
Pagi ini, Marsha dan Boy sarapan bersama di meja makan. Di meja sudah tersedia nasi dan beberapa lauk yang sudah disiapkan bibi untuk Boy. Boy memang selalu meminta untuk makan nasi setiap pagi, supaya dia bisa menahan lapar sampai siang. Berbeda dengan Marsha. Marsha lebih suka makan sereal dengan susu low fat.
Ken menyiapkan sarapan Marsha. Dia sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam dari Boy.
"Ken, aku sangat lapar. Aku ingin makan nasi." Marsha menggeser mangkuk sereal nya, lalu menggantinya dengan piring kosong.
"Apa kamu ingin makan sayur atau daging, sayang?" tanya Boy sambil menaruh satu centong nasi penuh di piring Marsha.
"Sayur saja." ucap Marsha sambil tersenyum penuh arti pada Boy. Dia senang karena perlakuan romantis dari Boy setelah mereka resmi melakukan hubungan suami istri.
"Apa jadwal mu hari ini, sayang?" tanya Marsha penasaran.
Ken merasakan ada perubahan besar yang terjadi saat ini. Pertama, Marsha menolak makan sereal. Kedua, dia terlihat begitu ceria. Ketiga, dia memanggil Boy dengan kata sayang. Semua hal itu tidak biasa dilakukan oleh Marsha. Di tambah lagi, ketika turun, Boy menggendong Marsha dengan begitu mesra.
"Tidak ada.. aku ingin ke mall saja dengan Jessica." ucap Boy dengan mulut penuh makanan.
"Aku ingin ikut. Sudah lama sekali aku tidak ke mall. Boleh yaa.. pliss.."
"Kamu masih sakit.. nanti saja kalau sudah sembuh."
Ken merasakan sebuah batu besar menimpa kepalanya. Perkataan Boy sudah sangat jelas untuk menunjukkan kepemilikan akan Marsha.
'Ting tong.'
"Ken, tolong buka pintunya." perintah Boy.
Ken yang masih shock karena kenyataan pahit yang baru di ketahui nya, mau tidak mau membuka pintu sesuai arahan Boy.
"Apakah Boy ada di dalam?" tanya seorang wanita cantik yang berdiri di depan pintu.
Ken tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya. Dan dia mencari Boy?
"Anda siapa?" selidik Ken. Dia punya firasat buruk pada tamu Boy kali ini.
"Saya teman sekolah, Boy." jawab Leana sambil tersenyum. Dia juga memandang Ken yang berpenampilan rapi dengan setelan jas lengkap.
'Boy luar biasa, dia sampai mempunyai bodyguard di rumahnya.' batin Leana.
"Kalau begitu, silahkan masuk." Ken mengijinkan Leana ke dalam karena Boy tampak sudah menyadari siapa tamunya dan tidak melayangkan protes. Itu berarti Boy dan Leana sudah saling mengenal.
"Hey, Boy, Marsha." panggil Leana dengan ramah.
Marsha tersedak. Boy segera mengambil air, lalu memberikan pada Marsha sambil menepuk nepuk punggung nya pelan.
"Maaf, seperti nya aku datang terlalu pagi."
"Tidak apa-apa, Le. Duduk lah.. apa kamu sudah sarapan?" Boy memberi kode supaya dia duduk di bangku kosong di sebelah kanan nya.
Leana meletakan apa yang dia bawa di meja makan. Dia duduk sambil menatap Marsha yang juga sedang menatapnya.
"Marsha, aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku sungguh tidak tau jika Boy adalah suami mu." jelas Leana lebih dulu.
"Ooh.." "No problem, Le.. kemarin aku hanya sedikit kesal dengan Boy.. tapi sekarang sudah tidak lagi." kata Marsha santai.
Boy menatap Marsha untuk melihat ekspresinya. Marsha jauh lebih tenang daripada kemarin, jadi Boy bisa lebih lega untuk bicara pada Leana.
"Bagaimana kamu bisa tau rumah ku, Le?" tanya Boy pada Leana yang kini sedang membuka kotak makanan yang dia bawa.
"Aku bertanya pada Jessica."
Sial. Aku harus kasih Jessica hadiah yang lebih besar lagi supaya dia memihak ku dan bukan wanita ini. batin Marsha. Dia tentu saja masih kesal dengan mantan Boy. Entah kenapa, dia merasa mantan Boy ini sedang berusaha mendekati Boy lagi.
"Wah, kamu bawa japchae." teriak Boy senang. "Thank you, Le."
"Ya, kamu sangat suka makanan ini kan?" "Tenang saja, aku tidak pakai udang." Leana mengambilkan makanan itu untuk Boy.
"Sya, kamu harus ingat jika Boy tidak bisa makan udang karena dia punya alergi." pesan Leana.
Apa-apaan ini. Kenapa dia malah menasehati ku. Apa ini tidak salah?
"Aku sudah tau. Boy hampir mati karena aku memasukkan udang pada makanannya." aku Marsha.
"Dia tidak sengaja, karena aku tidak memberitahunya." Boy membela Marsha.
"Ini sungguh enak, Le. Sejak dulu kamu memang selalu pintar memasak." Boy berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memuji makanan Leana.
Marsha berdiri. Dia sudah tidak tahan lagi untuk bersikap biasa saja pada kedua mahkluk di depannya.
"Aku mau ke kamar."
"Duduk dulu, sayang." Boy menahan tangan Marsha. "Tunggu sampai aku selesai makan. Baru setelah itu aku gendong kamu ke kamar."
Marsha kembali duduk karena dia tidak punya pilihan lain. Dia memang masih sakit dan lemas akibat 'lembur' semalam.
Supaya tidak kabur, Boy menggenggam tangan Marsha di depan Leana.
"Kalian itu aneh. Kemarin kalian seperti orang tidak mengenal, sekarang begitu mesra." ucap Leana bingung. Dia cukup terkejut karena Boy memperlakukan Marsha dengan begitu romantis. Padahal Boy bukan tipe seperti itu.
"Begini lah seru nya pernikahan, Le." sahut Boy sambil tersenyum pada Marsha.
"Kamu sungguh beruntung, Sya. Boy itu pria yang baik."
"Kau dengar itu, sayang?" Boy mengedipkan mata genit pada Marsha. Tapi, Marsha hanya mencibir nya.
"Sayang, cepatlah.. apa kamu tidak mau mengulangi yang kemarin?" pancing Marsha. Sebenarnya dia hanya ingin membuat mantan Boy sadar kalau mereka sudah menikah.
Tapi, ucapan Marsha itu bagaikan sebuah permintaan yang tidak bisa dia tolak.
"Le, terimakasih makanannya. Tapi sepertinya Marsha ingin pergi ke kamar."
"Tidak apa-apa Boy.. Aku hanya mampir sebentar saja untuk minta maaf.. Aku juga akan pamit." Leana berdiri dari kursinya.
Boy dengan cekatan, mengangkat tubuh Marsha dan menggendongnya ala bridal. Dia juga langsung pergi dari situ, meskipun Leana belum keluar dari rumahnya.
"Apakah anda jadi pulang, nona?" Ucap Ken dengan nada mengusir secara halus. Dia tidak menyukai Leana yang sengaja membuat Marsha cemburu.
*
*
*
Marsha sangat kesal karena Boy mengulangi kegiatan semalam tanpa rasa lelah. Lain kali, Marsha tidak akan menggoda Boy lagi. Jika setiap hari melakukan ini, tubuh nya bisa remuk.
"Sayang,, katanya kamu mau ke mall?" tanya Marsha sambil membenarkan posisinya untuk bersandar pada head board.
"Tidak jadi. Aku ingin di sini saja, dengan istriku." Boy memainkan rambut Marsha yang begitu halus dan wangi.
"Ayo lah.. pergi saja.." usir Marsha.
Ponsel Boy berdering. Jessica calling..
"Jess akan ngomel kalau kamu tidak cepat pergi."
"Baik lah.. Aku akan segera kembali." Boy mencium dahi Marsha. Dia mengambil kunci mobilnya dan segera pergi dari kamar.
Setelah memastikan suara mobil sport Boy tidak terdengar lagi, Marsha menelepon Ken.
"Ken, kamu ke atas sekarang. Temui aku di kolam renang."