
Boy dan Marsha lupa jika mereka menampung 2 orang yang sedang patah hati di dalam rumah. Pagi-pagi sekali Jessica sudah hampir merobohkan rumah dengan suara cempreng nya.
Boy segera turun untuk mengecek kenapa Jessica berteriak-teriak.
'wooo.. wooo.. u wooo.. tinggalkan semua di sini..' Jessica menyanyi dengan penuh semangat.
Boy menepuk jidatnya. Dia pikir Jessica stress dan berteriak-teriak sendiri. Tenyata dia sedang karoke an bersama Leana menyanyikan lagu Tak Ingin Usai milik Keysia.
"Kalian bisa merobohkan rumah ini." sindir Boy sembari mematikan televesi. Boy tidak lupa mengambil remote nya supaya Jessica tidak kembali bernyanyi lagi.
"Booooy.. kamu mengganggu kesenangan kami." Jessica langsung merebahkan badan di sofa sambil mengerucutkan bibirnya karena Boy menghentikan kegiatan mereka.
"Kalian lapar? Aku bikin kan sarapan dulu." Leana mengikat rambutnya, lalu pergi ke dapur tanpa menunggu jawaban Jessica dan Boy. Ini juga merupakan trik untuk kabur dan tidak terlibat dalam pertengkaran kakak adik itu.
"Jess.. kamu sadar tidak kalau suara mu jelek?" tanya Boy pada Jessica yang sedang ngambek.
"Tidak." "Aku akan ikut audisi menyanyi tahun depan." ucap Jessica cuek.
Boy tertawa. Dia yakin kalau juri bisa pingsan mendengar suara indah Jessica yang melebihi suara auman singa.
"Mom menelepon, katanya kamu harus segera kembali ke rumah dan tidak merepotkan ku." kata Boy sambil menatap Jessica.
"Kapan aku pernah merepotkan mu, oppa?"
"Dari kamu lahir." jawab Boy kesal. Dia benar-benar gemas dengan Jessica yang selalu bicara sembarangan dan tanpa dosa.
Setelah berdebat cukup lama, Leana kembali datang dengan membawa 2 piring nasi goreng.
"Ayo, kita makan." Leana mengajak mereka untuk duduk di meja makan. Ternyata di meja makan juga sudah tersaji omelet telur dan salad.
"Wah, daebak.." kata Jessica kagum.
Jessica duduk di sebelah Leana yang masih sibuk menuangkan air untuk Boy dan juga dirinya.
"Boy, kamu ingat tidak, dulu kamu selalu ke rumah hanya untuk minta makan?" Leana bercerita dengan semangat.
"Ya, tentu saja. Itu karena kamu sangat pandai memasak." aku Boy. Masakan Leana memang tidak pernah mengecewakan.
"Apa Marsha bisa masak?" tanya Leana lagi.
"Ehem." Marsha yang sejak tadi mengamati mereka dari atas akhirnya turun diam-diam dan berdiri di belakang Leana. "Sepertinya aku ketinggalan topik yang menarik."
Marsha mendekat pada Boy, lalu dia duduk menyamping di pangkuan Boy. Boy tidak protes akan tingkah Marsha ini. Dia justru senang karena dia bisa melihat wajah istrinya dari dekat.
"Dia tanya, apa Eonni bisa masak?" ulang Jessica.
"Aku tidak bisa masak. Selama ini Boy tidak mengijinkan aku menyentuh dapur." "Iya, kan sayang?" tanya Marsha dengan manja.
"Ya, tentu saja. Aku lebih suka jika istri ku merawat dirinya." Boy membenarkan perkataan Marsha tentang tidak menyentuh dapur. Hanya saja alasannya yang baru saja Boy ucapkan itu tidak tepat. Alasan sebenarnya Boy melarang Marsha ke dapur itu karena Boy takut Marsha salah memasukkan bumbu dan malah meracuninya. Boy memberi sedikit kamuflase supaya Marsha tidak malu di depan Leana.
Boy tentu saja dengan senang hati memenuhi permintaan istrinya itu tanpa melepaskan pandangannya pada Marsha.
"Haduh.. ini masih pagi, jangan bucin deh." sela Jessica. "Aku dan Leana bisa baper."
Leana hanya tersenyum kecil. Dia setuju dengan Jessica. Entah kenapa dia sedikit cemburu melihat kemesraan Boy dan Marsha. Seharusnya Leana tidak boleh begitu, karena mereka sudah menikah. Tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, Leana juga ingin mendapat perhatian dari Boy.
"Oh iya, Jess.. Apakah nanti kita jadi ke mall pakai baju couple?" tanya Leana mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya ini juga cara Leana untuk dapat menarik perhatian Boy sekaligus membuat Marsha cemburu karena kedekatannya dengan Jessica.
"Tentu saja, Le. Setelah sarapan kita ke mall." ucap Jessica senang.
"Jess, kamu tidak ajak Marsha?" Boy menyadari perubahan ekspresi wajah Marsha ketika Jessica lebih memilih pergi dengan Leana ketimbang dirinya.
"Eonni mau ikut?"
"Tidak. Kalian saja. Hari ini aku sedang ada jadwal." tolak Marsha. Lagipula Marsha tidak akan mau jalan bersama dengan Leana.
*
*
*
Marsha memegang tangan Boy yang hendak pergi keluar dari kamar. Dia ingin membahas apa yang terjadi tadi pagi bersama Leana. Sebenarnya bukan cuma pagi ini, Leana berusaha memikat hati Boy. Baru saja Marsha melihat dengan mata kepala sendiri suami nya itu sedang mengobrol di bawah bersama Leana sambil tertawa.
"Aku tidak tahan lagi Leana ada di sini. Dia jelas-jelas ingin membuat ku cemburu."
"Marsha sayang.. dia hanya seminggu kan.. bersabar lah. Itu lebih baik daripada Jessica merusuhi kita." Boy sekarang cukup menerima kehadiran Leana karena kalau hanya Jessica yang berada di sini, dia akan terus menerus mengganggu Boy dan Marsha.
"Boy, kenapa kamu malah bela Leana?"
"Aku tidak membela.. hanya saja dia bisa berteman dengan Jessica. Dan itu bagus, bukan?"
"Pokoknya aku tidak suka. Jangan salahkan aku kalau nanti aku memberinya pelajaran."
Deg.
Boy merasakan ucapan Marsha kali ini tidak main-main. Boy mendekati Marsha. Dia membelai rambut Marsha sambil menatapnya intens.
"Aku minta maaf, sayang."
"Boy, kamu tau kan.. aku tidak suka kalau milik ku itu melihat orang lain." Marsha mulai tenang karena permintaan maaf dari Boy. Dia juga memandang suami nya dengan penuh kasih.
Marsha berjinjit untuk mencium Boy. "You're My Boy.." tegas Marsha.
"Tentu saja, sayang.. sampai kapanpun aku ini milik mu seorang." Boy kembali mencium Marsha dengan rakus.
'Aku harap semua akan baik-baik saja.' batin Boy yang masih menikmati ciumannya.