
"Booooooy" teriakan Marsha menggelegar ke seluruh rumah. Ken yang sedang minum kopi di ruang makan otomatis berlari ke sumber suara.
Suara nyaring Marsha itu terdengar dari arah kamar tamu. Ken segera masuk. Betapa kaget nya dia ketika melihat Marsha yang terbelit selimut seperti kepompong.
"Jangan, Ken. Kamu keluar saja panggil Bibi ke sini." teriak Marsha tepat saat Ken akan melepaskan Marsha.
"Tapi..."
"Cepat...aku minta sekarang." ucap Marsha masih dengan nada tinggi.
Marsha hampir menangis karena dia menyadari jika dia tidak memakai baju. Dia melihat handuk nya tergelatak di lantai, dan itu artinya Marsha sekarang tidak berpakaian. Dia harus segera memastikan apa saja yang sudah Boy lakukan semalam.
Bibi alias pembantu Boy datang tergesa sambil membawa pakaian Marsha. Marsha baru berani membuka selimutnya ketika Bibi sudah pergi dan juga sudah ada pakaian di tangannya.
'Ku rasa semua aman.' Marsha sedikit lega setelah memastikan tubuhnya masih putih mulus dan juga dia tidak merasakan perubahan apapun dari tubuhnya. Tapi meski begitu, tetap saja Marsha sangat kesal dengan perbuatan suaminya.
Boy tidak bisa seenaknya mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Dan Marsha tidak akan lupa jika semalam Boy menyuruhnya untuk bicara 'Boy ganteng' sampai ratusan kali.
"Ken, mana si rambut hijau jelek itu." Marsha keluar dengan emosi. Dia menghampiri Ken sambil bercak pinggang.
"Nona.. itu.." Ken tampak bingung menjelaskan pada Marsha.
"Cepat bilang Ken. Aku harus menghajarnya dan menjambaknya sampai rambut Boy rontok." ucap Marsha dengan nada tinggi.
"Apakah perlu bantuan?" sebuah suara cempreng yang tidak asing membuat Marsha langsung terdiam. Dia menengok, dan si rambut biru tersenyum pada Marsha. "Pagi kakak ipar.. kenapa kamu begitu emosi dengan si rambut hijau jelek itu?"
"Sorry, Jess.. tapi itu memang fakta kan?"
"Ya, dia memang jelek dan menyebalkan." Jessica setuju dengan apa yang di katakan oleh Marsha.
Ken yang sudah bersiap melerai kedua nya, kini hanya bengong saat kedua wanita itu malah mengibahi Boy.
"Di mana Boy?" Marsha kembali ke pertanyaan pertamanya setelah menggosip panjang lebar.
"Boy sedang olahraga. Dia keluar pagi sekali." jelas Jessica. Sebenarnya Jessica tidak melihat kakaknya pergi. Saat sampai di rumah ini, Jess mendapat informasi dari Bibi.
"Lalu, kamu sendiri?" tanya Marsha bingung yang melihat Jessica ada di rumahnya.
"Boy menyuruhku untuk mengubah desain kamar kalian. Dan Tim ku sedang di atas sekarang. Jadi, kakak ipar tunggu saja di sini."
"Kamu sekolah desain?"
"Iya..Tapi Mom And Dad tidak mengijinkan aku bekerja selain di kantor Boy." curhat Jessica. "Aku hanya menerima job-job kecil saja dari keluarga dan temanku."
Marsha mengangguk mengerti. Ternyata di balik sifat manja Jessica, Jess cukup berbakat juga.
"Nona Jessi.. Bahan-bahan nya sudah siap." Bibi datang dan menginterupsi percakapan mereka.
"Okey Bi.. makasih.." "Eonni, kamu mau ikut aku masak?" Jessica kembali pada sifat manjanya dengan merangkul Marsha.
"Aku tidak bisa masak." tolak Marsha.
Di dapur, Bibi sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat siomay dimsum. Marsha yang notabene tidak pernah pergi ke dapur, hanya menonton saja saat Jessica memasukan ayam, telur, tepung, bawang dan bumbu-bumbu lainnya dalam chopper.
"Boy sangat suka sekali dimsum. Tapi kamu harus pastikan tidak ada udang di dalamnya." Jessica memberikan penjelasan pada Marsha.
"Kenapa dengan udang? Itu justru akan membuatnya semakin enak." kata Marsha sembari mengecek botol-botol yang tampak asing di depannya.
"Boy tidak suka udang."
"Permisi nona Jessi.." Seorang pria yang belepotan cat masuk ke dapur dan berdiri di belakang mereka. "Kami sudah hampir selesai. Apakah Nona ingin melihatnya dulu?"
"Eonni, aku ke atas dulu sebentar. Kamu tolong tutup ini, dan tekan tombol ini. Kalau sudah halus, matikan saja." Jessica menunjukan tombol yang harus Marsha pencet.
"Tapi.." Marsha tidak dapat melayangkan protes karena Jessica sudah pergi bersama pria itu.
"Kenapa jadi aku yang di suruh-suruh sih." omel Marsha. "Kenapa juga Jessica bikin kan ini untuk si Rambut Hijau." "Kenapa juga rambut hijau itu tidak suka udang?Bukan kah udang itu sangat enak?” Marsha diam sejenak untuk berpikir. Dia lalu berjalan ke dapur, dan mencari udang di chiller. Marsha menyunggingkan senyuman kecil. Boy tak suka udang, jadi ini kesempatan Marsha untuk membalas Boy. Dia menengok ke kanan kiri dan setelah memastikan tidak ada orang, Marsha memasukan udang ke dalam chopper.
*
*
*
Boy kembali dengan badan berkeringat. Dia menyambar gelas yang di pegang Marsha, lalu meminumnya sampai habis. “Halo sayang.. kamu sudah bangun?Bagaimana tidur mu semalam? Apakah nyenyak?” Boy memberondong Marsha dengan banyak pertanyaan sembari duduk di samping istrinya yang terlihat menahan emosi.
“Dia bilang oppa itu si rambut hijau jelek.” Jessica muncul dengan membawa 1 piring penuh dimsum.
“Ah, masa.. kemarin dia bilang aku ganteng.”
“Itu karena dipaksa.” Jawab Marsha kesal. Dia memandang penampilan Boy yang baru saja lari pagi. Outfit Boy dari atas ke bawah sama sekali tidak ada yang matching. Ganteng? Sepertinya Boy harus sering berkaca. Dia lebih cocok di sebut si norak hijau jelek.
Sedangkan Ken yang sejak tadi diam, kini berimajinasi tentang apa yang terjadi semalam. Sepertinya hubungan mereka semakin hari semakin baik. Yah, meskipun mereka selalu ribut seperti sekarang ini.
“Sudah,, kalian jangan ribut.” “Oppa,, tadi eonni bantu aku untuk buatkan ini.” Jessica bergelayut manja pada lengan Boy.
"Hati-hati, dia bahkan tidak bisa membedakan gula dengan garam." ucap Boy sambil tertawa.
Mendengar Boy yang menghinanya, Marsha mengambil dimsum di meja dengan sumpit, lalu memasukan itu ke mulut Boy yang masih tertawa.
"Coba dulu sayaang.."
Boy terkjut tapi akhirnya dia mengunyah apa yang sudah masuk ke dalam mulutnya sambil menatap Marsha dengan curiga. Ekspresi Boy seketika berubah karena ternyata makanan itu enak. Boy kembali mencomot dimsum nya dengan tangan.
"Oppa, aku sudah selesai renov kamar kamu. Bayarannya tolong segera di transfer. Aku pergi dulu ya.." Jessica berpamitan saat tim nya sudah mulai turun dari atas. Jess tidak lupa mencium pipi Boy yang tengah asyik makan.
"Bye eonni.." Jessica beralih pada Marsha dan hanya melambaikan tangan padanya.
"Ayo, kita lihat kamarnya.." Boy berdiri. Dia penasaran apakah Jessica mendesain kamar mereka dengan benar.