
Ken menengok ke arah bawah kursi. Dia melihat kaki Marsha lecet, dan juga sedikit merah.
"Kaki anda tidak apa-apa, nona?" tanya Ken sedikit panik.
"Mungkin terkilir."
Ken mendorong kursinya, lalu dia berjongkok untuk melihat kaki Marsha. Ini bukan pertama kalinya Ken melakukan ini. Marsha sering terjatuh dan terkilir, jadi Ken sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Ken memijit perlahan kaki Marsha. Marsha sedikit kesakitan, dia meremas bahu Ken supaya tidak berteriak.
Seluruh keluarga besar Marsha-Boy menyaksikan adegan itu sambil melongo. Tapi, Boy malah asyik makan.
"Ehem." Bayu berdehem.
"Thanks Ken." Marsha sedikit lega karena kakinya terasa lebih baik setelah di pijat oleh Ken.
Ken kembali duduk tanpa dosa. Padahal seluruh keluarga masih menatap Ken dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
Marsha mengambil dimsum, dan meletakkannya pada piring Ken yang masih kosong.
"Makan yang banyak, Ken." pesan Marsha pada Ken.
Ada yang aneh di sini. Boy adalah suami Marsha, tapi yang lebih tampak seperti pasangan suami istri adalah Marsha dan Ken.
"Baiklah. Karena kita sudah berkumpul di sini, Mom ingin kasih kamu hadiah." Ny.Lee mengakhiri ketegangan supaya besan nya tidak banyak bertanya.
"Ini, ada tiket honeymoon untuk kalian."
Uhuk. Boy tersedak mendengar kata honeymoon.
Marsha menerima tiket itu dengan ragu-ragu. Tiket hotel ke Irlandia.
"Mom, kenapa begitu jauh? Kami tidak perlu bulan madu." protes Marsha.
"Tidak apa-apa Marsha, itu supaya Ny.Lee bisa cepat dapat cucu." ucap Sania tanpa ragu. Bayu menyenggol istrinya. Sejak kemarin dia sangat senang Boy dan Marsha bisa melakukan hubungan suami istri.
"Betul sayang, kita perlu bulan madu.. Di sana pasti menyenangkan." Boy menengok dan tersenyum pada Marsha. Dia merebut tiket yang di pegang Marsha. "Makasih Mom.. Boy janji akan segera buatkan cucu yang lucu untuk Mom." Boy merangkul Marsha dengan mesra.
Semua tertawa bahagia, kecuali Marsha dan Ken. Marsha memandang ke arah Boy dengan tidak percaya. Boy pasti punya rencana busuk. Marsha baru tahu jika Boy pandai sekali berakting.
"Oke, tapi aku mau ajak Ken ikut juga." Kata Marsha tegas.
"Ken?" ucap Ny.Lee dan Sania bersamaan.
"Ya, aku masih butuh bodyguard, karena suami ku ini tampaknya tidak dapat diandalkan." Balas Marsha.
"Kenapa begitu? Bukankah dada ku ini tidak kalah sixpack dari Ken?" Boy menarik tangan Marsha dan menaruhnya pada dada bidangnya.
Wajah Marsha bersemu merah. Dia buru-buru menarik tangannya sebelum wajahnya berubah seperti tomat.
"Oke,, oke.. Ken, akan ikut kalian." tegas Ny.Lee.
Ken menelan ludah. Dia bisa mati berdiri melihat dua orang ini bermesraan ketika bulan madu. Apalagi perjalan ke Irlandia membutuhkan waktu lebih dari 20 jam.
Marsha dan Boy tertawa canggung. Orang tua mereka sungguh luar biasa. Bagaimana mungkin mereka bergerak secepat itu.
"Jessica juga mau ikut, kak." Jessica mengerjapkan kedua matanya dan menunjukan wajah sok imut.
"Kami tidak butuh pembantu, Jess." ucap Boy sinis. Membawa Ken saja sudah repot, apalagi membawa Jessica.
"Sudah, kalian selesaikan makan kalian, lalu pergi lah bulan madu." Bayu menghentikan obrolan random Boy dan Jessica.
*
*
*
Pesawat Boy-Marsha sudah lepas landas. Mereka berdua akhirnya bisa bernafas lega. Boy memilih untuk bermain game seperti kebiasaannya, sedangkan Marsha sibuk menonton film.
Ken duduk di belakang mereka dengan raut wajah bingung. Pasangan ini aneh sekali. Kemarin mereka begitu mesra di kamar, tapi sekarang seperti kutub utara dan kutub Selatan.
"Nona, apakah anda kedinginan?" tanya Ken yang melihat Marsha merapatkan jaketnya. Tanpa di minta lagi, Ken mengambil 2 selimut, lalu memakaikan nya pada Marsha.
"Thanks, Ken."
"Berhenti memperhatikannya." ucap Boy dari kursi yang bersebrangan dengan Marsha. "Ingat, aku ini suami nya." Boy menunjukan cincin yang melingkar di jadi manis kanannya, menunjukan kepemilikan Marsha.
Marsha hanya berdecak kesal. Dia melanjutkan menonton tanpa mempedulikan Boy. Begitu juga dengan Ken.
"Lihat, Ken.. dia lucu sekali." Marsha tertawa terbahak-bahak menonton film komedi yang baru saja di rilis.
Boy yang sedang bermain sampai tidak konsen karena Marsha dan Ken yang tertawa tanpa henti. Boy akhirnya memilih menarik selimutnya sampai menutupi wajah. Dia lebih baik tidur daripada melihat Marsha dan bodyguardnya sedang bermesraan.
Melihat Boy sudah tertidur, Ken memberanikan diri untuk bertanya pada Marsha.
"Kenapa anda terlihat begitu dingin Nona Marsha?"
"Memang aku seperti itu dengan Boy."
"Tapi,,, kemarin.. kami jelas mendengar anda dan Tuan Boy..." Ken tidak melanjutkan kata-katanya karena tidak menemukan ungkapan yang tepat untuk mengimajinasikan kegiatan mereka tadi malam.
"Astaga.. yang benar saja, Ken. Kami tidak melakukan apapun. Kemarin zipper ku macet dan kena rambut." "Kalau kaki ini karena aku terpeleset di kamar mandi." jelas Marsha.
"Saya kira anda sudah menerima Tuan Boy dengan lapang dada."
Marsha menengok pada Boy yang sekarang mendengkur. Dari cara tidurnya saja Marsha tidak suka. Tapi mereka sudah terikat dalam pernikahan. Bisakah dia membuka hatinya untuk Boy yang seperti itu?
"Kamu tahu, Ken.. kamu 10 kali lebih baik daripada dia."
"Semoga anda tahan dengan Tuan Boy." Ken kembali duduk di kursinya.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Ken merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan Marsha. Ken harus mengakui jika hatinya porak poranda mengetahui Marsha menikah dengan Boy. Mereka sudah bersama-sama selama beberapa tahun belakangan ini, dan Ken mulai memperhatikan Marsha bukan sebagai majikannya. Sayangnya, Ken tidak berhak menyatakan perasaannya, karena dia hanya seorang bodyguard.