You're My Boy

You're My Boy
Tugas istri



Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Boy memarkirkan mobil sembarangan. Dia menempelkan sidik jarinya untuk membuka pintu.


Hari ini sungguh melelahkan sekali. Boy merasa tulang-tulangnya akan remuk sebentar lagi. Seharian, dia menemani wanita tua itu jalan-jalan. Setelah makan es krim, Ny.Lee tidak mengizinkan Boy pulang. Dia mengajak Boy untuk pergi ke dufan dan bermain di sana.


Ya, Dufan. Setelah Sam bilang keadaan Ny.Lee cukup baik, Ny.Lee langsung ingin mencoba wahana-wahana yang tidak terlalu ekstrim di dufan.


"Pergi ke mana saja kamu?" Marsha menyalakan lampu tengah, dan dia dapat melihat Boy sedang duduk di sofa.


"Tentu saja jalan-jalan dengan wanita lain." kata Boy kesal.


"Boy, kamu.." Marsha sudah siap mengomel, tapi fokusnya teralihkan karena telepon nya berdering.


"Sayang, apa suami mu sudah sampai di rumah?" tanya Nyonya Lee begitu telepon tersambung.


"Ya, mom. Baru saja pulang."


"Syukurlah. Seharian ini dia menemani Mom jalan-jalan dan mom sangat senang."


"Benarkah Mom?" Marsha terperangah mendengar Nyonya Lee berkata jika dia senang. Ny.Lee termasuk orang yang sulit untuk bisa dekat dengan orang lain. Ternyata Boy cukup hebat juga bisa menaklukan Mom nya itu.


"Ya sudah, kamu layani dia dulu." Nyonya Lee memutuskan sambungan telepon dengan sepihak, seperti biasa yang dia lakukan.


'Layani dia? Kata-kata Mom absurd sekali.' batin Marsha.


Marsha, berjalan melewati Boy yang sedang memejamkan mata. Dia pergi ke dapur untuk membuatkan Boy secangkir kopi.


"Ini, Boy." Marsha menyodorkan minuman yang telah di buatnya.


"Thanks." Boy menerima gelas dari Marsha dengan senang hati. Ini pertama kali Marsha menjalankan tugasnya sebagai istri, meskipun hanya membuatkan dia kopi.


"Terima kasih juga karena sudah mengajak Mom jalan-jalan." ucap Marsha dengan tulus. Dia duduk di sebelah Boy, sambil memandang wajah suaminya yang tampak lelah.


Boy cukup tersentuh dengan upaya Marsha. Terlebih ketika mendengar Marsha mengucapkan terima kasih. Jika hubungan mereka seperti ini terus, Boy yakin lama-lama dia akan jatuh hati pada Marsha.


"Minum, Boy.. nanti dingin."


Boy mengangguk. Dia menyesap kopi yang masih panas itu, tapi belum sempat melewati tenggorokan, Boy menyemburkan minum di dalam mulutnya.


"Marsha Lee, kamu mau bunuh aku?!" Kata Boy kesal.


Marsha tampak bingung kenapa Boy malah memarahinya. Dia mencoba minuman yang dia bikin, dan ternyata rasanya asin. Marsha sepertinya salah mengambil gula.


"Boy, aku sungguh tidak tahu kalau itu garam." Marsha membersihkan baju Boy yang basah dengan tisu.


Boy menghempaskan tangan Marsha. Emosinya memuncak karena dia sedang merasa lelah saat ini.


Boy meninggalkan Marsha sendiri di sana, sedangkan dia kembali ke kamarnya.


'Memangnya aku sengaja?' batin Marsha dalam hati. Dia meninggalkan begitu saja tisu, gelas dan lantai yang basah.


Ya, seumur hidupnya Marsha selalu dimanjakan oleh Ny.Lee. Dia tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga, karena Ny.Lee punya lebih dari 2 lusin pengawal dan pembantu di rumah mereka.


Marsha kembali ke kamar dan mendapati Boy sudah tertidur dengan bertelanjang dada. Ini keunikan mereka. Marsha sulit sekali bangun pagi, sedangkan Boy mudah sekali tertidur di malam hari. Dengan perlahan, Marsha menarik selimut untuk menutupi tubuh Boy. Marsha harus mengakui jika dia tidak bisa melihat terlalu lama jika Boy bertelanjang dada. Bagaimana pun juga Marsha adalah wanita normal yang mudah tertarik dengan lawan jenis.


"Boy, kamu itu menyebalkan, tapi kamu sangat lucu ketika sedang tidur." Marsha mengamati wajah Boy yang begitu polos dan seperti anak kecil.


Setelah cukup lama memandangi Boy, Marsha kembali ke ranjangnya. Dia harus tidur lebih awal karena besok ada jadwal untuk Gym.


*


*


*


"Marsha, ayo bangun." Boy menarik tangan Marsha dengan kasar.


"Emmm.. jangan ganggu aku." Marsha menepis tangan yang menariknya. Matanya sangat berat hari ini dan tidak bisa di buka. Marsha baru bisa tidur jam 3 pagi, karena Boy mendengkur begitu keras. Dia menarik kembali kata-kata jika Boy itu lucu. Ternyata Boy memang the real enemy.


Boy memutar otak supaya Marsha bisa bangun.


"Kalau kamu bangun sekarang, aku akan belikan kamu tas Prada yang terbaru."


Marsha membuka matanya. Dia bangun dengan sempoyongan, lalu berjalan ke kamar mandi untuk sikat gigi.


"Boy, aku pegang janji mu."' ucapnya dengan mulut yang sudah penuh busa.


'Astaga, memang wanita yang suka sekali menumpuk barang yang tidak berguna.' Boy menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Hampir 70% ruangan ini berisi barang Marsha, dan dia masih saja semangat mengumpulkan tas yang sudah 2 lemari penuh.


Boy kembali pada kegiatan bermain game nya sembari menunggu Marsha selesai. Dia sebenarnya tidak ingin membangunkan Marsha, Tapi saat Boy mengecek jadwal Marsha yang begitu padat hari ini, dia terpaksa harus membangunkan wanita itu.


Seperti biasa, Marsha bersiap cukup lama. Boy diam-diam mengamati pergerakan Marsha di kamar. Wanita itu bolak balik untuk mengambil perlengkapannya yang begitu banyak.


"Boy, aku berangkat." Marsha menenteng tas besar, lalu berpamitan pada Boy.


Boy melihat Marsha dari atas ke bawah. Dia menggunakan celana senam hitam yang ketat, dan juga baju senam kurang bahan yang mengekspose bagian perutnya.


"Tunggu." Boy melompat dari ranjang, dan menahan tangan Marsha.


"Aku akan ikut jadwal kamu seharian ini."