You're My Boy

You're My Boy
Mengikuti istri-part 3



Marsha bergegas menemui Mr.Park yang telah menunggunya cukup lama. Dia sampai tidak sadar jika restoran itu begitu sepi, tidak seperti biasanya.


Mr.Park menyambut Marsha dengan memeluk wanita itu. Dia baru pertama kali bertemu dengan Marsha dan wanita itu ternyata sangat cantik dan menarik. Marsha mengamati 2 bodyguard yang berdiri di samping kanan dan kiri Mr.Park. Seharusnya dia tidak perlu heran, karena Mr.Park adalah orang penting, tapi entah kenapa perasaan Marsha tidak enak.


“Mana Bodyguard yang selalu bersama kamu?” tanya Mr.Park sambil kembali duduk.


“Dia sedang cuti.” Jawab Marsha singkat. Boy sedang memperbaiki ponselnya sekarang dan Marsha juga merasa tidak perlu menjelaskan jika dia membawa bodyguard lainnya yang sedang menunggu di luar.


Mr.Park mengangguk. Dia memanggil pelayan untuk menyiapkan makan malam mereka. Pelayan segera datang dan membawakan beberapa jenis makanan kesukaan Marsha. Dia juga menyediakan sebotol wine untuk melengkapi makan malam mereka.


“Maaf, saya tidak minum.” Tolak Marsha Ketika Mr.Park menyodorkan gelas yang sudah berisi wine.


“Oh,, oke..” “Kalau begitu, silahkan makan.” Mr.Park meletakan kedua tangannya di meja. Dia masih mengamati wanita di depannya yang begitu mempesona.


Marsha yang tidak nyaman, cepat-cepat memakan apa yang sudah di pesankan oleh Mr.Park.


“Apakah anda menyetujui artis dalam manajemen anda untuk endorse brand kosmetik saya?” tanya Marsha sembari makan.


“Tentu saja, nona Marsha. Siapa yang bisa menolak permintaan gadis cantik seperti anda.” Goda Mr.Park.


Mr.Park melihat baju Marsha yang sedikit sobek dan membuat kulit putih mulus Marsha terekspos. Dan Ketika memotong steak, bajunya sedikit terangkat sehingga Mr.Park dapat melihat dalaman Marsha.


Apakah Marsha sengaja untuk menggodanya? Tapi kenapa wajah Marsha berbanding terbalik? Sejak datang, dia tidak melihat Marsha tersenyum sedikitpun. Dia juga tampak tidak nyaman sekarang.


“Kenapa tempat ini begitu sepi?” tanya Marsha sambil menengok kiri kanannya.


‘tentu saja, karena aku menyewanya.’ Kata Mr.Park dalam hati.


“Mungkin karena ini sudah malam.” Jawab Mr.Park dengan santai.


30 menit sudah mereka berbincang mengenai bisnis mereka. Marsha mengeluarkan tabletnya dan menunjukan surat perjanjian yang sudah di buatnya di kantor tadi sore.


“Anda kenapa, nona Marsha?” Mr.Park memegang tangan Marsha yang terlihat berulang kali menguap sambil memegangi lehernya.


“Tidak apa-apa. Saya hanya merasa mengantuk saja. Mungkin karena sudah pergi seharian.” “Mari kita tanda tangani surat perjanjiannya dulu.” Marsha lebih dulu membubuhkan tandatangannya. Kepalanya sangat berat dan dia harus menyelesaikan ini sekarang.


“1..2..3..” Mr.Park bukannya tanda tangan malah menghitung.


*


*


*


Boy membelalakkan mata ketika melihat rekaman CCTV di ponselnya. Sebelum ke sini, Boy sudah meretas CCTV restoran tempat di mana Marsha akan mengadakan meeting dengan Mr.Park. Sayang sekali ponselnya jatuh dan mati. Tanpa buang waktu lagi, Boy berlari secepat mungkin untuk pergi ke restoran sebelum terlambat.


“Pak.. anda belum bayar..” pegawai toko itu berteriak memanggil Boy, tapi Boy tidak mendengarkan dan hanya berfokus pada Marsha.


Lampu di restoran sudah padam dan di depan sudah ada tulisan closed. Boy yang panik menatap sekitarnya mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk masuk ke dalam. Di dekat Boy, ada orang yang sedang memperbaiki pipa. Boy menyambar kunci inggris milik orang itu, lalu dia melemparkan dengan keras ke arah kaca restoran. Caranya berhasil karena kaca itu pecah. Boy masuk melalui lubang yang sudah dia buat. Dia segera menuju ruangan di mana Mr.Park membawa Marsha.


Mr.Park baru akan membuka baju Marsha ketika Boy mendobrak pintu. Dia langsung memukul wajah Mr.Park bertubi-tubi. 2 bodyguard yang berjaga tidak dapat menghalangi Boy, karena Boy sudah mengunci mereka di toilet. Jadi, Boy hanya perlu melawan orang yang hampir saja melecehkan istrinya. Boy tidak banyak memberi pelajaran karena dia melihat Marsha yang tidak berdaya. Boy dengan panik segera menggendong dan membawa Marsha kembali ke rumah.


*


*


*


Marsha belum sepenuhnya tertidur. Dia merasakan seseorang sedang menggendongnya. Dia mencoba untuk membuka mata, tapi matanya terlalu berat. Akhirnya Marsha hanya pasrah saja. Tubuh orang itu begitu nyaman. Marsha yang awalnya merasa kedinginan, kini merasa sangat nyaman. Ya, tubuh orang yang memeluknya begitu hangat dan wangi. Marsha pernah mencium bau ini sebelumnya.


"Juna.." igau nya.


Sementara itu, Boy sudah sampai di kamar mereka sambil menggendong tubuh Marsha. Hati Boy merasa sangat teriris ketika Marsha menyebutkan nama Juna dan bukan dirinya. Boy meletakkan Marsha di ranjang miliknya. Dia berjalan ke walk in closet Marsha untuk mengambil baju tidur milik Marsha. Boy sedikit ragu untuk membuka pakaian Marsha.Tapi dia suami Marsha, sah secara hukum dan agama, jadi tidak masalah jika Boy melalukan ini. Ini pertama kali Boy melihat tubuh Marsha yang hanya menggunakan dalaman. Boy mengenyahkan pikiran mesumnya, lalu dia cepat-cepat memasangkan piyama Marsha. Karena pengaruh obat tidur tadi, Marsha tidak terbangun ketika Boy mengganti pakaiannya.


"Maaf Mars.. aku adalah suami terbodoh di dunia." Boy membelai rambut Marsha. Setiap kali mengingat kejadian tadi, Boy rasanya kesal pada dirinya sendiri.


"Jangan pergi.." Marsha menarik tangan orang yang memegang rambutnya itu.


Boy terjatuh ke ranjang. Boy hendak bangun, tapi Marsha malah memeluknya dengan erat.


"Nyaman sekali."


Boy tidak banyak bergerak dan membiarkan Marsha untuk memeluknya seperti boneka beruang.