
Marsha meraba ranjangnya mencari sesuatu. Tapi dia tidak menemukan apapun. Perlahan Marsha membuka matanya. Hal yang pertama di lihat adalah Boy yang sedang duduk bersandar di sofa sambil membuka laptopnya.
Marsha menatap suaminya, mencari tahu apakah suami nya itu masih marah. Boy yang biasa begitu ekspresif, akhir-akhir ini ekspresinya tidak dapat terbaca.
"Kemarin kamu ke mana, Boy?" Marsha bersandar pada head board.
"Tentu saja kerja." jawab Boy tanpa menengok.
"Kenapa kamu tiba-tiba rajin kerja?"
"Itu lebih baik bukan, daripada jiwa kita terancam." Sindir Boy.
Fix. Boy masih marah dengan Marsha. Marsha tidak melanjutkan berdebat lagi dengan Boy. Dia bangun dari ranjang, lalu melepaskan lingerie tepat di depan Boy.
"Apa otak mu sudah tidak waras? kenapa buka baju di sini?" Boy masih sibuk dengan laptopnya.
"Tentu saja mau mandi." "Lagipula kamu juga sudah lihat semua nya." Ucap Marsha cuek. Dia masuk ke dalam kamar mandi karena tampaknya Boy juga tidak merespon kode dari Marsha.
Boy menghela nafas panjang. Dia menutup rekaman CCTV yang baru saja di lihatnya. Ya, sejak tadi sebenarnya Boy melihat dengan jelas apa yang Marsha lakukan, lewat rekaman di laptopnya.
"Marsha sekarang lebih menakutkan." Ucap Boy sambil mengelus dadanya. "Aku lebih baik berangkat kerja saja."
Boy tersenyum senang karena dia berhasil mengerjai Marsha dengan berpura-pura marah. Bahkan Boy mendapat bonus dari Marsha karena sekarang tampaknya istrinya itu lebih aktif dan tidak malu-malu seperti dulu. Ini perkembangan bagus untuk hubungan mereka. Boy harus terus bermain playing hard to get. Ternyata rencananya ini cukup berhasil untuk melihat seberapa dalam Marsha mencintai Boy.
Di ruang makan, Ken menatap Boy dengan tajam. Pria itu terlihat tidak bersalah sama sekali setelah semalaman membuat Marsha menunggu. Apakah Boy sengaja mempermainkan Marsha?
"Mata mu bisa copot kalau memandang aku seperti itu, Ken." Sindir Boy.
"Maaf Tuan, apa anda sudah bicara dengan Nona Marsha?"
"Apa hubungannya dengan mu, Bear?" Boy menatap Ken dengan curiga. Boy bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat perasaan Ken pada Marsha. Dia tahu persis Ken menaruh hati pada istrinya itu.
"Nona Marsha sudah menunggu anda semalaman. Kenapa anda mengabaikan istri anda sendiri?"
"Diam, Bear. Aku tidak ingin berdebat dengan mu."
"Kalian bicara apa?" Marsha turun dengan tank top ketat dan juga celana jeans mini. Dia mengambil tempat duduknya. Seperti biasa, Ken menyiapkan makanan untuk Marsha. Sereal dan susu.
Kedua pria itu tampak tidak menjawab pertanyaan Marsha. Boy masih diam karena berpura-pura marah pada Marsha, sedangkan Ken tidak ingin Marsha tau kalau dia mengkhawatirkannya.
"Boy, hari ini aku mau syuting iklan lagi." Kata Marsha yang sebenarnya meminta ijin pada Boy.
"Hmm.."
'Kenapa Marsha begitu suka pakai baju yang ketat? Besok aku akan buang semua baju yang kurang bahan itu.' protes Boy dalam hatinya.
Boy menghabiskan air minumnya, lalu berdiri dari kursi. Dia sudah tidak tahan lagi akting, karena sebenarnya dia ingin menjitak Marsha dan melarangnya untuk pergi.
"Tunggu, sayang." Marsha menahan tangan Boy. Dia berdiri di depan Boy, lalu membenarkan dasi Boy yang tampak miring. "Kerja yang rajin, sayang." Marsha menatap Boy dalam. Dia menarik dasi Boy hingga pria itu membungkuk dan..
Marsha memberikan sebuah ciuman singkat untuk Boy. Sebuah morning kiss sebelum Boy pergi.
Boy cukup terkejut dengan tindakan Marsha, tapi dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan ekspresinya supaya tetap datar. Padahal dalam hati, semua sell Boy bersorak gembira. Tenaga Boy bertambah hingga 100 persen karena perlakuan romantis Marsha. Dan jika tidak sedang berpura-pura, Boy sudah pastikan dia akan membalas ciuman itu.
"Aku juga berangkat dulu." Marsha merapikan kemeja Boy sekali lagi, lalu berbalik pergi.
Ken mengikuti Marsha tanpa di komando. Baru setelah keduanya pergi, Boy tersenyum malu.
Bibi yang membereskan meja makan hanya dapat geleng-geleng kepala karena tingkah kedua majikannya yang begitu aneh.
*
*
*
Di mobil, Marsha terus terbayang dengan wajah Boy. Dia merasakan semalam terjadi sesuatu dengan Boy, tapi Marsha tidak terlalu mengingat nya dengan jelas.
"Anda masih memikirkan Tuan Boy?"
"Ya, bear." "Eh, maksudnya Ken." tanpa sadar Marsha mengikuti cara berbicara Boy.
Sepertinya otak Marsha rusak karena terlalu banyak memikirkan Boy.
"Semalam apakah anda minum banyak?" tanya Ken memastikan apakah Marsha mabuk.
"Tidak, Ken. Cuma sedikit pusing saja."
"Anda harus menjaga diri anda, nona." ucap Ken dengan nada peringatan.
"Hey, Boy bukan penjahat. Dia itu suami ku." komplain Marsha. Ken memang terlalu over protektif belakangan ini. Ken tidak membiarkan para kolega pria untuk berbicara lama-lama dengan Marsha. Bukan itu saja, setiap ada panggilan masuk dari pria, Ken meminta Marsha untuk me loud speaker teleponnya. Apakah Ken di suruh oleh Ny.Lee? atau Boy?
"Ken, aku rasa kamu perlu cari kegiatan lain." kata Marsha sambil menatap Ken yang sedang menyetir.
"Maksud anda?"
"Ya, kamu coba cari wanita,, supaya kamu bisa berfokus pada mereka." jelas Marsha. "Bagaimana dengan Jessica?"
Ken tersenyum sinis. "Lebih baik saya jomblo daripada pacaran dengan orang seperti Jessica."
"Hati-hati Ken, dulu aku mengatakan seperti itu juga pada Boy.. dan lihat hasil nya sekarang."
Ken terdiam dan tidak melanjutkan lagi karena takut ucapan Marsha juga akan menjadi kenyataan.
Marsha tertawa cekikikan melihat ekspresi Ken yang panik. Dia berdoa semoga Ken bisa menjadi adik iparnya. Pasti akan sangat menyenangkan jika itu terjadi.