
Ken memutus kabel CCTV yang menyorot ke arah kolam renang. Dia harus lebih waspada jika bersama Marsha karena Boy sering sekali mengecek CCTV di rumah.
"Duduk lah, Ken." Marsha menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Marsha setelah pria itu duduk.
Ken hanya menatap ke arah depan. Dia tidak ingin menatap Marsha karena hatinya saat ini begitu hancur dan remuk.
"Ken, bicara lah sesuatu." pancing Marsha.
"Kamu tahu jawabannya, nona." jawab Ken datar. Dia sudah mengungkapkan perasaannya pada Marsha kemarin, saat wanita itu masuk ke kamarnya.
Flashback on
Marsha membanting pintu dengan keras sampai jendela rumah bergetar.
“Dasar suami tidak tahu di untung!” Teriak Marsha tanpa peduli orang di dalam rumah mendengar umpatannya.
‘Ting tong’
Marsha melonjak kaget karena tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring. Dia membuka pintu kembali, dan melihat tukang ojek online datang membawa sebuah bungkusan.
“Maaf, saya tidak pesan pak.” Ucap Marsha dengan nada cukup sinis karena dia masih emosi dengan Boy.
Dia langsung berniat menutup pintu kembali, tapi sebuah tangan yang kekar menahan pintu itu.
“Aku yang pesan, nona.” Ken menggeser tubuh Marsha untuk mengambil pesanannya.
“Astaga, badan mu sangat panas, Ken.” Marsha merasakan hawa panas dari tubuh Ken meskipun mereka berdiri cukup jauh.
“Saya memang sakit kan, nona.” Ken dengan sempoyongan berjalan ke kamarnya. Marsha mengikuti Ken karena dia khawatir Ken akan jatuh.
Ken langsung tiduran kembali begitu sampai di kamar.
“Aku panggil Om Andre ya..” Marsha mencari ponselnya di tas dengan panik.
“Tidak usah, nona. Saya akan sembuh hanya dengan minum obat warung.” Jawab Ken merendah.
“Ken, tidak bisa begitu. Nanti kalau kamu sakit, siapa yang akan jaga aku?”
Ken tertawa kecil. Dia bangun dan bersandar pada head board. Mata Ken meneliti Marsha yang tampak sedih. Dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali majikannya itu menunjukan wajah bahagia. Selama pacaran dengan Juna, Marsha lebih sering tampak murung. Sekarang ketika dia menikah dengan Boy, Marsha malah semakin menyedihkan. Dia bahkan sering tidak berfokus pada pekerjaannya dan mendapatkan komplain dari Jeni.
“Nona, urusan menjaga seharusnya pasangan anda yang melakukannya.” “Dan, nona Marsha tidak perlu khawatir karena saya hanya bodyguard yang di bayar Ny.Lee.” Jelas Ken tanpa mengalihkan pandangan dari Marsha.
Marsha hanya menghela nafas panjang. “Ya, seandainya aku bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai ku..”
Deg.
“Sebenarnya ada orang yang mencintai mu.” Ken memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sudah dia pendam selama ini.
“Hah? Siapa Ken?” Marsha terkejut mendengar ucapan Ken yang begitu serius.
“Aku.”
Diam. Marsha dan Ken hanya saling memandang dalam diam. Detik berikutnya, Marsha tertawa geli sampai air matanya keluar.
“Hey, jangan bercanda Ken.” Marsha menonjok pelan lengan Ken.
“Aku serius, nona. Aku menyukai mu sejak pertama bekerja dengan mu.” Ken mulai mengingat kembali pertemuannya dengan Marsha beberapa tahun yang lalu. Ny.Lee meminta Ken untuk menjadi bodyguardnya ketika Marsha baru kembali ke Indonesia. Marsha gadis yang sangat cantik, elegant, dan senyumnya sungguh membuat hati Ken meleleh. Ken yang tidak ingin membuat Marsha risih, akhirnnya memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya supaya bisa terus bersama dengan Marsha.
“Ken,,” Marsha tampak tidak percaya dengan Ken. Sejak dulu, Ken memang selalu sigap menolong Marsha. Dia juga sangat mengerti segala kebiasaan Marsha. Tapi, Marsha selalu mengira perhatian yang Ken berikan itu termasuk dalam tugas nya sebagai bodyguard yang totalitas.
“Aku tahu nona, anda belum melakukan hubungan dengan Boy sampai sekarang. Jadi, bukan kah aku masih bisa mendapatkan kesempatan?”
“Ken,, bagaimana kamu..” Marsha menghentikan ucapannya. “Sudahlah,, kamu bicara sembarangan karena kamu sedang sakit. Sekarang kamu lebih baik makan dulu.” Ucap Marsha sambil membuka pesanan Ken tadi.
“Mars, aku tidak akan menyerah selama kamu dan Boy melakukannya.”
“Ken, aku siram kepala mu pakai ini, jika kamu bicara sembarangan lagi.” Marsha mengancam Ken dengan sup panas di tangannya. Dia sebenarnya takut jika Ken mengaharapkan dirinya karena Marsha sudah mulai mencintai Boy. Dia juga takut hubungannya dengan Ken selama ini akan rusak karena pengakuan cinta dari pria itu.
“Sudah, aku suapi kamu. Anggap saja ini bonus dari majikan mu yang baik hati tapi sedikit sombong.” Marsha berusaha mencairkan suasana supaya Ken tidak merasakan penolakan halus darinya.
Baru beberapa suapan, tiba-tiba Boy mendobrak pintu kamar Ken membuat keduanya begitu terkejut.
Flashback off
"Jadi, bagaimana sekarang? Aku sudah mengakui jika aku mencintai Boy." "Aku tidak akan memaksa mu untuk tetap di sini jika kamu merasa sakit hati atau tidak nyaman." ucap Marsha dengan tenang. Dia sangat tidak ingin melukai Ken, karena pria itu, sudah sangat berjasa dalam hidupnya selama beberapa tahun ini.
"Aku akan tetap menjadi bodyguard anda sampai Ny.Lee yang memecat saya." kata Ken tegas. Dia memang sedih, tapi Ny.Lee memberikan gaji yang sangat besar dan Ken tidak bisa seenaknya saja untuk pergi hanya karena Marsha tidak mencintainya.
"You're the best, Ken." Marsha tersenyum lega. "Jadi, kamu sudah siap menjalankan misi berikutnya Ken?"
"Tentu saja, Mars.." "Eh, nona.." Ken menutup mulut karena keceplosan.
"Aku sangat tidak suka dengan mantan Boy. Si Lele Lele itu." kata Marsha kesal.
"Jadi, apa rencana anda?"
"Awasi saja dia, Ken. Kalau Boy menemui dia, kamu laporkan secepatnya."
Ken mengangguk tanda dia setuju dengan apa yang di perintahkan oleh Marsha. Dia juga punya firasat buruk ketika melihat tingkah Leana tadi.Jangan sampai Leana membuat Marsha yang sedang bahagia menjadi stress lagi.