
Mall
Leana dan Jessica baru saja keluar dari salon. Leana memotong rambut sebahu mengikuti model Jessica. Jika saja Jessica mengecat rambutnya dengan warna coklat, mereka sudah bagaikan anak kembar.
"Le , perut ku mules. Aku ke toilet dulu ya." Jessi menyerahkan paper bag ke tangan Leana, sementara dia pergi ke toilet.
Leana yang kerepotan membawa belanjaan mereka memutuskan untuk menunggu Jessica di bangku kosong tidak jauh dari toilet.
Dia tidak sadar jika sesorang mengikutinya sejak tadi. Orang itu menggunakan pakaian serba hitam. Dia berdiri di dekat Leana sambil menelepon seseorang.
"Iya, dia menggunakan baju warna krem dan rambutnya sebahu." ucap pria itu di telepon. "Baik, aku segera bawa dia ke sana."
Pria itu menutup telepon, lalu menggunakan topi dan maskernya. Dia perlahan mendekat pada Leana yang sibuk bermain ponsel.
"Jangan berteriak dan ikut aku sekarang." Ucap pria itu sambil mencengkram lengan Leana.
"Siapa kamu?" Leana terkejut. Dia mencoba memberontak dan berteriak, tapi pria itu lebih dulu membekap mulutnya.
"Hey, lepaskan nona ini." salah seorang yang melihat kejadian itu menghampiri Leana yang sepertinya memberikan sinyal permintaan tolong lewat tangannya.
Pria itu membuka masker sehingga menampakkan seluruh wajahnya. Dia adalah pria yang tampan dan hidungnya mancung. Dari segi wajah, dia tidak terlihat seperti orang jahat.
"Maaf. Dia ini istri ku. Dia sedang di rawat di rumah sakit dan sekarang dia kabur. Jadi saya hanya ingin membawa nya pulang." katanya dengan wajah yang memelas.
Akhirnya orang itu kembali berjalan, karena tidak ingin ikut campur dengan urusan suami istri itu.
Si penculik Leana tersenyum licik. Dia kembali membawa Leana dengan santainya. Setiap kali orang curiga, dia mengatakan hal yang sama seperti tadi. Orang tidak akan curiga karena pria itu memiliki wajah baik-baik bak orang kaya yang memiliki kedudukan.
"Tolooooong.." teriak Leana ketika dia sudah sampai di mobil. Tapi teriakan Leana seakan percuma saja karena pria itu sudah menjalankan mobilnya.
*
*
*
Jessica keluar dan kebingungan karena Leana tidak ada. Dia menemukan belanjaan mereka tergeletak di bangku, tapi Leana tidak terlihat di manapun. Jessi mencoba menelepon Leana, tapi tidak tersambung. Perasaan Jessica tidak enak karena Leana menghilang begitu saja.
"Boy, apa kamu bisa lacak ponsel Leana?" "Dia hilang. Aku tidak tau dia di mana." ucap Jessi panik. Solusi terakhir adalah menelepon Boy.
Jessi menerima instruksi supaya pergi ke kantor Boy. Kebetulan kantor Boy tidak jauh dari situ. Dia meninggalkan semua belanjaannya dan dengan cepat berlari untuk menemui Boy di kantornya.
*
*
*
Boy sudah menemukan lokasi Leana. Kecurigaan mereka tentang Leana di culik semakin kuat saat mereka sampai di sebuah gudang kosong.
"Apa kita telepon Polisi saja, Boy?" tanya Jessi cemas.
"Ga ada waktu, Jess. Kamu tunggu saja di sini. Aku masuk dulu."
Boy melepas selt belt nya dan berlari ke dalam.
Pintu sedikit terbuka jadi Boy langsung saja masuk ke dalam.
"Leana!" Boy hampir saja pingsan melihat pemandangan yang ada di depannya. Pria itu berdiri tidak jauh dari Leana dengan pakaian acak-acakan. Sedangkan Leana sudah meringkuk di pojok ruangan sambil menangis ketakutan.
Tanpa basa basi lagi, Boy menghajar pria itu tanpa ampun. Dia tidak berhenti meskipun pria itu sudah terkapar.
"Kenapa kamu melakukan itu? Hah?" Boy mendindih pria itu. Dia memegang wajah pria blesteran itu supaya pria itu memandang wajah Boy. "Apa kesalahan Leana?"
"Kami tidak saling mengenal. Aku hanya di suruh saja." kata pria itu tanpa perasaan bersalah.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruh kamu melakukan ini!" teriak Boy emosi.
Pria itu tertawa. "Kamu sudah pasti tau jawabannya." katanya dengan nafas tersengal.
"Cepat, atau aku lapor polisi." Boy kembali mencengkram kemeja orang yang sudah babak belur di depannya.
"Dia.. Mar...."
BRUK. Pria itu tergeletak tidak sadarkan diri sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Boy terduduk lemas. Apakah pria itu ingin bicara jika Marsha yang menyuruhnya? Tadi mereka baru saja ribut karena Leana. Tapi, apa Marsha setega itu pada Leana? Pria di depan Boy jelas bukan pria sembarangan. Dia punya jam tangan mewah dan baju nya pun bermerk.
Di tengah kekacauan hatinya, Boy kembali tersadar akan Leana. Dia melihat darah di sekitar tempat Leana dan Pakaian Leana sudah tersebar entah di mana. Boy melepaskan jas nya untuk membungkus tubuh Leana yang masih saja menangis.
"Ini aku, Le. Kamu percaya kan pada ku?" Boy mencoba menyadarkan Leana yang berteriak saat Boy menyentuhnya.
"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit, Le. Kita ke tempat yang lebih aman." ucap Boy lagi.
Leana melirik ke arah Boy. Dia memegang tangan Boy dengan gemetar. "Tolong aku Boy.. aku takut.." ucap Leana masih sambil terisak.
"Iya, Le.. ayo kita pergi." Boy menggendong Leana ke mobil di mana Jessi sudah menunggu mereka.
"Boy, apa yang kamu lakukan?" Jessi berteriak karena Boy menggendong Leana dalam keadaan yang memprihatinkan.
"Diam lah Jess. Kamu yang setir." perintah Boy.
Boy membuka pintu belakang dan membawa Leana bersamanya karena wanita itu tidak ingin melepaskan Boy.
Jessi juga berpindah posisi dengan melompat ke kursi stir supaya lebih cepat. Dia tidak berani bertanya pada Boy lagi karena situasi begitu tegang. Selain itu dia juga takut karena Boy tampak masih emosi.
'Ada apa ini? Kenapa perasaan ku tidak enak?' batin Jessi yang melihat kilatan amarah di wajah Boy.