
Marsha melirik ke arah Boy yang sejak tadi hanya sibuk dengan laptopnya. Mereka memang berada di ruangan yang sama, tapi mereka terlihat seperti orang asing yang tidak pernah bertemu. Baik Boy dan Marsha tidak ada yang punya inisiatif untuk memulai pembicaraan.
Akhirnya karena bosan, Marsha memilih untuk pergi saja dari kamar. Dia mulai kebingungan kenapa Boy melakukan aksi berdiam diri begitu lama. Marsha pikir hati Boy akan melunak ketika tadi pagi dia berinisiatif membenarkan dasi dan menciumnya lebih dulu. Tapi tebakan Marsha salah karena tampaknya Boy masih kesal padanya.
Marsha memilih untuk pergi ke kolam renang. Satu-satunya cara untuk menghilangkan stress saat ini adalah dengan berolahraga. Dan sudah cukup lama juga Marsha tidak berenang.
"Nona, ini sudah malam. Kalau anda berenang, nanti anda bisa sakit." Ucap Ken yang kebetulan melihat Marsha pergi ke kolam.
"Hey, kapan kamu pernah lihat aku sakit?" Kata Marsha dengan percaya diri.
Ken setuju dengan Marsha. Selama bekerja dengan Marsha, Ken bisa menghitung dengan jari berapa kali Marsha pergi ke dokter. Wanita itu jarang sekali sakit. Ken sampai heran vitamin apa yang diberikan Ny.Lee sampai Marsha bisa tumbuh sekuat ini.
Marsha sudah berganti dengan pakaian renang. Dia mengikat rambutnya dan mulai turun ke kolam. Ken duduk di pinggir sambil mengamati Marsha yang kini sudah berenang dengan semangat. Ya, Marsha cukup handal dan menguasai beberapa teknik dalam berenang, sehingga Ken tidak perlu mengkhawatirkan Marsha.
"Ken, kamu yakin tidak ingin ikut berenang?" Teriak Marsha dari tengah kolam. Ken melihat perbedaan besar pada wajah Marsha sekarang ini. Seharian tadi, Marsha tampak seperti kanebo kering, tapi setelah berenang, Marsha begitu lebih happy. Ternyata terapi renang ini bagus juga untuk mengobati mood Marsha.
"Tidak nona.. Anda saja yang berenang.." Jawab Ken dengan berteriak juga, supaya Marsha mendengar.
Karena Ken tidak mau menerima tawarannya, Marsha kembali melanjutkan berenangnya.
Ponsel Ken Berdering. Ny.Lee calling..
"Bagaimana Nyonya? Ada masalah di perusahaan? Baik, saya segera ke sana." Ken memandang Marsha yang tengah asyik bolak balik berenang. Marsha sebentar lagi pasti akan lelah dan menyudahi kegiatannya. Dan tadi Marsha juga sudah berpesan supaya Ken jangan mengurusnya seperti anak bayi. Karena 2 alasan itulah, akhirnya Ken pergi tanpa berpamitan pada Marsha.
Sepeninggal Ken, Marsha berniat menyudahi berenangnya. Tapi, Tiba-tiba Marsha merasakan kakinya kram. Dia berusaha berenang ke pinggir secepatnya, tapi kakinya sudah sangat sakit.
"Toloooong." Karena panik, Marsha tidak dapat berfokus lagi dan mulai kesulitan bernafas.
***
Boy yang sejak tadi mengerjakan tugas baru menyadari jika Marsha tidak ada. Dia lalu membuka CCTV untuk mengecek ke mana istrinya pergi. Boy hampir saja melempar laptopnya ketika melihat Marsha yang tenggelam di kolam.
Secepat kilat Boy keluar dari kamar, dan berlari menuju ke arah kolam renang. Dia langsung terjun ke sana tanpa membuka pakaiannya lebih dulu. Bagi Boy, yang terpenting sekarang adalah menolong Marsha, karena tampaknya Marsha sudah kehabisan nafas. Boy memeluk Marsha dan menyeretnya ke pinggir.
Marsha sudah tidak sadar ketika Boy meletakan dia di pinggir kolam.
"Mars.. Bangun Mars.." Boy menepuk pipi Marsha. Tapi tidak ada respon.
Bagaimana caranya menekan dadanya supaya air itu keluar?
Akhirnya Boy nekat untuk mempraktekan apa yang dilihatnya dalam televisi. Pertama dia menekan dada Marsha dengan menggunakan kedua tangannya, tapi tidak ada air yang keluar.
Boy lalu menjepit hidung Masha dan memberikan nafas buatan.
"Mars.. Bangun Mars.. Jangan mati dulu.. aku tidak punya teman bertengkar lagi nanti." Ucap Boy panik karena usahanya tidak membuahkan hasil.
Boy kembali menekan dada Marsha dan memberi nafas buatan berulang kali sampai akhirnya air keluar dari mulut Marsha dan Marsha terbatuk.
Marsha membuka matanya perlahan. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Di tatapnya Boy yang terlihat panik.
"Marsha.." Boy berteriak senang. Dia segera mengangkat tubuh Marsha, lalu mendekapnya. Badan Marsha begitu dingin dan wajahnya juga sangat pucat.
"Boy, apa aku sudah mati?" Tanya Marsha lemah.
"Tidak Mars.." Boy memegang pipi Marsha.
"Buktikan kalau aku belum mati, Boy." Boy yang panik dan harus menghangatkan Marsha hanya punya satu pilihan. Dia mencium bibir Marsha. Kali ini caranya cukup berhasil karena Marsha bisa merespon dengan baik. Sembari melakukan itu, Boy mengangkat badan Marsha dan membawanya ke kamar.
Dia meletakan badan Marsha yang basah kuyub di ranjang. Marsha kini sudah sadar sepenuhnya berkat ciuman mereka. Dia mengalungkan tangannya pada leher Boy, sambil menatap lekat pria itu.
"Ayo, kita lakukan Boy.." Pinta Marsha.
Boy kembali mencium Marsha. Tapi, begitu pandangan mereka bertemu, Boy mengurungkan niatnya. Ada satu pertanyaan yang terbesit dalam pikiran Boy, meskipun Marsha tidak menolak dengan apa yang dilakukan Boy.
"Apa kamu sudah mencintai ku, Marsha Lee?"
Marsha tidak menjawab dan hanya dapat menatap Boy. Hatinya jelas mengatakan jika Boy begitu mengagumkan, tapi entah kenapa mulutnya begitu kaku dan tidak dapat menjawab pertanyaan dari Boy.
Melihat Marsha yang diam saja, Boy turun dari ranjang, dan dia meninggalkan Marsha keluar kamar begitu saja.
(Gagal lagi.. gagal lagi...)