You're My Boy

You're My Boy
Malam pertama



"Kamu bicara apa saja dengan Mom?" tanya Boy pada Marsha.


Dia merebahkan badan di ranjang hotel yang nyaman. Boy menyadari jika Marsha menangis setelah memeluk Sania. Pasti ada sesuatu hal yang penting yang Sania sampaikan.


"Mom, bilang kalau aku harus bersabar dengan tingkah mu yang aneh." jawab Marsha asal. Dia melepas high heelsnya dan melemparnya sembarangan. Tumit kaki Marsha tampak merah dan lecet. Pihak EO memberikan sepatu yang kekecilan dan Marsha tidak sempat menggantinya.


"Kamu mau mandi dulu atau tidak?" tanya Marsha. Dia melihat Boy yang sedang tiduran tanpa melepaskan sepatunya.


"Aku tidak akan mandi malam ini." kata Boy santai.


"Dasar, jorok." omel Marsha. Dia duduk di meja rias untuk melepas perhiasan miliknya, juga menghapus make up yang terasa lengket.


"Kamu tidur lah di sofa. Aku yang tidur di ranjang." ucap Marsha tanpa menengok pada Boy. Ya, pernikahan hanyalah status. Marsha tidak benar-benar menginginkan Boy, begitu juga sebaliknya.


"Hmm.." kata Boy yang sudah setengah tertidur.


Marsha bercak pinggang karena Boy benar-benar malas. Dia berusaha mengabaikan Boy. Begitu make up nya bersih, Marsha tinggal melakukan ritual terakhir, yaitu mandi. Tapi, Marsha harus membuka zipper gaunnya terlebih dahulu.


Marsha membutuhkan bantuan seseorang. Dan manusia yang ada saat ini hanya lah Boy.


'Apa aku perlu telepon Ken untuk datang?' pikir Marsha.


"Kenapa menatap ku?" Boy membuka sebelah matanya.


Marsha terkejut sampai mundur selangkah karena ternyata Boy belum tidur.


Boy bangun dari ranjang. Dia melepaskan jasnya, dan membuka 2 kancing kemeja bagian atas yang sejak tadi terasa mencekik.


"Boy, aku tidak bisa membuka sletingnya." Marsha membalikkan badan untuk meminta tolong pada Boy.


"Apa kamu tidak bisa melakukan sendiri?"


"Kalau bisa, aku tidak akan minta tolong." kata Marsha ketus.


Boy akhirnya menuruti Marsha. Dia membuka zipper Marsha perlahan. Tapi, belum sampai ke bawah, zippernya macet karena terlilit rambut panjang Marsha.


"Boy, sakit." Marsha berteriak cukup kencang.


"Tahan dulu.."


"Cepat Boy.. bisa gak sih.. ini sakit." Marsha kembali berteriak ketika Boy malah menarik rambutnya.


"Iya, sabar Mars.. Aku juga sudah pelan-pelan, jangan berteriak."


Sementara mereka ribut karena tragedi zipper, Ny.Lee, Sania dan Bayu mendengarkan di depan pintu sambil tertawa senang. Bayu menjabat tangan Ny.Lee dengan raut wajah bahagia.


"Anda akan segera memiliki cucu, besan."


"Ya, terima kasih. Saya sangat senang sekarang Marsha menikah dengan Boy."


Mereka tidak perlu khawatir lagi untuk malam ini. Tadi nya mereka hanya ingin mengawasi pengantin baru itu supaya tidak kabur, tapi para orang tua itu malah mendengar suara mereka sedang bergulat. Itu adalah suatu hal yang membahagiakan kedua pihak.


*


*


*


Ponsel Marsha berdering. Dia mengulet sebentar, lalu menekan tombol yes.


"Ya, Ken?"


"Apakah anda ingin makan pagi di bawah? Nyonya sudah menunggu Nona dan suami anda di bawah." ucap Ken dengan menekankan nada suami.


Marsha tersadar. Dia kemarin baru saja menikah. Mana pria itu? Marsha menengok ke sekeliling, tapi dia tidak mendapati Boy di manapun.


"Ya, aku akan ke bawah." Marsha segera beranjak dari ranjang. Dia menatap jam di ponselnya. Jam 8 pagi. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mandi.


"Boooooy.." panggil Marsha.


'BRAK' Marsha terpleset ketika ingin berlari ke kamar mandi. Dia jatuh tepat di depan pintu. Seketika itu pintu kamar mandi terbuka. Kini Marsha disuguhkan dengan pemandangan roti sobek milik Boy yang begitu mempesona.


Ya, Boy baru saja mandi. Dia terkejut mendapati Marsha sedang terduduk di depan pintu dengan wajah melongo.


"Kamu gak liat aku jatuh? Kamu mandi atau main air? Semua airnya keluar seperti ini." komplain Marsha.


"Mom sudah menunggu di bawah." kata Boy tanpa mempedulikan omelan Marsha.


"Ya, sudah. Bantu aku berdiri." pinta Marsha.


Boy membungkuk. Dia menggendong Marsha ala bridal, supaya lebih cepat dan efektif.


"Boy, turunkan akuuu.." Marsha meronta. Boy yang kerepotan buru-buru berlari sebelum handuk yang melilit bagian bawahnya terlepas.


"Awww" Bukan handuk yang copot, tapi Marsha menggigit leher Boy dengan kuat.


Boy melemparkan Marsha ke ranjang, lalu memegangi lehernya yang langsung merah.


"Dasar wanita gila." umpat Boy. Dia berjalan ke walk in closet untuk berganti pakaian. Dia akan turun dan tidak mempedulikan Marsha lagi.


Marsha mengambil baju seadanya dan berganti di situ, karena dia malas untuk pergi ke walk in closet dan bertemu dengan Boy.


Boy yang baru saja keluar dari walk in closet, tidak sengaja melihat Marsha sedang berganti baju.


"Hey, wanita gila. Kamu bisa tidak jangan ganti disitu." Boy menutup kembali pintu nya, menunggu Marsha berganti baju.


"Kaki ku sakit itu karena kamu. Jadi jangan salahkan aku." ucap Marsha dengan nada tinggi.


Setelah menunggu beberapa menit, Boy keluar lagi dengan harapan Marsha sudah selesai berganti pakaian. Tapi, Boy malah tidak melihat wanita itu di manapun. Boy kemudian terburu-buru keluar untuk mengejar Marsha. Langkah nya terhenti ketika Boy menemukan Marsha sedang berjalan terpincang sambil berpegangan pada tembok.


"Tetap saja harus digendong, kan?" ejek Boy.


Boy kembali menggendong Marsha supaya mereka cepat sampai di bawah. Kali ini Marsha memasrahkan diri, dan dia melingkarkan tangannya pada leher Boy supaya tidak jatuh.


*


*


*


"Mereka lama sekali. Aku sudah lapar." keluh Jessica. Dia yakin makanan yang tersaji di meja sudah dingin dan tidak enak lagi.


"Namanya juga pengantin baru. Kamu kayak gak tau aja." ucap Sania sambil tertawa kecil. Setiap teringat kejadian malam tadi ketika Boy dan Marsha sedang membuat anak, Sania tidak dapat menahan tawanya.


"Ya, memang gak tau Mom. Kan Jess belum menikah." Jessica mendengus kesal.


"Oh, kamu ingin menikah? Ken ini jomblo." Ny.Lee menepuk lengan Ken yang berada di sebelahnya.


Ken cukup terkejut dengan perkataan Ny.Lee. Tidak biasanya ibu tua itu mempromosikan dirinya. Justru Ny.Lee sangat takut jika Ken punya pacar, karena Fokus nya bisa terbagi antara Marsha dan pacarnya.


"Astaga, mereka memang tidak tahu malu." Jessica mengabaikan ucapan Ny.Lee setelah melihat Kakak dan istrinya muncul dengan begitu mesra.


"Tidak apa-apa. Nyonya Lee pemilik hotel ini, jadi tidak akan ada yang protes." ucap Bayu santai. Dia bangga dengan Boy karena Boy sungguh menunjukan kalau dia laki-laki sejati yang romantis.


"Maaf, kami terlambat." Boy menurunkan Marsha pada bangku yang kosong, di sebelah Ken. Sedangkan Boy duduk di sampingnya.


Lagi-lagi Sania melihat bekas merah di leher Boy, dan dia cekikikan sendiri.


"Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Ny.Lee tanpa basi-basi.


"Sungguh sangat mengejutkan." ucap Boy asal. Dia menuangkan air putih pada gelasnya, lalu meminumnya dalam hitungan detik. Menggendong Marsha ternyata melelahkan, karena Marsha berat.


"Kalian lihat kan, baru satu hari saja aku sudah terluka." Marsha mendengus kesal.


"Boy, kamu bisa pelan-pelan tidak?" tegur Bayu.


Marsha tampak senang ketika dia di bela oleh mertuanya.


"Dia jatuh sendiri, Dad.. karena dia yang tidak sabaran." Boy mengambil croissant di meja dan melahapnya dalam satu gigitan.


"Astaga.. kalian benar-benar menceritakan malam pertama kalian?" Jessica menimpali sambil bergidik ngeri.


Marsha hanya mampu melongo karena mertua dan Mom nya tertawa begitu geli karena mengira mereka betul-betul melakukan hubungan suami istri.