
Boy menyelesaikan sarapannya dengan tidak berselera.
"Tuan, ponsel Anda berdering." Ken sedikit membungkuk supaya Boy mendengarkan suaranya.
Boy tersadar. Dia melihat nama Jessica di layar. Boy membalik ponselnya tanpa berniat untuk mengangkatnya.
"Apa ada masalah kemarin, tuan?" Ken memberanikan diri untuk bertanya pada Boy yang sejak tadi melamun.
"Ken, kalau kamu ingin tau, kamu angkat dulu telepon dari Jessica." Boy mencoba bernegosiasi dengan Ken.
"Terimakasih Tuan, nanti saya bertanya saja dengan nona Marsha." Ken menolak mentah-mentah ide dari Boy. Daripada dia mengangkat telepon dari adik Boy yang 11-12 dengan kakaknya, lebih baik Ken mengurungkan rasa penasarannya.
"Boy.." Marsha muncul dengan rambut berantakan.
Ken dengan sigap menarik kursi untuk Marsha. Dia juga menuangkan sereal dan susu di mangkok milik Marsha.
"Boy, kapan kita sampai di rumah? " tanya Marsha bingung. Seingat Marsha, dia sedang makan malam bersama dengan Mr.Park dan mereka sedang menandatangi surat perjanjian. Tapi ketika bangun tadi, Marsha keheranan sendiri karena sudah berada dalam kamar. Makanya Marsha turun dan menemui Boy.
"Semalam saat masuk ke mobil, kamu langsung tidur seperti orang mati." jawab Boy sambil menatap dalam istrinya. Dia sudah memutuskan supaya Marsha tidak perlu tahu persoalan kemarin.
"Masa sih? Kok aku merasa ada hal yang terjadi." Marsha masih mencoba mengingat kembali apa yang dia bicarakan dengan Mr.Park, tapi dia bahkan lupa isi pembicaraan mereka karena terlalu mengantuk.
"Tidak perlu di pikirkan, yang penting kalian sudah tanda tangan kontrak kan?" Boy mengingatkan hal yang terpenting untuk Marsha. Semalam dia sudah memaksa Mr.Park untuk tanda tangan. Bukan tanpa alasan Boy melakukan itu. Dia memikirkan perasaan Marsha yang pasti sedih jika kontrak kali ini gagal. Impian Marsha adalah bisnisnya bisa go international. Boy bisa tahu hal ini, karena saat meretas ponsel Marsha, Boy menemukan notes Marsha yang lebih seperti buku diary dalam versi pendek.
"Iya.. berarti nanti aku harus ke Korea." ucap Marsha senang. Dia mulai makan sarapannya dengan lahap.
"Tidak perlu. Ken yang akan urus kerjasama dengan Mr.Park." Boy menatap ke arah Ken dengan pandangan penuh arti.
Ken yang merasa ada sesuatu, terpaksa mengikuti permainan Boy ini. "Iya, nona. Saya yang akan urus."
"Boy, tapi aku juga ingin pulang kampung ke Korea." Marsha bicara dengan mulut penuh makanan.
"Kalaupun kita ke sana, kita akan pergi berdua."
"Oke, aku tidak jadi pulang kampung."
Boy gemas sekali dengan jawaban Marsha yang tanpa dosa. Dia memilih tidak pulang kampung daripada harus ke sana bersama Boy.
"Oh iya, Boy. Apa kamu lihat boneka beruang yang di atas ranjang?" tanya Marsha tiba-tiba.
"Aku taruh di lemari, karena menggangu. Memang nya kenapa?" Boy mengambil gelas air putih di depannya.
"Semalam aku memeluk boneka beruang dan tidurku sangat nyaman sekali. Aku ingin memeluknya tiap hari."
'Uhuk'
Boy tersedak. Sebagian air bahkan masuk ke hidungnya sehingga hidungnya menjadi perih.
"Sudah lah.. aku mau berangkat kerja." ucap Boy setelah batuknya berhenti.
"Wah, kamu bisa bekerja juga?" Marsha melayangkan sindiran untuk Boy. Bagaimana tidak, pria itu terlihat begitu santai dan sejak menikah, Marsha tidak pernah melihat Boy ke kantor.
"Suami mu ini adalah pekerja yang handal. kamu tidak ingin ikut bekerja?" kata Boy yang sebenarnya hanya basa basi saja.
"Oke, aku ikut kamu kerja." "Tunggu aku berganti baju sebentar." Marsha buru-buru menghabiskan sarapan yang tinggal sedikit, lalu dia pergi ke atas secepat kilat. Hari ini Jeni sakit, jadi Marsha men-cancel semua jadwal karena tidak ingin mengurus kerjaannya sendiri. Dan daripada di rumah sendirian, Marsha punya ide untuk mengikuti Boy kerja.
Boy menelan ludah dan mengumpat kebodohan nya sendiri. Marsha ikut bekerja\=bencana. Pasti ada sesuatu yang akan dia lakukan. Atau Marsha ingin balas dendam karena Boy sudah mengacaukan jadwalnya kemarin?
Setelah ribut sepanjang perjalanan, akhirnya mereka sampai di kantor By-Tech milik Boy Setiawan. Boy memberikan banyak sekali aturan supaya Marsha tidak banyak bertingkah di kantornya.
Boy, Marsha dan Ken masuk ke dalam lift untuk pergi ke ruangan Boy. Lift saat itu penuh dengan karyawan Boy. Mereka Menganggukan kepala, lalu setelah itu berbisik-bisik, karena ini pertama kali Boy muncul dengan istrinya.
Marsha menyunggingkan senyuman licik. Dia harus membalas perbuatan Boy kemarin yang sudah menciumnya.
"Sayang, kepala ku sedikit sakit." Marsha melingkarkan tangannya pada lengan Boy. "Apakah kamu bisa gendong aku?"
"Apaan sih, minta Ken saja. Kamu itu berat."
Semua mata dalam lift memandang Boy dengan pandangan bingung.
Boy lupa kalau ada karyawannya di sini. Marsha benar-benar licik. Boy tidak bisa berkutik lagi sekarang.
Sampai keluar dari lift, beberapa karyawan masih berdiri di belakang Boy, karena penasaran apakah majikan mereka itu akan memenuhi permintaan istrinya.
Boy mendengus kesal. Dia berjongkok, dan menggendong Marsha di punggungnya. Marsha segera mengalungkan tangannya pada leher Boy. Dia juga menyandarkan kepalanya pada bahu Boy supaya tampak lebih mesra.
"Sayang,, kamu wangi sekali." Marsha masih melanjutkan aktingnya karena beberapa pasang mata masih terus mengamati dia.
Boy tidak menjawab dan tetap berjalan sambil menggendong Marsha.
Sarah segera membantu Boy membuka pintu karena Boy tidak bisa menggunakan sidik jarinya. Dia terkejut karena Bos nya itu membawa istrinya ikut bekerja.
Sesampainya di dalam, Boy langsung melemparkan Marsha ke sofa. Sarah lagi-lagi cukup terkejut saat melihat Boy memperlakukan Marsha seperti sedang melempar karung beras saja.
"Selamat Pak Boy dan Ibu Marsha atas pernikahan nya." Sarah menyalami Boy lebih dulu, lalu beralih menyalami Sarah.
"Saya Sarah, sekretaris Pak Boy." Sarah sekalian memperkenalkan diri pada Marsha.
"Saya Marsha Lee, kamu pasti sudah tau siapa saya kan?"
"Ya, saya selalu mengikuti konten anda. Kenapa anda lama tidak upload video di youtube?"
"Karena aku patah hati setelah di putuskan Juna. Viewer ku akan naik jika aku membuat konten dengannya." Jawab Marsha jujur. Dia lupa jika Boy mendengarkan semua percakapan mereka.
"Iya sih.. Juna tampannya memang ga ada obat."
'Ehem.' Boy berdehem.
"Sarah, apa jadwal hari ini?" panggil Boy dari kursinya.
"Nanti kita bicara lagi ya, saya mengurus suami anda dulu." bisik Sarah.
Marsha memandang Sarah yang sudah pergi kepada Boy. Ini kedua kalinya Marsha bertemu dengan Sarah. Dan jika di perhatikan, Sarah itu cantik dan seksi. Dia memiliki dada yang berisi, hidung yang mancung dan wajah yang manis.
"Kamu tunggu di sini dulu dengan Ken. Aku mau mengadakan rapat."
Entah sejak kapan Boy sudah berada di hadapan Marsha. Dan tanpa mendapat jawaban dari Marsha, Boy sudah pergi lagi di ikuti oleh Sarah di belakangnya.