
Marsha hanya mendengarkan Leana dan Boy bercerita. Dia tidak mendengar sama sekali pembelaan atau klarifikasi dari Boy. Entah kenapa ini membuat hati Marsha sakit.
"Sya, you gak apa-apa?" akhirnya Jeni angkat suara. Dia tidak tega melihat Marsha yang mati-matian menahan emosi.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang mendengarkan cerita Leana." jawab Marsha dan lagi-lagi tersenyum ke arah Leana.
"Sorry..sorry..Aku dan Boy sudah lama tidak bertemu, jadi ada banyak hal yang ingin kami ceritakan." Leana tersadar karena melupakan keberadaan Marsha-Jeni dan hanya mengobrol berdua saja dengan Boy.
"Oh iya, kapan kamu ajak suami mu ke sini?" Leana kini berfokus pada Marsha.
"Emmm.. aku rasa sulit untuk bertemu dia, karena dia sangat sibuk." ucap Marsha sambil melirik ke arah Boy lagi.
"Wah.. pasti suami mu pekerja keras." puji Leana.
"Ya, dia bahkan sering mengabaikan istrinya sendiri." Marsha melayangkan sindiran keras untuk Boy.
"Mungkin suami mu tidak berniat melakukan itu. Mungkin kamu yang kurang peka." sela Boy. Dia hanya membutuhkan 3 kata keluar dari mulut Marsha alias pengakuan Marsha mencintainya.
Marsha memutar bola matanya. Kurang peka? Apakah ini tidak terbalik?
"Aku penasaran, seperti apa suami seorang Marsha Lee." Leana tampak mendengarkan baik-baik cerita dari Marsha. "Siapa yang bisa mengabaikan orang sesempurna Marsha Lee?" lanjut nya.
Marsha tertawa. Pertanyaan Leana sangat bagus untuk mengungkapkan unek-unek nya pada Boy. "Yah, dia sangat jelek dan norak. Kalau tidur dia mendengkur keras sekali. Dan hobinya ngupil di kamar." jelas Marsha dengan kesal. Biar saja Boy marah dengan Marsha.
Giliran Leana yang tertawa. Baru kali ini dia melihat ada orang yang menjelek-jelekan suaminya sendiri.
"Kalau dia seperti itu, kenapa kamu mau menikah dengan dia?"
Skakmat. Pertanyaan balik dari Leana membuat Marsha diam seribu bahasa. Awalnya memang Marsha tidak menginginkan pernikahan paksa ini. Dia juga sama sekali tidak berminat pada Boy. Tapi, lama-lama Marsha mulai merindukan pria itu. Jika bekerja, Marsha selalu ingin cepat pulang dan bertemu Boy. Bahkan Marsha selalu teringat ciuman mesra dan pelukan Boy.
Kini ketiga orang di meja itu menunggu jawaban dari Marsha. Apakah Marsha akan mengungkapkan perasaannya?
"Karena...." "Aku.. tidak punya pilihan lain." jawab Marsha akhirnya. "Tapi, tenang saja, aku akan segera menceraikan dia kalau dia selingkuh."
Marsha menyambar air yang baru akan di minum oleh Boy.
"Sya, tunggu.." Jeni sedikit sedih karena makanan baru saja datang. Tapi mengingat dedikasinya yang tinggi, Jeni langsung menyusul Marsha meskipun cacing nya sudah protes.
*
*
*
Boy masih mencerna ucapan Marsha yang berkata akan bercerai jika Boy selingkuh. Dia juga melihat ekspresi kecewa dari wajah cantik istrinya itu.
"Lea, meeting nya di batalkan, jadi aku harus segera pulang." Boy beranjak dari kursinya. Dia ingin menemui istrinya dan meminta maaf pada Marsha.
"Makan lah dulu, Boy. Ini sudah jam makan siang." Leana mulai membakar daging di meja untuk Boy.
Boy kembali duduk. Dia melanjutkan pembicaraan mereka sambil makan. Tapi meski begitu, otak Boy ada di rumah, tepatnya pada Marsha. Apakah wanita itu benar sakit perut? Apakah wanita itu kembali ke rumah? Boy mencoba melacak ponsel Marsha sembari makan. Perangkat Marsha berada di rumah, jadi Boy sedikit lega. Boy kemudian membuka CCTV di rumah. Marsha tidak ada di kamar.. Dia menggeser satu persatu sampai menemukan wanita nya berada di kamar Ken.
"Cepat kamu keluar dari situ." ucap Boy yang langsung menelepon Marsha saat itu juga.
"Apa maksud mu?"
"Marsha Lee, aku tau kamu sedang berada di kamar Ken. Cepat keluar sekarang!" bentak Boy.
"Kenapa kamu bisa tau?"
Boy mematikan teleponnya. Dia tahu kalau Marsha tidak akan menuruti nya.
"Le, maaf, aku harus pergi.."
"Tunggu, Boy." Leana menahan tangan Boy. Dia jelas sekali mendengar Boy mengatakan Marsha Lee.. Dia penasaran ada hubungan apa Boy dengan Marsha.
"Apa itu tadi Marsha?" "Kenapa kamu menelepon Marsha?" tanya Leana to the point.
"Dia itu istri ku, Le." Boy meninggalkan Leana yang terbengong mendengar pengakuan dari Boy. Pantas saja sejak tadi Boy dan Marsha tampak mencurigakan. Tapi kenapa Boy marah pada Marsha? Kenapa Marsha bilang akan menceraikan Boy jika dia selingkuh? Apakah hubungannya dengan Marsha tidak baik? Berbagai pertanyaan berkecambuk di benak Leana. Mungkin dia harus berkunjung ke rumah Boy untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Boy dan Marsha.