
Kamar Boy-Marsha kini sudah di lengkapi dengan sistem sidik jari seperti kantor Boy. Jadi, hanya Boy dan Marsha yang dapat membuka pintu itu. Ruangan di dalam sekarang lebih luas. Yang pertama Boy lihat adalah ranjang mereka. Boy tersenyum karena Jessica sudah membuang ranjang milik Marsha dan hanya menyisakan satu ranjang untuk mereka. Jessica juga mengubah wallpaper dengan gaya desain hotel di Eropa. Boy merasa kamarnya jauh lebih nyaman sekarang, serasa berada di kamarnya sendiri.
"Kenapa ranjangnya cuma satu? Nanti kamu tidur di mana?" tanya Marsha bingung. Meskipun dia suka dengan apa yang telah Jessica kerjakan, tapi kalau ranjangnya satu, sudah pasti itu akan menimbulkan masalah baru.
"Ranjang mu sudah terkontaminasi kecoa. Kamu mau tidur di ranjang bekas kecoa?"
"Oh iya, aku lupa." Marsha menengok ke arah Boy. "Boy, wajah mu."
Boy melihat cermin yang menghadapnya. Memang betul kata Marsha. Seluruh wajah Boy berbintik-bintik merah. Boy juga langsung merasakan gatal di seluruh badannya.
"Cepat telepon Jessica." perintah Boy. Dia tidak bisa menelepon karena sibuk menggaruk badannya.
"Jess, apa kamu masuk kan udang ke dimsum nya?" teriak Boy begitu Marsha me-loud speaker telepon nya.
"Mana mungkin Boy..aku tahu kamu alergi udang."
Jika bukan Jessica, berarti.. Boy menatap tajam ke arah Marsha yang mulai salah tingkah. Marsha mundur beberapa langkah karena dia takut dengan kilatan amarah di mata Boy. Dia sama sekali tidak tau jika Boy alergi udang. Dia pikir Boy hanya tidak suka udang.
"Mars.. Apa kamu mau bunuh aku?" Boy mendekat pada Marsha, sampai gadis itu terjatuh ke ranjang. Boy mengunci tangan Marsha dengan kedua tangannya. Dia lalu naik ke ranjang dan menindih badan Marsha. Kali ini Marsha sudah keterlaluan.
Marsha semakin ketakutan, apalagi wajah Boy sekarang seperti udang rebus.
"Boy, kita ke dokter." kata Marsha dengan terbata.
"Tidak perlu." "Aku akan beri kamu pelajaran sebelum aku mati." Boy sudah merasakan sesak nafas. Tapi, dia harus melakukan sesuatu supaya Marsha kapok.
Boy mencium bibir Marsha dengan kasar. Tapi itu hanya sesaat karena detik berikutnya Boy sudah tidak sadarkan diri hingga menimpa badan Marsha.
*
*
*
"Dia sudah di suntik epinefrin. Kamu ga perlu khawatir Sya..Om juga sudah resepkan obat alergi." Dr.Andre menepuk pundak Marsha yang sejak tadi belum berhenti menangis.
"Dia tidak akan mati kan, Dok?" tanya Marsha polos. Dia tidak pernah melihat ada orang yang mengalami alergi separah ini.
"Tenang saja..Boy sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena alergi udang." "Baiklah, Om permisi dulu."
"Ken, aku menyesal.. harusnya aku tidak mengerjai Boy seperti ini."
Ken bergerak untuk memeluk Marsha dari samping. "Sudah nona, yang penting sekarang Tuan Boy baik-baik saja." hibur Ken.
"Telepon Jeni supaya batalkan jadwal hari ini. Aku ingin menunggu Boy di sini."
"Baik, nona. Saya telepon di luar."
Marsha duduk di pinggir ranjang sambil mengamati Boy. Wajahnya sudah lebih membaik dan tidak merah lagi.
Ponsel Boy berdering. Marsha melihat siapa yang menelepon. Sarah..
"Halo, Pak Boy.. Mr.Park dari tadi menelepon dan minta maaf pada Pak Boy.."
'Mr.Park, minta maaf?' Marsha bertanya dalam hatinya.
"Ada apa ini, Sar?"
"Lho, ini bukan Pak Boy?" "Eh, Ibu Marsha,maaf.." Sarah jadi serba salah setelah sadar jika yang mengangkat adalah istri Boy.
"Kenapa Mr.Park minta maaf? Memangnya ada hubungan apa dia dengan Boy?" tanya Marsha penasaran.
"Tapi ibu jangan bilang pak Boy ya.. nanti saya dimarahi.." "Jadi, waktu ibu mengadakan meeting dengan Mr.Park, Mr.Park hampir saja melecehkan ibu. Tapi untung Pak Boy datang tepat waktu. Dia selamatkan Ibu." aku Sarah.
Deg.
Marsha membeku di tempat. Suaranya tercekat karena tidak bisa berkata-kata lagi. Pantas saja Boy menyuruh Ken yang mengurus kerjasama ini.
"Tapi Ibu tenang saja, Semua video CCTV di restoran sudah dihapus oleh Pak Boy." "Pak Boy itu sangat menyayangi ibu. Dia tahu impian ibu itu bisa masuk pasar international, jadi Pak Boy meneruskan kerjasama ini."
Marsha mematikan teleponnya. Dia kini menatap Boy dengan perasaan bersalah. Ternyata Boy selama ini tidak secuek dan sejahil yang dia pikirkan.
"Boy.. aku minta maaf.." Marsha memegang tangan Boy, dan meletakan di pipinya. "Aku janji, aku tidak akan mengerjai kamu lagi, dan aku akan berusaha mencintai mu, Boy." ucap Marsha tepat di samping Boy.
Entah berapa lama Marsha menunggu di samping Boy sambil memegang tangan nya, sampai akhirnya dia tertidur.