
Berita kehamilan Marsha membuat heboh seluruh keluarga besar Setiawan dan juga Marga Lee. Mereka begitu senang sampai membuat acara untuk merayakan calon Boy Junior tanpa sepengetahuan Marsha dan Boy.
Malam itu mereka sudah berkumpul di rumah Boy, menunggu Boy dan Marsha pulang. Mereka sengaja mematikan lampu supaya Boy dan Marsha terkejut.
'Ceklek' Pintu rumah terbuka.
"Mars, sabar sebentar." terdengar suara Boy yang parau.
"Sudah, tidak usah nyalakan lampu. Lagipula tidak ada orang di sini." Marsha mencegah Boy untuk menyalakan lampu.
Tapi, sedetik kemudian lampu menyala. Mereka yang mau mengucapkan surprise langsung terdiam melihat Boy dan Marsha yang sedang berpelukan di sofa.
Marsha memperbaiki posisinya, begitu juga dengan Boy. Dia langsung berdiri, ketika menyaksikan ada banyak orang di rumahnya. Bahkan ada Juna-Tiff dan anak mereka yang masih bayi. Boy juga melihat Ken-Jessica, juga Jo sekretaris Juna.
Sania segera menutup mata Jessica supaya tidak menonton kakak nya yang tidak tahu tempat bermesraan.
"Kalian kenapa di sini?" Boy bergerak memeluk mertua dan orang tuanya.
"Keeeeeen.." Marsha yang melihat sosok Ken, beranjak dari kursi untuk memeluk pria itu.
Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Ken. Marsha sangat kerepotan akhir-akhir ini, jadi dia sangat merindukan bodyguard nya itu.
"Selamat nona..saya senang anda bisa bertahan dengan manusia hijau itu sampai saat ini." ucap Ken senang.
"Apa kamu bilang?" Boy yang mendengar sindiran Ken langsung bereaksi. Dia juga melepaskan Marsha dari Ken.
"Oppa jangan bentak Ken seperti itu." Bela Jessica.
"Dia memeluk istri ku." jawab Boy ketus.
"Nona yang memeluk saya lebih dulu." balas Ken.
"Stop." teriak Bayu. Dia heran kenapa keluarga nya begitu heboh.
Semua mendadak diam mendengar peringatan dari Bayu.
"Boy, Marsha, selamat ya... kami ke sini karena kami ikut senang mendengar kehamilan Marsha." Bayu menepuk pundak Boy.
"Sayang, selamat ya.. Mom senang sekali akhirnya Mom bisa punya cucu." Sania memeluk Marsha erat, bergantian dengan Boy.
"Mantu ku, Mom senang mendengar kabar ini." Ny.Lee memeluk Boy sambil meneteskan air mata. "Akhirnya, Mom bisa main sama cucu Mom sebelum Mom meninggal."
"Mom.." Marsha kini memeluk Mom nya juga bersama Boy. Dia sedih karena Mom nya mengatakan hal itu.
"Mom, Marsha masih 6 bulan lagi melahirkan. Mom harus tetap sehat dan jangan bandel." ucap Boy menasehati mertuanya.
"Iya, kali ini Mom akan menurut pada mu."
Boy beralih pada Juna, Tiff dan baby perempuan mereka yang cantik.
"Hey, Jun..Tif.. kalian juga di sini?" sapa Boy.
"Ya, kami tidak ada niat ke sini, tapi karena Jo yang menyetir, dia malah bawa kami ke sini." Juna melirik ke arah Jo dengan pandangan membunuh. Tapi, Jo melengos. "By the way, selamat ya Boy, Mars.." Juna memeluk Marsha yang terlihat makin cantik saja.
"Thanks, Jun."
"Ehem." Tiff dan Boy berdehem bersamaan.
Marsha tersadar jika dia cukup lama memeluk Juna. Rasanya seperti baru kemarin saja dia merasakan nyaman nya dada bidang Juna.
"Ayo, sudah selamat-selamatannya. Kita makan dulu..Mom sudah siapkan banyak makanan." Sania mengajak semua untuk pergi ke ruang makan.
*
*
*
"Siapa nama anak mu, Tiff?" tanya Marsha yang sedang menggendong Bayi Tiffany.
"Natalie Liem. Cantik, bukan?"
"Ya, dia sangat cantik dan menggemaskan."
"Jadi, kalian ingin bayi laki-laki atau perempuan?" tanya Ny.Lee penasaran.
"Laki-laki."
"Perempuan."
Boy dan Marsha menjawab secara berbeda. Boy menjawab laki-laki sedangkan Marsha perempuan.
"Laki-laki saja, biar keren seperti Daddy nya. Kalau perempuan akan susah menjaganya." Boy memberikan penjelasan akan pilihannya.
"Perempuan lebih lucu, Boy.. seperti Natalie.. lihat, dia cantik sekali bukan? Aku juga ingin pakai baju couple dengan anakku nanti." Marsha ngotot ingin anak perempuan.
"Laki-laki saja, sayang.. percaya pada ku."
"Sudah-sudah.. Mau laki atau perempuan, yang penting sehat." untuk kesekian kalinya, Bayu harus menghentikan perdebatan mereka.
Sania dan Ny.Lee mengangguk setuju.
Karena tidak ada bahan perdebatan lagi, mereka mulai makan hidangan mewah yang sudah disiapkan.
"Jessi sayang, jadi kapan kamu akan menikah?" celetuk Sania tiba-tiba.
"Uhuk." Jessi langsung tersedak karena ucapan random Mom nya.
Ken dan Jo yang duduk bersebelahan dengan Jessi dengan sigap menyodorkan air putih. Jessi yang melihat kedua pria itu, memilih mengambil air minumnya sendiri.
"Mom tidak pernah lihat kamu jalan dengan seorang pria." sindir Sania.
"Mom.. ini di luar konteks. Kita ke sini untuk merayakan Boy-Marsha kan?" protes Jessi kesal.
"Mom kan penasaran. Yang lain juga pasti penasaran, kan?" Sania berkeliling untuk mencari dukungan. Tapi, seperti nya mereka lebih tertarik untuk makan.
"Mom, Jessi kan masih kecil."
"Umur mu sudah lebih dari 25, kecil dari mana nya?" ucap Boy tidak terima.
Jessi mengerucutkan bibirnya.
"Jess, kamu dengan Ken saja." saran Marsha. Dia menatap Ken yang sejak tadi memperhatikan Jessi. Dia merasa Ken tertarik pada Jessi.
"Jo, juga sedang mencari jodoh." Juna yang sejak tadi diam, membuka mulutnya.
Jessi menatap Ken dan Jo bergantian.
"Sebenarnya, aku sudah punya pacar, dan akan memang berencana menikah." ucap Jessi dengan wajah yang serius.
Kali ini, semua meninggalkan sendok-garpu mereka, dan dengan kompak menengok ke arah Jessi. Bahkan, Bibi yang sedang berada di dapur, sampai keluar untuk mendengar dengan siapa Jessi akan menikah.
"Ya, aku akan menikah dengan Song Jong Ki, tanggal 30 Februari nanti." Jessica tertawa lebar karena berhasil mengerjai semua orang.
"Aduh, Mom hampir sakit jantung." Sania memegangi dada nya yang terasa sakit tiba-tiba.
"Dasar anak kurang ajar." omel Bayu yang juga kaget.
"Habis, Mom sih.. mulai dulu."
"Keluarga mu, luar biasa berisik." sindir Juna yang duduk di samping Boy.
"Ya, ini belum apa-apanya, Jun." Boy hanya menarik nafas panjang karena harus menyaksikan pertikaian ibu dan anak yang tidak pernah berakhir itu.