You're My Boy

You're My Boy
Berunding



Ny.Lee, Bayu dan Sania sekarang berada di taman. Mereka membuat lingkaran dan bicara dengan pelan-pelan supaya anak mereka tidak mendengar percakapan mereka. Meskipun sudah dapat dipastikan siapapun tidak bisa mendengar karena terhalang pintu kaca, tapi mereka harus waspada, apalagi telinga Boy ada di mana-mana.


"Saya minta maaf, Nyonya." seperti biasa, Bayu memulai pembicaraan.


"Sudahlah, sebenarnya kami sudah biasa menerima gosip miring. Lagipula, Marsha tidak hamil. Dia sudah memberikan hasil testpack negatif." ucap Ny.Lee yang tampak terlihat lebih santai dibandingkan tadi.


"Jadi, masalah selesai?" tanya Sania cukup lega. Dia hendak kembali kepada Boy untuk memberitahukan kabar ini.


"Tunggu dulu." tahan Bayu.


"Apalagi?"


"Nyonya, ini mungkin terdengar sedikit mustahil. Tapi, bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita?" saran Bayu. Ide ini terlintas ketika Bayu memandang interaksi Boy dan Marsha. Sejak datang, Marsha terus menatap Boy. Begitu juga, Boy kerap menoleh ke arah Marsha.


Ny.Lee tampak diam beberapa saat. Sebenarnya itu bukan ide yang buruk. Bayu Setiawan mempunyai beberapa bisnis yang menjanjikan. Dan selain itu, sifat Bayu yang humble dan humoris adalah aset yang bagus untuk menarik rekan bisnis baru. Jika keluarga Lee bersama keluarga Setiawan bekerja sama, maka mereka akan lebih berjaya lagi. Tapi, Ny.Lee khawatir akan anak dari Bayu. Apakah pria yang norak itu bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik untuk Marsha?


"Ayolah nyonya.. lagipula, Marsha sudah tidak muda lagi. Anda tidak ingin segera punya cucu di sisa hidup anda?" Sania mencoba membantu suaminya dengan membujuk Ny.Lee.


Bayu berdehem karena Sania memilih kalimat yang sedikit menusuk. Tapi, ucapan Sania justru membuat Ny.Lee sadar. Marsha memang tidak muda lagi. Usianya sudah menginjak 30 lebih. Dan Marsha tampak tidak tertarik dengan pria manapun selain dengan Juna.


"Baiklah. Saya setuju. Tapi dengan satu syarat, kalau anak kamu tidak bisa membahagiakan Marsha, maka saya akan buat perhitungan dengan dia."


Bayu dan Sania berpandangan, tapi kemudian mereka kembali pada Ny.Lee yang sudah setuju. "Tenang saja, Boy itu pintar, baik dan perhatian. Dia juga pasti bisa membuat Marsha tertawa setiap hari dengan tingkahnya." janji Bayu yang sebenarnya tidak yakin Boy bisa melakukan itu semua.


"Ya sudah, kita kembali dan bujuk mereka untuk mau menikah." Ny.Lee menarik nafas panjang, lalu membuka pintu kaca yang menghubungkan taman dengan ruang tengah.


*


*


*


Sementara itu, di ruang tengah baik Boy dan juga Marsha hanya saling diam. Mereka menunggu orang tua masing-masing dengan perasaan cemas. Kalau Ken, dia tidak berani berkata apapun sejak dipukuli oleh orang-orang Ny.Lee.


"Kalian tidak bosan diam saja?" Jessica memecah keheningan dalam ruangan itu.


"Jess, kira-kira apa yang mereka bicarakan?" tanya Boy yang kasihan pada adiknya yang pasti kebosanan.


"Mungkin, Ny.Lee akan memenjarakan kamu."


Ken tertawa kecil mendengar jawaban dari Jessica. Dia membayangkan jika itu benar-benar terjadi, pasti Ken akan dengan senang hati menariknya masuk penjara.


"Bear, kamu masih bisa tertawa?" omel Boy pada Ken.


"Siapa Bear?" tanya Jessica lagi.


"Dia." Boy menunjuk Pria di belakang Marsha yang wajahnya lebam-lebam.


"Hay, Om." sapa Jessica sambi tersenyum kaku. "Kenapa dia di bilang Bear?"


"Aduh, kamu itu bodoh sekali. Dia itu Marsha, dan yang itu Bear.. Jadi nya apa?" Ucap Boy kesal. Dia heran, kenapa kampus Jessica dapat memberikan gelar cumlaude pada gadis bodoh satu ini.


"Oh,, i see.. Marsha and the Bear." kata Jessica senang. "Tapi, siapa nama aslinya?"


Boy dan Jessica menengok kepada Marsha yang tampak sedang memijit pangkal hidungnya. Mereka kembali duduk dengan tenang dan tidak mengganggu lagi.


Ken memberikan minyak angin yang selalu dia sediakan dari kantongnya pada Marsha.


"Terima kasih, Ken." "Kenapa mereka begitu lama, Ken?" tanya Marsha curiga.


"Sepertinya mereka sedang berdebat akan sesuatu."


Pintu terbuka. Ketiga orang itu muncul, dengan wajah datar. Mereka kembali pada posisi duduk masing-masing untuk menyelesaikan masalah ini.


"Kami sudah membuat kesepakatan." kata Ny.Lee dengan tegas.


"Kami ingin, kalian berdua menikah." Bayu melanjutkan perkataan Ny.Lee.


"Apa?" ucap Marsha dan Boy berbarengan.


"Tapi, kenapa kami harus menikah?" tanya Boy bingung.


"Marsha tidak mau menikah dengan dia." Marsha melayangkan protes dengan nada tinggi. Marsha sudah berdiri karena ingin pergi dari situ.


"Gue juga gak mau menikah dengan wanita aneh seperti lo." balas Boy sengit. Boy juga berdiri karena melihat Marsha berdiri.


"Marsha, Boy, duduk." perintah Ny.Lee.


"Kami tahu, kalian masih senang hidup bebas. Tapi, ini solusi terbaik untuk menjaga nama baik keluarga Lee dan Setiawan." jelas Ny.Lee dengan bijaksana.


"Iya. Ny.Lee benar. Kamu terima saja, Boy. Kamu sangat beruntung karena calon istrimu itu pintar, cantik dan baik hati." Sania mencoba membujuk anaknya.


"Mooom.. tapi dia bukan tipe Boy, Mom."


"Boy, saat ini cuma ada 2 pilihan. Kamu menikah dengan Marsha atau kamu akan di coret dari kartu keluarga." tegas Bayu.


"Dan, mom akan coret kamu sebagai anak Mom." "Ayo, sayang.." Sania mengajak Bayu untuk pergi. Jessica yang bingung akhirnya mengikuti kedua orang tuanya untuk pergi meninggalkan kediaman Ny.Lee.


"Mom, Marsha tidak mau menikah dengan dia." Marsha memegang tangan Ny.Lee dan berbicara dengan lembut. Dia harus ingat jika ibunya punya penyakit jantung. Akan berbahaya jika sampai ini mempengaruhi kesehatannya.


"Marsha.. apa kamu ingin lihat Mom sedih?"


"Mom, aku akan berikan apapun yang Mom inginkan. Tapi tidak dengan menikah." jawab Marsha sambil menatap Ny.Lee dalam.


"Mom ingin cucu."


Boy yang masih shock, bahkan bisa tertawa mendengar percakapan antara Marsha dan Mom nya. Tapi dia segera diam, karena Ken dan Marsha memberikan pandangan membunuh.


"Ken, antar aku ke kamar." Ny.Lee berdiri sambil memegangi dadanya yang sakit.


"Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya Ken panik. Dia segera memegang lengan Ny.Lee.


"Mom, baiklah. Marsha akan menikah dengan Boy."