha dan Boy tadi berteriak.


"Kenapa Sya?" Steve menghampiri mereka.


"Dia melukai ku." adu Marsha.


Boy membulatkan matanya. Cara Marsha memainkan playing victim begitu bagus sekali. Steve membantu Marsha berdiri, lalu dia maju berhadapan dengan Boy. Tinggi mereka memang sejajar, tapi body mereka jauh berbeda.


"Kenapa kamu seperti itu, Boy? Kami menjaga Marsha dengan baik, tapi suaminya sendiri malah membuat dia menangis."


"What?" Boy begitu terkejut dengan ucapan Steve. Mereka semua menjaga Marsha dengan begitu baik? Apa mereka suaminya? keluarga nya?


Boy melirik ke arah Marsha yang sedang cekikikan di belakang Steve. Rupanya Marsha ingin bermain dengan Boy.


"Sayang, maafkan aku. Aku sudah salah karena melukai perasaanmu." Boy menarik Marsha ke dekatnya. Dengan fasih, satu tangan Boy melingkar di pinggang Marsha, satu tangannya yang bebas membelai rambut wanitanya dengan penuh kasih sayang. Tidak sampai di situ, Boy mendekatkan wajahnya, lalu kembali mengecup bibir Marsha.


"Jangan main-main dengan Boy." bisik Boy lirih.


Marsha begitu kesal dan malu dengan tindakan Boy yang menciumnya di depan umum. Dia mendorong kuat tubuh Boy, lalu pergi keluar dari tempat itu. Moodnya hancur berantakan karena tingkah Boy yang selalu saja berakting mesra di depan orang lain.


"Biasa, lagi PMS." ucap Boy pada Steve. Boy menepuk lengan Steve, lalu dia pergi mengikuti istrinya yang ngambek itu.