You're My Boy

You're My Boy
Belajar masak



Boy terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang dia cari adalah Marsha. Istrinya itu tidak ada di ranjang. Apakah dia sudah bangun? Boy bertanya dalam hati. Dia bergegas ke kamar mandi dan walk in closet, tapi dia tidak menemukan keberadaan Marsha.


"Jangan-jangan dia kabur lagi." Boy berlari ke bawah secepat kilat. Tapi, langkah nya terhenti ketika melihat Marsha sedang memasak di dapur bersama Bibi. Boy mengucek matanya untuk memastikan jika dia tidak salah melihat.


"Mars.." dalam sekejap Boy sudah berada di belakang Marsha, lalu dia memeluk wanita itu dari belakang dengan erat. "Aku kira kamu kabur lagi." bisik Boy sambil mencium pipi Marsha.


"Boy, geli.. malu di lihat Bibi." omel Marsha.


"Biar saja.. Bibi sudah biasa melihat kita."


"Bibi biasanya lihat kalian teriak-teriak." sahut Bibi.


Selama Bibi bekerja di sini, Bibi lebih sering melihat majikannya bertengkar daripada mesra-mesraan seperti ini.


"Sudah sana,, tunggu di meja makan. Sebentar lagi makanan siap." Marsha mencium bibir Boy, lalu mendorongnya untuk pergi.


Boy menuruti Marsha. Dia masih terheran dengan perubahan Marsha. Seorang Marsha memasak sarapan? Terlihat sekali Marsha berusaha untuk menerapkan menjadi istri yang rajin.


Tidak sampai 5 menit, Marsha keluar membawa souffle pancake dan meletakkan nya di depan Boy.


Boy merangkul pinggang Marsha, lalu menariknya mendekat supaya wanita nya itu duduk di pangkuan Boy.


"Ini pertama kali aku masak, Boy." "Aku takut rasanya tidak enak." Marsha memotong pancake nya untuk Boy. "Aaaaaa.." Ucap Marsha sambil menyendok kan masakan nya ke arah Boy.


Sejujurnya, Boy juga tidak yakin pada masakan Marsha. Tapi karena tidak ingin mengecewakan Marsha, Boy akhirnya membuka mulutnya juga menerima suapan dari istrinya.


"Bagaimana Boy?" tanya Marsha penasaran.


Boy mengambil air putih dan langsung meneguk nya sampai habis.


"Rasanya semanis kamu." ucap Boy penuh arti. Artinya, pancake Marsha terlalu manis.


Marsha tampak kecewa dengan sindiran halus dari Boy itu.


"Hey, ini awal yang bagus.. Kamu bisa coba menu lainnya." hibur Boy sambil mengusap pipi istrinya.


"Lebih baik kita beli saja, Boy. Sudah pasti enak dan praktis." Marsha mengeluarkan ponselnya untuk memesan online.


"Noooo.. Kamu harus belajar." Boy merebut ponsel Marsha, lalu menyimpannya di saku celana.


"Boy, kembalikan.." rengek Marsha.


"Cium dulu." Boy mengerucutkan bibirnya dengan genit.


"Makin lama otak mu makin mesum saja." protes Marsha. Tapi, dia melakukan juga apa yang Boy inginkan.


Bibi geleng-geleng kepala melihat tingkah majikannya. Sejak kembali dari Korea, mereka makin mesra saja.


*


*


*


Marsha tidak menyerah untuk membuat makanan untuk suaminya. Kali ini dia memasak menu kesukaan Boy, yaitu capcay. Boy belum pulang, jadi dia bisa masak dengan tenang tanpa gangguan.


"Non, sudah sini Bibi aja yang potong." Bibi mencoba membujuk Marsha. Dia begitu takut melihat cara Marsha memotong daging.


kata Marsha yang masih berfokus memotong.


"Non, beli saja deh.. Tidak usah repot begini."


"Bi, aku itu ingin belajar menjadi istri yang baik. Jadi harus masak dong."


Marsha yang keras kepala tetap berkutat dengan pisau dan dagingnya.


"Aw"


Apa yang di takutkan Bibi menjadi kenyataan. Tangan Marsha terpotong pisau.


"Sayang, kenapa?" Boy yang baru saja pulang terkejut mendengar teriakan dari dapur. Dia mengambil tangan Marsha yang jarinya berdarah. Boy segera melakukan penanganan untuk mengobati Marsha. Dia membilas tangan Marsha dengan air mengalir di wastafel.


"Boy.. perih.."


"Apa kita perlu pergi ke rumah sakit?" tanya Boy panik karena darah yang keluar cukup banyak.


"Panggil saja ambulance."


"Ide bagus." Boy mengambil ponselnya dari saku.


"Boy, aku cuma bercanda." Marsha menahan Boy yang benar-benar akan menelepon ambulance.


"Ayo, cepat. Kita obati dulu." Boy membawa Marsha ke ruang tengah. Bibi dengan sigap membawakan majikannya kotak P3K sehingga Boy tidak perlu berteriak.


"Kamu tidak usah ke dapur lagi." Boy menarik kembali ucapannya tadi pagi. Melihat Marsha terluka membuat Boy merasa bersalah.


"Jadi, kita pesan makan ya sayang.." ucap Marsha senang. "Aku ingin makan chicken dan beer."


"Ya, kita akan makan itu saja." Boy tidak peduli apa yang akan dia makan, yang penting istrinya itu senang. Boy dengan telaten mengobati Marsha sambil sesekali memandang wajahnya.


"Beres." teriak Boy ketika selesai membalut luka Marsha dengan hansaplast.


"Oke, gomawo yeobo." ucap Marsha dalam bahasa Korea.


'Kruk-kruk.' suara dari perut Boy itu memecah keheningan di ruang tengah.


'"Maaf ya sayang, kamu jadi kelaparan." "Tadi nya aku ingin buat kejutan dengan masak makanan kesukaan mu." ucap Marsha sedih.


"Makanan kesukaan ku ada di sini." Boy mendekatkan diri pada Marsha, lalu menciumnya dengan lembut. Bibi yang sedang memperhatikan dari meja makan segera kabur ke belakang karena tidak mau menonton adegan 18 tahun ke atas itu.


(Kasihan Bibi.. 😂😂)


*


*


*


"Sayang.." Boy menepuk pipi Marsha yang sudah tertidur di meja makan. Dia baru saja selesai mencuci tangan, tapi ketika kembali, Boy malah mendapati Marsha sudah tertidur dengan mulut belepotan saus.


Marsha pasti kelelahan karena seharian berada di dapur. Boy membersihkan mulut Marsha serta tangannya, dengan tisu basah. Setelah bersih, Boy menggendong Marsha ke kamar.


"Nite sayang.." Boy mengecup kening Marsha dengan lembut. Boy begitu bersyukur karena istrinya sekarang jauh lebih baik.