You're My Boy

You're My Boy
Surat perjanjian



Boy benar-benar membuktikan ucapannya pada Marsha soal rumah baru. Kali ini, Marsha harus memberikan Boy penghargaan karena Boy dapat menyiapkan rumah baru mereka dalam waktu 3 hari. Begitu mendarat, sopir Boy langsung membawa mereka untuk pergi ke rumah baru yang sudah di pilih oleh Marsha.


"Taraa.." Boy berteriak senang ketika pintu gerbang terbuka.


Marsha memandang rumah mereka dengan puas karena semua persis seperti yang dia minta.


Rumah itu berlantai 2. Marsha sengaja memilih yang tidak terlalu besar. Dia tidak suka sendirian dan rumah yang besar hanya akan tampak membuatnya semakin merasa kesepian.


Di depan halaman ada garasi yang cukup memuat 4 mobil. Marsha melihat mobil Huracan dan Land Rover miliknya sudah terparkir di depan. Sedangkan sisanya mobil Ferrari dan Bugatti veyron milik Boy membuat tempat parkir penuh.


Lalu, untuk desain interior, Marsha memilih desain minimalis modern dengan nuansa pink dan putih. Boy cukup terkejut, karena rumah baru nya bewarna seperti toko boneka. Sangat feminim sekali. Lantai bawah hanya ada dapur, ruang keluarga, kamar tamu dan ruang kerja. Sedangkan di lantai atas, ada kamar utama mereka, balkon dan juga kolam renang.


Boy tidak komplain meskipun untuk membeli rumah ini dia harus merogoh kocek cukup banyak, sampai puluhan miliar.


"Kamar kita di mana?" tanya Boy sambil menarik koper di tangan kanan dan kirinya. Ya, selama di Irlandia Marsha belanja banyak sampai mereka harus membeli koper tambahan.


Marsha membuka kamar mereka dengan kartu.


Boy terkejut karena di kamar mereka terdapat dua ranjang ukuran king size.


"Kita tidak akan berebut lagi, Boy." kata Marsha senang. Dia juga membuat 2 walk in closet di kamar ini, karena Marsha tidak ingin mencampur barangnya dengan barang milik Boy.


"Oh, iya.. Satu lagi, aku harus membuat surat perjanjian dengan kamu." Marsha merebahkan badan di sofa panjang yang menghadap keluar jendela.


"Apa maksudnya surat perjanjian?" tanya Boy bingung.


"Kamu ga pernah liat film korea?"


"Ini kehidupan nyata, bukan drama korea." ucap Boy kesal. Boy melihat seksama ranjang itu. Satu di beri sprei pink dan ada boneka beruang di atasnya. Satu, lagi sprei biru dan tampak polos.


Boy merebahkan diri pada ranjang yang adalah miliknya.


"Jangan bilang kamu akan membuat perjanjian nikah kontrak seperti yang ada di novel-novel."


"Boy, apakah kamu yakin kita bisa hidup seperti ini terus?" Kali ini Marsha mendekati Boy karena ternyata Boy tahu apa yang suaminya pikir kan.


"Marsha, pernikahan itu sesuatu yang penting. Aku tidak ingin bercerai jika tidak ada alasan yang mendasar."


"Meskipun pernikahan ini tanpa cinta?"


"Ya, aku akan tetap jadi suami mu."


Marsha Terdiam karena Boy tampaknya cukup yakin dengan pernikahan dadakan ini.


"Kalau begitu, apa yang bisa membuat kita bercerai?"


"Kalau salah satu diantara kita berselingkuh. Aku tidak akan memaafkan kamu jika kamu melakukan itu."


"Hey, yang playboy itu kamu." Marsha mengambil bantal kursi, lalu melemparkannya ke wajah Boy.


"Baiklah, kita akan buat surat perjanjian dengan masuk akal." Boy akhirnya setuju untuk memenuhi permintaan Marsha yang sedikit konyol itu.


Boy memberikan tablet dan stylus pada Marsha. "Kamu tulis saja dulu."


Marsha tampak berpikir sejenak. Tapi beberapa menit kemudian, dia mulai menuliskan ide-idenya.


Perjanjian Marsha dan Boy


1.Sebagai suami, Boy dilarang keras ikut campur dalam bisnis istri.


2.Selama menikah, Boy tidak boleh melakukan hubungan dengan Marsha sebelum Boy mencintai Marsha.


Boy tersenyum dengan 2 poin yang diberikan Marsha. Itu bukan hal yang sulit untuk Boy.


Sekarang giliran Boy yang menambahkan isi poin dari surat itu.




Marsha di larang keras menyentuh data di ponsel ataupun komputer Boy




Jika ada tindakan yang membahayakan nyawa Boy, Boy akan minta ganti rugi.




Jangan mengucapkan kata cerai selain jika melihat Boy selingkuh.




Dia tidak tahu mereka akan berakhir seperti apa, tapi yang jelas Marsha sudah menyiapkan rencana jika dia sudah tidak tahan dengan Boy.


Boy langsung tertidur begitu selesai berurusan dengan Marsha. Ini salah satu kebiasaan buruk Boy. Dia selalu tertidur tanpa berganti pakaian atau sekedar melepaskan sepatu. Marsha bergerak dari tempatnya untuk membantu Boy melepaskan sepatunya. Boy tampak tertidur seperti anak kecil yang kelelahan karena bermain.


Setelah melepaskan sepatu dan menaruh di rak milik Boy, Marsha kembali dengan membawa tas make up nya. Dia juga perlu merawat wajah Boy. Dengan pelan-pelan Marsha mengelap wajah Boy dengan toner.


'Dia jauh lebih baik kalau sedang tidur seperti ini.' batin Marsha dalam hati.


Ponsel Marsha tiba-tiba berdering membuyarkan lamunan Marsha. Ken calling..


"Bagaimana, Ken?"


"Jeni ada di bawah. Sepertinya dia sedang kesal."


"Oke, aku turun."


Marsha turun dari ranjang Boy, lalu turun menemui manager nya itu. Sudah satu bulan ini jadwal nya kacau berantakan. Jeni pasti mengomeli Marsha habis-habisan.


"Mana Tuan Boy?" tanya Ken yang melihat Marsha menuruni tangga seorang diri.


"Dia sedang tidur." "Ken, tolong ambil di kamar, tas warna krem untuk oleh-oleh Jeni." Marsha memberikan kartu akses kamarnya pada Ken.


"Gimana bulan madu you? Sukses?" goda Jeni.


"Kepo amat sih you. Udah cepet, mana jadwal ai."


Jeni memberikan deretan panjang kertas dengan tulisan jadwal Marsha bulan Januari.


Marsha mulai melihatnya dengan teliti. Dia lupa bulan depan akan padat karena sudah menandatangi kontrak dengan beberapa perusahaan yang mengendorse nya.


"Memang suami you itu ijinin you kerja? Kan suami you udah kaya raya. Mobilnya saja Buggati."


"Kalau ai ga kerja, gimana ai bisa beli tas branded?" Marsha duduk di sofa bulat yang sangat nyaman. "Kirim saja pdf filenya."


"You luar biasa Marsha. Tidak dapat Juna, you dapat tambang emas lainnya."


Marsha tertawa sinis. Lebih tepatnya dia sedang mengejek Boy. Boy dan Juna bagaikan langit dan bumi. Mereka terlalu jauh untuk di bandingkan.


"Kenapa Ken, begitu lama, apakah dia sedang bicara dengan Boy?"


"Nona ini pesanan anda."


Ken menyerahkan pesanan Marsha, lalu dia pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi.


"Aneh sekali dia.." kata Marsha lirih. "Oh iya, ini wine untuk you..hadiah dari Boy." Marsha menyerahkan wine pada Jeni.


"Ingat, jangan minum sama pacar you.. siapa itu namanya?"


"Jason." sahut Jeni kesal. Untuk kesekian kalinya Marsha melupakan nama pacar Jeni.


"Jen, you inget.. You harus menikah dengan orang yang you cintai.. jangan kayak ai." saran Marsha.


"Memangnya you ga cinta sama Boy?"


"Sudahlah.. ai mau istirahat dulu." Marsha meninggalkan Jeni yang masih memikirkan perkataan Wanita itu.


Marsha kembali ke kamar dan terkejut karena Boy sudah terbangun dari tidurnya dan sedang bersandar pada head board.


"Aku ingin menambahkan satu poin lagi dalam Perjanjian itu."


"No, kita sudah tanda tangan kan.." protes Marsha.


Boy menunjukan halaman baru yang sudah di tambahi poin ke 6.


"Boy berhak mengusir Ken kapanpun jika dia bertingkah." Marsha membaca dengan bersuara.


"Apa ini?" Marsha mencoba merebut tablet yang di tunjukan Boy, tapi dia kalah cepat dari suaminya.


"Ini curang."


Boy tidak peduli. Dia menyimpan tablet nya di bawah bantal sehingga Marsha tidak dapat berkutik lagi.


"Boy, kamu menyebalkan."


"Ya, dan pria menyebalkan ini adalah suami mu." ingat Boy.