
Suasana di meja makan begitu hening. Baik Boy dan Marsha tidak ada yang berani bicara karena Sania begitu menakutkan sekarang. Boy bahkan tidak menyangka jika Sania bisa marah dan serius seperti ini.
"Marsha, menantu Mom yang paling cantik.." Sania memulai pembicaraan setelah dia jauh lebih tenang.
"Ya, Mom."
"Mom tau, sejak kecil kamu tidak pernah hidup susah." "Mom juga sama seperti mu, tidak pernah hidup susah." "Tapi, Mom lebih baik dari kamu, karena Mom bisa bangun jam 6 pagi." Sania mulai menasehati Marsha dengan membandingkan dirinya dengan Marsha.
"Maaf, Mom.. kalau bangun pagi, Marsha tidak bisa." jawab Marsha pasrah.
"Marsha, kamu harus belajar jadi istri yang baik." "Yah, oke jika kamu tidak bisa bangun pagi, tapi kamu harus bisa mengurus kebutuhan suami mu."
"Kebutuhan apa Mom?" tanya Marsha bingung dengan perkataan Sania yang terdengar random di otaknya.
"Semuanya. Rohani, jasmani dan emosi."
Boy bertepuk tangan karena dia kagum dengan Sania. Jarang sekali Mom nya ini berkata dengan benar.
"Diam Boy, sebentar lagi giliran kamu." Sania memperingatkan Boy.
"Kamu lihat penampilannya Boy sekarang?"
Marsha menatap Boy yang masih menggunakan Boxer. Dia memang selalu seperti itu sejak menikah.
"Tolong kamu belikan baju-baju tidur yang bagus untuk Boy. Bila perlu kalian pakai baju couple." "Kamu juga harus belajar masak dan membersihkan setidaknya kamar mu sendiri." pesan Marsha.
"Iya mom.." kata Marsha tanpa berani menatap Sania.
'Beli baju tidur? Aku akan belikan dia baju planet luar angkasa.' batin Marsha.
"Satu lagi.." Sania melirik ke arah Boy dan Marsha bergantian.
"Kalian itu tahu cara buat anak yang benar tidak?" omel Sania. Sudah beberapa bulan menikah, Sania belum juga mendengar kabar kehamilan Marsha.
"Tau, Mom." jawab Boy cepat.
'Cih.. melakukan saja tidak mau. Kenapa dia bisa menjawab cepat sekali.' protes Marsha di dalam hati.
Sania mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Dia mengeluarkan bungkus obat yang berisi beberapa butir pil.
"Marsha.. kamu minum ini.."
"Apa ini mom?" Marsha menerima obat itu sambil membolak balik bungkusnya.
"Itu obat penyubur kandungan, supaya kamu cepat hamil."
"What?" ucap Boy dan Marsha bersamaan.
"Mom sudah tidak sabar ingin menggendong cucu."
Sania merebut kembali obat itu. Dia mengambilnya satu dan meletakkan nya di tangan Marsha.
"Sudah, minum saja Mars."
Marsha menatap obat di tangannya dengan ragu-ragu. Masalahnya, walaupun dia habiskan obat dari Sania itu, sudah dipastikan 100% dia tidak akan hamil.
"Ayo.."
Marsha akhirnya pasrah. Dia harus meminum obatnya di depan Sania supaya mertuanya itu percaya.
"Mom.. seperti nya itu akan lama, karena Boy tidak mau..." ucapan Marsha terhenti karena Boy bergerak cepat untuk membungkam mulut Marsha dengan tangannya.
"Boy.. kamu kenapa sih. Mom jadi curiga.. jangan-jangan kalian itu.."
"Tidak, mom.. kami berdua sangat mesra. Iya kan, sayang?" Boy menangkap wajah Marsha dengan kedua tangannya, lalu dia mencium bibir Marsha di depan Mom nya.
"Berhenti." "Sudah lah, mom pusing melihatnya." Sania berdiri. Dia harus segera pergi sebelum menyaksikan adegan 17 tahun ke atas itu.
Boy mengantar kan mom nya ke depan. Dia tidak lupa membawa Marsha dengan merangkul pinggangnya mesra.
"Marsha, ingat pesan mom ya.." "Kalian buat lah anak yang rajin."
"Mom.. sudah lah.. Mom pergi saja.." usir Boy dengan halus.
Boy dan Marsha menunggu sampai mobil Jessica pergi dari halaman mereka. Marsha memandang Boy yang masih merangkulnya. Setiap berdekatan dengan Boy seperti ini, rasanya jantung Marsha ingin melompat keluar. Apalagi saat ini Boy bertelanjang dada. Tanpa sadar tangan Marsha bergerak untuk menyentuh dada bidang milik Boy.
"Mars.." Boy terkejut ketika Marsha menyentuhnya dengan mesra. Dia sedikit mendorong tubuh Marsha untuk menjauh.
"Boy, aku sangat suka ciuman kemarin malam." aku Marsha jujur. Setiap melihat wajah Boy, Marsha teringat lagi kejadian kemarin malam di kolam renang.
"Mars..kamu sudah gila." Boy melepaskan tangan Marsha yang kini menyentuh bibirnya.
"Mooooooom.." Boy berteriak karena baru sadar rencana licik Sania. Pasti dia memberikan obat yang lain, bukan penyubur kandungan.
"Boy, kenapa kamu selalu mengabaikan aku?" tanya Marsha bingung. Marsha bergerak untuk melepaskan kaosnya, tapi Boy segera menahan nya karena Bibi sedang melihat mereka.
Boy menggendong Marsha ala karung beras dan membawa istrinya yang sudah mulai menggila itu pergi ke atas. Dia memasukan Marsha ke kamar mandi, lalu mengunci nya di sana.
"Boy.. kenapa kamu kunci aku." "Buka Boy.." Marsha menggedor pintu dengan cukup keras.
"Cepat mandi.. aku tidak akan membuka sampai kamu tenang." teriak Boy.
'Tahan Boy.. Tahan.. Mom memang pintar, tapi waktu nya tidak tepat.' Boy memijit kepalanya yang pusing.