You're My Boy

You're My Boy
Kabar baik



Selain menjadi lebih protektif, Boy juga terlihat lebih banyak makan. Dia baru saja menghabiskan 2 loyang pizza seorang diri. Marsha bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Boy bisa bertingkah seperti itu.


"Kenapa, Mars?" tanya Boy yang melihat Marsha melamun.


"Boy, apakah ada yang aneh dengan ku?" Marsha memutar badannya di depan Boy.


"Tidak, kamu terlihat makin seksi saja."


"Ish, dasar mesum." Marsha merebahkan diri di kursi lagi karena tidak tertarik dengan jawaban dari Boy.


"Kamu itu aneh, Boy. Apa kamu tidak sadar?" Marsha menghadap ke arah Boy dan memperhatikan Boy dengan seksama.


"Ya,,aku juga tidak tau Mars.. Kira-kira kenapa ya?" Boy juga menyadari keanehan dalam dirinya.


"Kamu jadi suka makan, tapi aku yang tambah berisi. Itu artinya..." Marsha menelan ludah ketika menyadari sesuatu. Dia sudah tidak datang bulan selama 3 bulan ini.


"Boy, cepat belikan aku testpack." teriak Marsha.


"Maksud mu kamu hamil?" Boy ikut berteriak karena kaget.


Marsha mengangguk ragu-ragu. Tanpa menunggu lama lagi, Boy menarik Marsha untuk pergi ke dokter. Dia sampai tidak sadar jika mereka hanya menggunakan piyama dan sandal jepit saja.


Mobil mereka melaju cepat menunju ke Rumah Sakit Husada. Boy tampak cemas dan berulang kali menengok ke arah Marsha. Tapi sebaliknya, Marsha jauh lebih tenang dan santai. Marsha hanya bertanya-tanya dalam hatinya sendiri apakah benar dirinya hamil?


10 menit kemudian mereka sampai. Boy menggandeng Marsha setengah berlari menuju ke ruang periksa dokter. Tadi dia sudah menelepon Sam supaya membooking kan dokter untuk mereka sehingga mereka tidak perlu antri lagi.


Dokter Mega terkejut mendapati Boy dan Marsha yang tiba-tiba masuk ke ruangan nya. Tapi dia segera sadar karena melihat rambut hijau Boy. Dr. Sam tadi sudah memberitahu bahwa akan ada orang berambut hijau yang akan menggrebeknya.


Ternyata Dr.Sam benar.


"Dok, tolong periksa istri saya." ucap Boy yang masih ngos-ngos an.


"Tenang, pak.. Silahkan tidur dulu." Dokter Mega menunjuk ke ranjang di pojok ruangan. Sementara itu dia mempersiapkan alat untuk USG.


"Tolong beri kami kabar baik ya dok." pinta Boy lagi.


"Tenang lah, Boy." Marsha meraih tangan Boy yang sudah duduk di sampingnya.


Dokter Mega melakukan pemeriksaan dan mereka dapat melihat dengan jelas janin dalam perut Marsha.


"Selamat Bapak, Ibu.. kalian akan memiliki anak." ucap Dokter Mega sambil tersenyum.


"Usianya sudah 12 minggu." "Tapi, kenapa kalian baru sadar sekarang?" Tanya Dokter itu bingung. Perut Marsha sudah sedikit buncit dan seharusnya mereka bisa menyadari itu.


"Yang saya tau, kalau ibu hamil akan mual-mual dok. Istri saya sehat-sehat saja." jelas Boy setelah melepas pelukannya. "Dia juga tidak nyidam, dok."


"Ya, berarti Anda yang nyidam, Pak." Dokter Mega tertawa mendengar penjelasan dari Boy.


"Pantas saja dia sangat protektif dan rakus, Dok." sela Marsha.


"Maafkan aku sayang..." Boy membantu Marsha untuk berdiri.


"Ya, anda harus jaga baik-baik istri anda. Dia tidak boleh terlalu lelah. Pastikan juga dia minum vitamin dan makanan yang bergizi." pesan Dokter Mega. "Satu lagi, jangan bikin ibu hamil stress. Sebisa mungkin anda harus memahami perasaan mereka." lanjut nya.


Boy mengangguk mengerti. "Tenang saja Dok.. aku selalu menghiburnya dan selalu memenuhi permintaannya."


"Ya, menghibur dengan tingkah yang aneh-aneh." sindir Marsha.


"Sayang.. jangan ragu-ragu untuk bilang apa yang kamu inginkan ya.."


"Benar?" Marsha melirik ke arah Boy.


"Tentu saja, Daddy Boy tidak akan membiarkan anaknya suka ngiler seperti ibunya." Boy mengusap perut Marsha dengan lembut.


"Lihat, dok.. dia selalu menyindir seperti itu." curhat Marsha.


"Kalian memang pasangan yang unik."


"Boy, kalau begitu aku minta Ken untuk kembali bekerja jadi bodyguard ku." tantang Marsha.


"Mars,, tapi.."


Dokter Mega dan Marsha kompak menengok ke arah Boy. Mereka menunggu apa yang akan di katakan oleh Boy.


Boy terjebak oleh kata-katanya sendiri. Dia tentu saja tidak setuju Ken kembali bekerja, tapi dia harus memenuhi permintaan dari Marsha.


"Baiklah. Aku akan menelepon Ken untuk kembali." kata Boy pasrah. Boy harus menekan ego nya demi anak mereka.


"Kamu yang terbaik, Boy." Marsha memeluk Boy senang.