
Boy menatap Jessica dengan pandangan yang membunuh. Bisa-bisanya Jessica berpikir ide gila untuk menawari Leana menginap di rumahnya. Dia sudah mondar-mandir lebih dari setengah jam karena tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk memarahi adiknya yang kelewat bodoh itu.
"Boy, kasihan dia itu sendirian." Jessica nekat membuka mulutnya.
"Jess, kamu tahu kan, aku sudah menikah." kata Boy menekan kata menikah.
"Tapi.."
"Tidak ada kata tapi. Cepat suruh dia pulang." Boy menghempaskan badan nya di sofa. Dia memandang Marsha yang sejak tadi hanya diam saja.
"Eonni,, kamu orang yang baik,, pasti kamu ijinkan Leana menginap di sini untuk beberapa hari, kan?" mohon Jessica.
Marsha kini bingung. Dia tentu tidak setuju dengan ide Jessica. Dia juga sangat ingin marah seperti Boy. Tapi, Marsha perlu ingat jika Jessica adik iparnya. Dia harusnya mengambil hati Jessica. Kalau Marsha marah, Jessica justru akan tidak menyukainya sebagai kakak ipar.
"Terserah kamu saja, Jess." akhirnya Marsha menyerah.
"Tuh kan. Aku sudah duga kalau Eonni itu yang terbaik." Jessica memeluk Marsha erat.
Marsha hanya tersenyum tipis.
"Tapi sayang.." Boy masih tidak percaya jika Marsha dengan begitu mudah mengijinkan Leana tinggal di sini.
"Oppaaa.. ayo lah.." Jessica merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Boy.
Boy memijit kepalanya yang sakit. Dia baru saja pulang, dan harus di hadapkan dengan hal membingungkan seperti ini. Jika keadaan hari ini di bikin sinetron, maka judulnya menjadi: Aku tinggal bersama dengan istri dan mantan ku juga orang yang menyukai istriku.
"Hanya satu minggu, Jess. Setelah itu, kamu dan dia harus pergi dari sini, kembali ke alam kalian." tegas Boy.
Jessica berteriak kegirangan. Dia mencium pipi Boy dan juga Marsha bergantian.
"Sudah sana keluar. Jangan ganggu kami." Boy mendorong Jessica untuk keluar dari kamarnya.
Boy merasakan hawa dingin di belakangnya. Dia menengok dan benar saja, Marsha sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu menyeramkan.
"Kamu senang kan, Leana bisa di sini?" ucap Marsha dengan nada sinis.
"Tapi, tadi kamu ijinkan juga.." Boy menghampiri Marsha yang sedang kesal itu.
"Boy, kenapa adik mu begitu bodoh? Apa dia tidak tau perasaan ku sebagai kakak iparnya?" Marsha berdiri untuk membantu Boy melepaskan dasinya.
"Ya, mungkin Mom salah bikin." kata Boy asal.
Marsha memukul dada Boy sambil tertawa. Bisa-bisa nya Boy bercanda pada situasi tegang seperti ini.
"Sayang, apa kamu takut aku tergoda oleh Leana lagi?" tanya Boy sambil melepaskan kemejanya.
"Tapi tenang saja Boy. Aku akan gunakan segala cara untuk menjaga suami ku." ucap Marsha lirih. Dia bergerak untuk memeluk Boy yang terlihat seksi tanpa pakaian.
Boy sedikit bingung dengan ucapan Marsha. Apakah itu termasuk kontasi yang positif atau negatif?
"Kamu sedang menggoda ku ya?" tanya Boy yang sudah mulai panas karena pelukan Marsha.
"Kamu tau Boy, semakin hari, aku semakin menyukai mu." Marsha berbisik dengan nada yang menggoda.
Tanpa basa basi lagi, Boy membawa Marsha ke ranjang. Marsha begitu pandai menggodanya. Boy tidak perlu repot membujuk istrinya itu.
"Boy. Stop." ucap Marsha tepat saat Boy sudah mulai akan melakukan hobi baru nya.
"Why honey?"
"Aku sedang datang bulan." Marsha meringis jahil. Ini adalah pelajaran untuk Boy yang tidak peka terhadap perasaan istri.
"Yah, gagal dong bikin Boy Juniornya." Boy mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus menunggu seminggu lagi untuk menyentuh Marsha.
"Baik lah, aku akan menghukum mu juga." Boy mengelitiki Marsha, membuat wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Boy, geli. Hentikan.." Marsha menahan tangan Boy. Tapi, tenaganya kalah besar.
"Cepat katakan aku cinta Boy sebanyak 100x." paksa Boy.
"No.. Dulu aku sudah bilang Boy ganteng. sekarang giliran kamu." protes Marsha.
Boy tidak mau kalah. Dia memiting Marsha sehingga Marsha tidak dapat bergerak.
"1.. 2." Boy mulai menghitung.
Marsha akhirnya mengalah untuk kedua kalinya. "Aku cinta Boy.. aku cinta Boy.." "Aku cinta Boy meskipun dia norak." tambah Marsha.
"Nyonya Setiawan.." ancam Boy. Dia mencium Marsha pada bagian sensitif nya sehingga Marsha menyerah lagi.
"Aku cinta Boy.. Aku cinta Boy.."
Boy tersenyum senang karena Marsha menurut. Dia melepaskan pitingannya, lalu mengganti dengan pelukan yang hangat. Beban Boy hari ini langsung hilang karena dia bisa mengerjai istrinya seperti ini.
Baru 5 menit, Boy sudah tidak mendengar suara Marsha. Rupanya istri nya itu sudah tertidur pulas.
"Good night sayang." Boy mengecup dahi Marsha yang tampak kelelahan.