
Hari yang di nanti Boy tiba juga. Marsha akan melahirkan. Marsha meminta Boy untuk melahirkan secara caesar karena dia takut melahirkan secara normal. Boy tidak ada masalah dengan itu. Dia sudah mempersiapkan yang terbaik untuk Marsha.
Boy baru saja menyelesaikan urusan pendaftaran. Dia kembali ke kamar Marsha secepatnya, karena tidak ingin melewatkan moment penting ini bersama istrinya.
"Sayang..Aku kembali." Boy memeluk Marsha yang sedang tidur membelakanginya. Tapi, Boy segera melepaskan wanita itu setelah menyadari ada yang berbeda.
"Rea?" Boy terkejut saat wanita itu berbalik. Ternyata benar, Boy malah memeluk istri sohibnya sendiri. (Baca when i fell in love with a doctor ya..)
"Boy, kenapa kamu di sini?" tanya Rea yang juga bingung.
"Marsha akan lahiran hari ini." ucap Boy terbata.
"Astaga, Boy. Aku dan istri mu benar-benar akan melahirkan di hari yang sama." ucap Rea takjub.
"Mana, Sam?" Boy melihat sekeliling dan tidak menemukan keberadaan Sam.
"Dia sedang ada operasi. Nanti juga ke sini."
"Wah, suami mu harus di beri pelajaran. Bisa-bisanya masih bekerja di saat istri akan melahirkan." Boy geleng-geleng kepala. Untung saja pekerjaan Boy bisa di lakukan sambil bermain. Jika dia seperti Sam, Boy bisa dijadikan perkedel untuk lauk makan siang Marsha.
"Semoga semua berjalan lancar ya, Re. Aku pergi dulu." Boy menyalami tangan Rea yang di infus.
Boy segera keluar dan berjalan ke sebelah kamar Rea. Ya, kamar Marsha dan Rea ternyata bersebelahan. Boy lagi-lagi terkejut karena mendapati Sam di sana sedang memegang tangan Marsha.
"Hey,lepas." Boy melepaskan tangan Sam dari Marsha dengan emosi.
Sam shock berat setelah wanita di ranjang membalikkan badan. Ternyata itu adalah Marsha, dan bukan Rea. Pantas saja Boy begitu kesal.
"Ini sungguh menggelikan. Kita bisa salah kamar." ucap Boy setelah Sam pergi ke kamar sebelah.
"Aku sengaja mengerjainya." Marsha masih cekikikan sendiri karena berhasil mengerjai Sam.
"Apa kamu sudah siap, sayang?" Boy mengabaikan kejadian tadi dan berfokus pada hal yang lebih penting, yaitu persiapan Caesar Marsha.
Marsha sebenarnya tidak terlihat tegang, justru Boy yang tampak begitu tegang.
"Aku siap, karena kamu ada di sini." Marsha meraih tangan Boy.
Tepat saat itu juga, dokter dan suster masuk. Sudah saatnya Marsha harus di pindahkan ke ruang operasi. Boy mengikuti mereka dari belakang.
"Apakah anda ingin masuk juga, Pak?" tanya Dokter Mega.
Boy menengok ke arah Marsha. Setelah itu, dia memutuskan untuk ikut masuk ke dalam.
Prosedur pertama memberikan obat bius pada Marsha. Istri Boy itu memberi kode supaya Boy tidak banyak bicara. Boy hanya berdiri saja dengan wajah tegang. Setelah obat bius bekerja, dokter mulai melakukan pembedahan.
Lutut Boy hampir copot menyaksikan secara live bagaimana proses caesar itu. Selama hampir 1 jam menyaksikan, keringat dingin mengucur deras ke seluruh badan Boy.
Ketika mulai terdengar suara tangisan bayi, dan Dokter mengeluarkan bayi yang merah itu, pandangan Boy sudah kabur.
"Selamat, Pak Boy.. anak laki-laki anda lahir dengan sehat.."
'BRUK' Boy pingsan sebelum sempat melihat anaknya sendiri.
"Astaga, caesar saja pingsan, apalagi kalau normal." keluh Dokter Mega.
Satu perawat dengan segera membersihkan bayi Marsha, dan yang lain menolong Boy.
*
*
*
Marsha dan Boy sudah kembali berada di ruang rawat. Marsha mulai menyusui bayinya, sedangkan Boy duduk di pinggir ranjang.
"Kenapa bayinya merah sekali?" tanya Boy bingung.
"Tidak apa-apa sayang.. Ini artinya bayi kita nantinya akan putih." jawab Marsha menenangkan Boy.
"Marsha, mana cucu Mom?"
"Marsha,, mana cucu ku?"
Sania dan Ny.Lee menyeruak masuk dan berebut mendekat untuk menengok cucu mereka.
Kehebohan mereka yang datang tiba-tiba tentu saja membuat kaget dan akhirnya Baby Boy menangis.
"Sayang, cup.. cup.. cup..jangan nangis.. ini oma." Sania tidak mempedulikan Boy, karena lebih memikirkan Baby Boy.
Begitu juga dengan Ny.Lee.
"Kalian sudah punya nama untuk anak ini?" tanya Bayu yang baru saja muncul.
"Namanya Liam Edison Setiawan." "Panggil saja Baby L." jawab Boy dengan bangga.
"Kenapa tidak Edi?" celetuk Sania.
"Mom.. jangan mulai..."
Mereka tertawa karena Boy mulai kesal.
Ken dan Jessica datang belakangan. Bukan cuma mereka berdua yang datang, tapi Jo juga muncul.
Ini membuat Boy heran. Kenapa asisten Juna itu selalu muncul belakangan ini, padahal mereka tidak terlalu dekat.
"Mana keponakan Auntie.." Jessica mendekati Marsha. "Selamat ya Eonni.. Anak mu lucu sekali.. Semoga besarnya tidak menuruni sifat Oppa." Jessica memberikan doa yang terbaik untuk Baby L.
Boy menahan emosinya, karena Bayu sudah melotot untuk jangan mencari keributan.
"Bikin kan Mom yang lucu seperti ini." Sania menimpali ucapan Jessica.
"Rasain, lo bocah." ejek Boy.
Jessica pura-pura tidak dengar dan terus bermain dengan Baby L. Jessica tidak ingin menanggapi supaya urusan tidak panjang.
*
*
*
Mereka semua main cukup lama sampai sore hari. Sania, Bayu dan Ny.Lee sudah lebih dulu pulang. Tinggal Jessica, Ken dan Jo yang masih berada di kamar. Boy sengaja menahan mereka, karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
"Jo, apakah Juna menyuruh mu ke sini?" tanya Boy pada Jo yang sejak tadi diam dan hanya berdiri bersebelahan dengan Ken.
"Tidak, aku mengikuti Jessica." jawab Jo cepat.
"Maksud mu?"
"Sayang, kamu itu tidak peka." Marsha menarik Boy ke sebelahnya. "Cinta segitiga." bisik Marsha.
"Hahahahahahaa" Boy tertawa keras.
"Ken, kamu punya saingan rupanya." ejek Boy. "Jo, tenang saja, aku akan dukung kamu."
"Kalian apaan sih.." protes Jessica yang sejak tadi diam. "Aku sudah bilang, aku akan bersama Song Jong Ki." "Sudahlah, aku mau pulang." Jessica terlihat menghindar. Dia meraih tas nya di nakas, lalu dia pergi meninggalkan ruangan Boy-Marsha.
Melihat Jessica pergi, kedua pria itu juga segera mengejar Jessica.
"Wah, adik mu jadi rebutan." ucap Marsha kagum.
"Syukurlah ada yang mau dengan nya." Boy naik ke ranjang Marsha untuk berbaring bersama istrinya itu. Baby L sudah tidur dan di taruh di box nya, jadi mereka bisa istirahat sejenak.
"Kamu pasti lelah, sayang." Boy merangkul Marsha, sambil menyisir rambutnya.
"Ya, tapi aku sangat bahagia." Marsha menatap suaminya intens.
"Makasih sayang.. aku juga sangat bahagia." Boy mencium kening Marsha.
"Kita sama-sama besarkan Baby L ya..dan jadi orang tua yang baik." ucap Marsha sambil bersandar pada bahu Boy.
"Tentu saja sayang, aku sudah punya rencana untuk mengecat rambut Baby L dengan warna ungu."
"Boooy.." protes Marsha. Dia mencubit pinggang Boy dengan keras, tapi Boy malah tertawa senang. Ya, tentu saja Boy masih selalu absurd, tapi itu yang membuat Marsha justru bahagia. Dia sangat bersyukur karena bisa mengenal dan menikah dengan Boy yang selalu mengisi hari-hari nya dengan segala tingkah uniknya itu.
--------- The end -------------
(Selesai juga cerita Boy dan Marsha.... maafkan author yang tidak bisa menulis sampai ratusan bab.. karena kalau kepanjangan kalian bisa bosan.๐๐ tapi semoga kalian terhibur yaa..dan baca juga karya author lainnya..)
(Tunggu juga kisah Jessica, Ken dan Jo.. judulnya nanti akan di tulis di pengumuman kalau sudah siap.. sekarang author mau melanjutkan novel Be Honest dan Married with Romeo dulu.. Silahkan mampir ya readers๐)