You're My Boy

You're My Boy
Nasib Ken



Acara makan malam dadakan itu berakhir juga. Boy membantu Bibi untuk membereskan piring-piring karena dia tidak tega dengan kerusuhan yang dibuat oleh keluarga nya tadi.


Boy membiarkan Marsha untuk berbincang dengan Ny.Lee dan juga Ken di ruang tengah. Ya, sesuai dengan janji Boy, Ken kembali ke rumah ini untuk menjadi bodyguard Marsha. Dia memang cemburu, tapi Boy sedikit lebih tenang karena sepertinya Ken sudah tidak mengharapkan Marsha.


"Ini, jeruk anda, nona." Ken memberikan jeruk yang sudah dikupas dan dibuang seratnya kepada Marsha. Dia mengambil satu jeruk lagi, lalu melakukan hal yang sama untuk diberikan pada Ny.Lee.


"Ken, ke mana saja kamu selama beberapa bulan ini?" tanya Marsha penasaran.


"Saya hanya mengawasi nona Jessica." jawab Ken datar.


"Bagaimana Jessica?"


"Ya, dia sama seperti suami anda. Jahil dan cerewet."


"Maksud ku, apakah Marcel masih mengikutinya?"


Ken menengok ke arah Marsha dengan perasaan malu. Ken pikir, Marsha bertanya tentang kepribadian Jessica.


"Marcel sudah berada di luar negeri."


"Bagus lah. Jadi, sekarang kamu bisa mendekatinya." Marsha menepuk pundak Ken sambil tertawa senang.


Ken tidak bereaksi. Dia sudah menyelesaikan jeruknya, lalu dia memberikan jeruk itu pada Ny.Lee yang sedang menunggu.


"Marsha benar, Ken." "Kamu dengan Jessica saja." Ny.Lee yang tidak suka ikut campur, sekarang justru sangat semangat untuk mendukung Ken.


"Tapi, anda tahu sendiri bagaimana keluarga Jessica. Aku ini bukan orang kaya." Ucap Ken lirih.


"Ken, kamu sudah aku anggap sebagai anak sendiri. Kamu bisa kelola satu perusahaan milik keluarga Lee. Aku akan berikan secara cuma-cuma." Ny.Lee menepuk pundak Ken yang tampak galau. Baru kali ini Ny.Lee melihat bodyguard Marsha yang biasanya tegas, sekarang jadi loyo tak bertenaga.


"Apa kalian membicarakan adik ku?" Tiba-tiba Boy datang dan menginterupsi pembicaraan mereka. Dia merebahkan badan di samping Marsha dan bersandar padanya.


"Ya, apa kamu setuju jika Ken dengan Jessica?" tanya Marsha sambil menyuapkan jeruk pada Boy.


"Asal Ken tahan dengan Jessica, aku setuju saja."


"Sudah ada lampu hijau, Ken.. kamu tinggal tancap gas saja." Marsha cekikikan sendiri membayangkan Ken kerepotan mengurus Jessica.


"Mom, mau ke mana?" Boy mencegah Ny.Lee yang berjalan ke arah atas. "Kamar tamu ada si sebelah sana." Boy menunjuk ke arah depan, di mana kamar tamu berada.


"Mom tidak akan tidur di sana. Mom akan tidur di kamar kalian." ucap Ny.Lee tegas.


"Lho, tidak bisa begitu Mom. Namanya suami istri itu harus tidur berdua." jelas Boy.


"Boy, apa kamu lupa, kamu sudah janji akan menuruti mom selama satu bulan?"


"Lupa mom. Janji apa ya?" jawab Boy pura-pura tidak tau.


"Mom masih punya rekamannya, Boy. Kamu pikir Mom itu bodoh."


"Janji apa sih?" tanya Marsha bingung.


"Oke-oke Mom. Mom akan tidur di kamar Boy." Boy mengibarkan bendera putih. Ny.Lee tidak akan menyerah lebih dulu, jadi Boy yang lebih muda harus mengalah.


"Sini, Boy gendong Mom supaya cepat sampai." Boy menawarkan punggungnya di hadapan mertuanya. Ny.Lee tanpa ragu menyambut tawaran Boy.


"Ken, kamu juga istirahat. Besok kita bicarakan lagi." Marsha berdiri dari sofa, lalu mengikuti Boy dan Mom nya ke atas.


*


*


*


Ny.Lee benar-benar menguji kesabaran Boy. Dia tidur di antara Boy dan Marsha, membuat Boy malam ini jadi tidak dapat bermesraan dengan Marsha.


"Sayang, makasih ya.." ucap Marsha setengah berbisik, karena takut Mom nya yang sudah tertidur jadi bangun lagi. Marsha cukup terharu karena Boy memperlakukan Mom nya dengan lembut, meskipun tampak, sekali dia sedikit kesal.


"Aku akan tidur di sofa, supaya kalian lebih nyaman." Boy mengambil bantalnya, lalu dengan sadar diri berpindah ke sofa. Boy harus paham kalau Ny.Lee pasti merindukan Marsha.


"Daddy, tidur dulu ya sayang." Boy berpamitan dengan mencium perut Marsha. "Kamu juga tidur ya, sayang." setelah itu, giliran Boy mencium kening Marsha.


"Bersabarlah satu dua hari ini ya sayang.." Marsha mengusap pipi Boy supaya dia bisa bersabar.