You're My Boy

You're My Boy
Tragedi Kecoa



Boy melepaskan kemeja yang masih berbekas lipstik Marsha. Wanita itu sudah resmi mengibarkan bendera perang. Boy tidak terima Marsha mempermalukan dia di depan para karyawan. Bukan itu saja, Marsha dan Jessica mengadu pada Bayu-Sania tentang tiket nonton konser BTS. Akhirnya Boy kena semprot juga oleh Ibu dan Ayahnya.


Marsha tertawa puas melihat ekspresi kesal suaminya yang selalu mengerjai dia sejak awal pernikahan. Sekarang dia sudah menemukan cara supaya pernikahan dengan Boy ini lebih berwarna. Jika tidak dapat bercerai, maka Marsha akan membuat pernikahan ini jadi bencana untuk Boy.


"Aku akan mandi lebih dulu." ucap Marsha tanpa dosa. Dia melemparkan kiss bye dengan tangannya sambil tersenyum genit.


Boy melemparkan kemeja nya ke arah pintu kamar mandi, saat Marsha sudah masuk. Ini tidak benar. Dia adalah kepala rumah tangga, tapi justru Boy yang ditindas oleh istrinya.


"Lihat saja sebentar lagi, nona.. kamu pasti akan merengek padaku." Boy bermonolog sendiri. Dia mengambil mainan berbentuk kecoa dari nakas di sebelah ranjang.


Boy menaruh beberapa kecoa plastik itu di dalam selimut Marsha dan juga tidak lupa menebarkan di lantai. Marsha pasti akan menangis jika kamar ini penuh dengan kecoa. Boy hanya tinggal menunggu wanita itu keluar dari kamar mandi.


'Ceklek.'


Boy berdiri di dekat walk in closet dan berpura-pura sedang menelepon.


Marsha muncul dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Dia yang tidak sadar dengan jebakan Boy, dengan santainya berjalan sambil mengeringkan rambut pada handuk yang menempel di kepalanya. Marsha mengamati ekspresi Boy yang terlihat biasa saja, tidak sekesal tadi.


'Cepat juga pulihnya.' batin Marsha yang sedikit kagum karena kemarahan Boy yang hanya sesaat saja. Jarang sekali pria yang bisa meredam emosi dan rasa kesal nya seperti itu.


Marsha hendak pergi ke walk in closet miliknya, tapi ponsel Marsha berdering. Akhirnya Marsha lebih memilih duduk di pinggir ranjang untuk mengecek siapa yang mengirim pesan.


Marsha meraba sesuatu yang menempel di tangannya. Bentuk nya kenyal dan tampak kecil di tangannya. Marsha mengambil itu dan melihatnya...


"Kecoaaaaaaaaaaa" Marsha melempar kecoa di tangannya, lalu dia naik ke ranjang dengan panik. Ternyata di ranjang ada juga beberapa kecoa. Marsha melompat ke ranjang Boy dan segera berlari ke arah Boy. Dia tidak sadar jika tindakan itu membuat handuk nya terlepas.


Boy yang awalnya tertawa cekikan, langsung panik ketika Marsha tiba-tiba berlari ke arahnya dan menubruk Boy untuk minta di gendong. Dia tidak masalah jika Marsha minta di gendong, tapi masalahnya tubuh Marsha saat ini polos tanpa menggunakan apapun.


"Boy, cepat buang kecoa nyaaa... tolong..." rengek Marsha yang masih merasa geli karena telah memegang kecoa.


"Tenang Mars.. aku akan buang...tapi bagaimana aku bisa membuangnya jika kamu seperti ini? Cepat turun." pinta Boy tanpa mengalihkan pandangannya dari Marsha.


"Tidak mau Boy.. tolong cepat.. aku takut." Marsha memeluk Boy semakin erat.


'Sial, kenapa jadi gini.' Boy kehilangan fokus karena tubuh molek istrinya itu. "Aku akan buang, tapi kamu harus memgucapkan kata Boy ganteng sepanjang malam." tawar Boy sambil mencoba mengembalikan akal sehatnya.


"Tidak mau.. sudah Boy, cepat.. aku bisa mati berdiri." Marsha berteriak ketakutan.


Boy terdiam di tempatnya. Dia sudah mencoba mengalihkan pikiran, tapi semakin di lihat, Boy malah semakin ingin menyentuh Marsha.


"Oke, oke.. aku setuju." kata Marsha akhirnya.


Boy tersenyum. Dia mengambil handuk Marsha untuk menutupi badan Marsha. Boy lalu membawa Marsha turun untuk tidur di kamar tamu.


Ruangan di bawah sudah gelap. Pembantu mereka dan Ken pasti sudah berada di kamar masing-masing. Boy dengan cepat pergi ke kamar tamu sebelum 2 orang itu melihat Marsha yang tidak berpakaian.


"Boy..apakah sudah?" tanya Marsha yang sejak tadi menutup mata. Dia bahkan tidak sadar jika tubuhnya saat ini polos.


"Kamu tidur di kamar tamu dulu. Aku akan bereskan kecoa nya." Boy meletakkan Marsha dengan hati-hati di ranjang.


"Mars, gimana kamarnya bisa bersih kalau kamu menahan aku di sini?"


Marsha menggeleng kuat. Dia menepuk space ranjang yang kosong. "Sudah kamu ke sini saja."


"Tapi Mars, kamu yakin kita akan tidur bersama?" Boy menggaruk kepalanya dengan satu tangan yang bebas.


"Malam ini saja, aku ijinkan.." Marsha sudah putus asa dan dia sangat takut kecoa itu datang tiba-tiba mengikuti mereka ke kamar ini.


Boy dengan senang hati naik ke atas ranjang. Marsha langsung memeluk Boy sehingga tubuh mereka tidak berjarak lagi. Boy menarik selimut karena sepertinya Marsha tidak sadar jika dirinya tanpa busana.


"Apa kamu begitu takut dengan kecoa?" tanya Boy sambil menatap Marsha.


"Boy, kita pindah rumah saja. Rumah ini tidak aman."


"Mars.. itu cuma soal kecil. Besok Jessica akan ubah interiornya supaya kamu tidak ingat lagi. Oke?"


"Boy..." panggil Marsha yang tidak menjawab pertanyaan Boy.


"Aku merasa dingin.. seperti ada yang salah." kata Marsha pada Boy. Dia hendak membuka selimutnya, tapi tangan Boy lebih dulu menahannya. Jika sampai Marsha tahu, sudah dapat di pastikan wanita itu akan menendang Boy jauh-jauh.


"Jangan cari alasan Mars.. cepat sekarang penuhi janji mu. Bilang Boy ganteng sampai kamu tidur."


"Cih, menyebalkan sekali." Marsha sebenarnya enggan bicara itu. Kalau Juna yang menyuruhnya, Marsha akan dengan senang hati mengucapkan kata ganteng karena memang Juna itu ganteng. Tapi ini...


"Ayo,, atau aku akan kembali ke kamar." ancam Boy. Dia sudah siap melepaskan tangan Marsha yang melingkar di pinggangnya.


"Oke..Sabar.. aku harus memikirkan BTS dulu supaya bisa lebih lancar mengucapkannya." kata Marsha asal.


"1.. 2.." Boy mulai melaksanakan ancamannya.


"Boy ganteng.. Boy ganteng.. Boy ganteng.." "Astaga.." Marsha berhenti karena merasa tidak sanggup lagi mengatakannya.


"Mars.." Boy menatap Marsha dengan tidak sabar.


"Iya.. iya.." "Boy ganteng.. Boy ganteng.."


Entah berapa lama Marsha mengucapkan itu karena lama kelamaan dirinya mengantuk juga. Boy bernafas lega setelah sadar jika Marsha sudah tertidur. Dia melepaskan pelukan Marsha perlahan. "Kamu itu menarik Mars.. Tapi sayang.. kita belum saling mencintai.." ucap Boy sambil membelai rambut Marsha.


"Juna.. jangan pergi.." igau Marsha.


Raut wajah Boy berubah seketika. Ini kedua kali Marsha memanggil Juna dalam tidurnya.


"Kamu itu, istriku. Kenapa kamu selalu panggil pria lain? Hm?" ucap Boy kesal. Dia tahu, meskipun kesal, Marsha tidak akan mendengarnya.


Detik berikutnya, Boy menggulung badan Marsha dengan selimut. Sebenarnya, Boy ingin mengambil baju ke atas untuk dipakaikan pada Marsha. Tapi Boy mengurungkan niatnya setelah mendengar kata Juna. Biar saja besok pagi Marsha berteriak-teriak dan marah padanya. Ini pelajaran karena Marsha berani menyebutkan nama pria lain. Boy menatap Marsha yang sudah seperti kepompong. Dia mencium bibir Marsha dengan lembut, lalu pergi kembali ke atas.