
Jessi melepaskan topi dan maskernya. Dia menunggu dengan cemas orang yang ingin dia temui. Tak lama petugas membawa seorang pria dengan wajah blesteran yang tidak asing bagi Jessi.
"Jadi ini, pacar kakak ku yang bodoh itu?" ucap pria itu sinis.
"Mantan, Max." jawab Jessi ketus.
"Untuk apa kamu menemui aku?"
Jessi menatap Max yang wajahnya masih lebam-lebam. Jika dia tidak berada di kantor polisi, ingin rasanya Jessi menghajar pria yang sudah mengambil kehormatan Leana itu.
"Lo pake nanya Max?" "Lo gila ya Max. Lo tau ga akibat dari apa yang lo lakuin kemarin?" bentak Jessi yang sudah terbakar emosi.
Max diam saja.
"Gue ga mau tau, lo harus tanggung jawab."
"Bukan kah aku sudah tanggung jawab?" Max merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan dengan jelas baju biru tua yang sekarang dia kenakan. Max menganggap dia sudah membayar apa yang dilakukan karena sudah berada di penjara.
Jessi makin kesal dengan Max. Itu karena wajah Max begitu santai seperti orang yang tidak berdosa sama sekali.
"Kalau tidak ada urusan lagi, silahkan pergi." Usir Max.
Jessi meradang. Dia berdiri dan mejambak rambut Max dengan kuat. Beberapa petugas sampai menahan Jessi yang tidak bisa di kendalikan.
"Dasar iblis. Lo laki-laki paling buruk yang pernah gue temui. Membusuk saja di penjara." teriak Jessi.
Petugas membawa Max masuk karena mereka sudah tidak memungkinkan untuk bicara lagi.
Jessi mengatur nafasnya supaya lebih tenang. Petugas memberinya minum dan menyuruhnya untuk duduk dulu.
"Pak, apa saya boleh bertemu dengan kakaknya?" tanya Jessi setelah menghabiskan satu botol air mineral.
"Apa anda akan marah-marah seperti tadi?"
"Iya, tentu saja pak. Mereka berdua sama-sama manusia biadab." ucap Jessi kesal.
"Ya sudah, kamu tidak usah bertemu manusia biadab itu."
"Yaaaah.. bapak..saya belum memarahi yang satu nya." Jessi tampak kecewa.
"Anda terlihat begitu emosi. Apakah Anda korbannya? Bukan kah pria tadi itu pelaku kasus pemerkosaan?"
Jessi memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi sakit kepala yang tiba-tiba muncul.
"Teman saya korbannya pak. Sampai sekarang dia harus meminum obat penenang karena perbuatan si kurang ajar itu." curhat Jessi.
"Sabar ya nona.. kasus seperti itu sangat banyak di sini."
"Oh iya, pak. Saya mau tanya, siapa yang melaporkan kasus ini?" tanya Jessi yang teringat tujuannya kemari. Dia penasaran siapa lagi yang tau masalah ini.
"Itu perempuan mirip suzy yang main drama Korea. Satu lagi seorang pria berjas."
Marsha Lee? Jadi, Marsha sudah tau? Tapi kenapa dia tidak pulang ke rumah? batin Jessi.
"Nah,, ini dia.. orangnya.." Petugas itu membuka media sosial yang menunjukan halaman milik Marsha. Dan sekali lagi Jessi terperanjat karena tulisan terbarunya.
Saya akan pensiun dari dunia hiburan..Terima kasih kepada semua yang telah mendukung dan selalu setia mengikuti saya.. i love you all.. saya akan hidup dengan baik dan kalian harus hidup dengan baik juga.
Jessi mencoba peruntungan untuk menelepon Marsha. Kali ini ada nada dering..
"Halo, Marsha.. Kamu di mana?" tanya Jessi begitu telepon tersambung.
"Hai Jess.. Apa kabar? Kamu baik-baik saja?"
"Eonni, kamu sudah tau semua, kenapa kamu tidak bilang pada Oppa? Lalu kenapa Eonni mundur dari media sosial?" Jessi memberondong Marsha dengan banyak pertanyaan.
"Tidak apa-apa Jess.. Aku hanya ingin hidup ku lebih santai saja. Aku tidak akan pulang ke rumah juga. Kamu jaga diri mu baik-baik."
Jessi mendengar suara Ken, sebelum Marsha menutup teleponnya.
"Pergi?"
Jessi langsung berdiri dan pergi dari kantor polisi untuk menemui Boy.
*
*
*
"Booooooy" teriak Jessi begitu sampai di rumah. Bibi sampai menjatuhkan piring yang di pegang nya karena suara cempreng Jessi menggelegar ke seluruh rumah.
"Nona, Tuan Boy sedang jalan-jalan bersama Nona Leana." kata Bibi sambil memunguti piring yang pecah.
"Ke mana Bi?"
"Tadi bilang ke taman kompleks." "Tapi.." Bibi tidak melanjutkan ucapannya karena Jessi sudah menghilang.
Jessi pergi berputar ke kompleks. Dia dapat dengan mudah menemukan Boy dan Leana di sana. Boy sedang bermain anak anjing bersama Leana. Leana juga tampak begitu ceria. Mungkin dia perlahan sudah mulai sembuh dari trauma nya. Atau karena di samping Leana ada Boy?
Jessi mengenyahkan pikiran nya yang kacau. Ini bukan saat nya memikirkan itu.
"Le,, Maaf, aku pinjam Boy sebentar." Jessi berdiri di depan mereka dengan nafas ngos-ngos an.
Leana segera memegang tangan Boy. Dia tidak ingin jauh dari pria itu atau di tinggal sendiri.
"Tolong, sebentar saja Le." pinta Jessi memelas. Dia juga memegang tangan Boy yang satu nya, lalu menariknya.
"Hey, sudah-sudah. Tangan ku bisa putus kalau kalian tarik seperti ini." Protes Boy. "Bicara di sini saja, Jess."
Akhirnya Jessi mengalah. Dia melepaskan Boy. Jessi harus berani mengungkapkan semuanya. Sudah saatnya dia mengakui semua sebelum terlambat.
"Boy, aku ingin pengakuan dosa." kata Jessi lirih. "Ini semua salah paham Boy. Sam sudah memberitahu kejadian lalu, tapi aku menghapus panggilannya dan pesan WA nya." Jessi menunduk tidak berani menatap Boy.
"Apa maksud mu, Jess. Aku tidak mengerti."
"Boy, yang melakukan itu bukan Marsha, tapi Marcelino." aku Jessi.
"Maksudnya? Marcelino pacar mu?"
"Mantan, Boy." Koreksi Jessi. Kenapa semua orang tidak mengerti kalau dia hanya mantan dari orang itu. "Marcel menyuruh adiknya untuk menculik aku. Tapi karena kami memakai kaos yang sama dan gaya rambut yang sama, jadi Max salah membawa orang."
Mendengar pengakuan dosa dari adiknya, Boy merasakan dirinya seperti tertimpa sebuah batu besar. Tubuhnya kaku seketika dan bibir nya sulit untuk di gerakkan.
"Boy, maafkan aku.. Aku takut kamu akan marah kalau tahu semua ini."
"Astaga, Jessica!" "Kamu harusnya beritahu sejak awal." bentak Boy. Selama ini Boy hanya berpikir jika Marsha keterlaluan dan dia tidak berniat mencari tau karena sibuk merawat Leana.
Leana juga terkejut. Dia tidak tau kalau Boy mengira Marsha yang di balik semua kejadian yang menimpanya.
"Boy, kamu harus menemui Marsha. Sepertinya dia mau kabur." lanjut Jessi.
"Kabur? Apalagi Jess?!" Boy mulai frustasi dengan semua yang terjadi.
"Marsha, mundur dari dunia hiburan. Kamu lihat saja. Dan kalau kamu tidak cepat, Marsha akan segera kabur."
Boy mengikuti ucapan Jessi. Dia harus segera pergi. Tapi tangan Leana masih menahan nya.
"Boy, jangan pergi." pinta Leana memelas.
"Le, maaf. Aku harus menyelamatkan rumah tangga ku dulu." Boy melepaskan tangan Leana. Dia memberi kode pada Jessi untuk membantu Leana.