
Boy kembali ke rumah sakit karena dia tidak dapat mengejar Marsha. Dia juga tidak dapat menghubungi istrinya itu karena ponselnya tertinggal di sana.
Jo dan Jessica sedang berdiam diri di kursi, sedangkan Leana masih tertidur pada ranjangnya.
"Terimakasih Jo. Aku akan berjaga di sini." Boy menepuk pundak Jo dan memberinya kode untuk keluar.
Jo berdiri dengan perasaan lega karena dia tidak tahan jika menunggu Jessica yang hanya diam saja sejak tadi.
"Mana Marsha?" tanya Jessica tanpa menengok ke arah Boy.
"Dia pergi." ucap Boy lesu. Dia mengambil ponselnya dan mulai mengecek panggilan dan pesan masuk.
Tadi dia meminta Sam untuk mencari tau siapa pria yang melecehkan Leana.
"Apa Sam tidak menelepon?" tanya Boy yang tidak menemukan missed call atau pesan dari Sam.
"Tidak Boy. Mungkin dia sibuk." Jessi berdiri dari sofa, lalu berjalan ke arah Leana.
Boy menggeletak kan kembali ponselnya. Dia memejamkan mata sejenak. Tentu saja pikirannya saat ini hanya tertuju pada Marsha. Ke mana wanita itu pergi?
"Boy.." Leana mulai mengigau.
"Boy, Leana.." Jessi memanggil Boy untuk mendekat.
Boy berlari ke samping ranjang. Dia mengamati Leana yang tampak mulai gelisah lagi.
"Tidak.. jangan mendekat.." Leana membuka matanya. Dia menatap ke kanan kiri dengan ketakutan.
"Le, ini aku, Boy. Dan itu Jessica." ucap Boy sambil memegang tangan Leana.
"Boy.." Leana meraih pergelangan tangan Boy. "Aku takut.."
"Tenang, Le.. kami tidak akan meninggalkan kamu."
Leana bangun dan memeluk Boy. Dia menangis dalam dekapan pria itu. "Boy, pria itu sudah menodai aku.." "Aku ini kotor, Boy." Ucap Leana dalam tangisan nya.
Boy menepuk punggung Leana pelan. Dia juga sangat sedih kenapa harus ada kejadian seperti ini. Leana wanita yang sangat rapuh. Sejak di sekolah dulu, Leana kerap di bully teman-teman sekolahnya karena terlalu cantik. Dan bully an itu berujung membentuk pribadi Leana menjadi lebih sensitif dan lebih suka menyendiri. Hanya Boy yang bisa membuat Leana menjadi pulih dari trauma bullying nya. Sekarang, setelah peristiwa ini, Boy tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Leana. Bisa-bisa Leana mencoba bunuh diri.
"Le, itu semua di luar kendali kita. Aku tau kamu pasti hancur.. kami semua juga sangat hancur ketika harus mengetahui ini, Le." Boy mencoba memberi Leana pengertian.
Jessica mengangguk lemah. Dari semuanya, dia lah yang paling merasa bersalah. Jessi bahkan tidak berani memberitahu Boy mengenai Marcel dan Max karena takut Boy akan marah padanya.
Dia akan bicara ketika suasana hati Boy lebih baik.
"Jangan pergi Boy.. Jess.." ucap Leana dengan memelas.
*
*
*
Jeni memandang ke sekitar ruangan yang sudah penuh dengan tisu kotor dari Marsha. Dia sungguh ingin memarahi Marsha, tapi waktunya sangat tidak tepat. Marsha sangat terpukul karena Boy menuduhnya juga membentak nya.
"Udah dong say..Nanti air mata you habis." ucap Jeni mencoba menghibur Marsha.
"You ga tau Jen gimana rasanya di bentak suami sendiri. You belum nikah sih." omel Marsha.
"Astaga.. You lagi sedih aja masih bisa ya ngebully ai." Jeni bercak pinggang karena ucapan pedas Marsha.
"Nona, saya hanya ingin memberi informasi. Apakah anda ingin mendengarnya?" tanya Ken hati-hati.
"Apa informasi nya akan membuat aku tambah sedih, Ken?" tanya Marsha lebih dulu.
"Sepertinya begitu." kata Ken tidak yakin.
"Kalau begitu tidak usah."
"Ya sudah." Ken berdiri. Dia ingin kembali ke apartemen nya sendiri yang sudah lama kosong.
"Tunggu, Ken." "Ceritakan saja."
"Tadi, you bilang ga mau. Gimana sih ga konsisten." sela Jeni makin kesal. Sulit sekali untuk memahami seorang Marsha.
Ken kembali duduk. Dia menarik nafas dalam sebelum bercerita. Kasus ini sungguh membingungkan dan mengerikan.
"Jadi, nona Jessi sedang di incar oleh mantan pacarnya. Tadi dia menyuruh adiknya untuk menculik nona Jessi. Tapi sepertinya adiknya salah target karena nona Jessi dan Leana menggunakan kaos couple." "Lalu, seperti yang di bicarakan Tuan Boy tadi, Pria itu menodai Leana."
"Itu gila sih." komen Jeni.
"Ken, aku tidak mungkin sejahat itu."
"Ya, nona.. Tuan Boy pasti salah paham. Mungkin dia panik dan belum menyelidiki ini."
"Bodoh sekali pria itu." ucap Marsha lirih.
"Apakah aku perlu bicara ini pada Tuan Boy?"
"Untuk apa, Ken? Aku tidak mau menemui dia lagi. Kita lihat berapa lama dia akan mencari ku. Awasi saja dia." perintah Marsha. "Satu lagi, pastikan Boy tidak bisa melacak ponsel kita bertiga. Aku akan menginap di rumah Jeni saja."
"What? Kenapa rumah ai?" Protes Jeni. Kehidupannya ke depan akan terancam jika Marsha sampai menginap di rumahnya.
"Jen, gaji mu akan aku tambah 2x lipat. Ayo cepat." Marsha menarik Jeni pergi. Dia sungguh lelah dan ingin istirahat supaya otaknya tidak terus memikirkan Boy. Ya, Marsha memutuskan harus sembunyi dari Boy setidaknya sampai perasaannya kembali membaik.