
" Neng, yang mau nginap sini?" ujar seorang bapak-bapak dari belakang Hily yang tiba-tiba saja datang.
" ah, iya pak." jawab Hily sopan pada bapak itu.
" saya Kepala Desa disini. Nama saya Pak Ridwan, nanti kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi saya.. toh kantor dekat sini, tinggal jalan ajah kesana dikit." tutur Pak Ridwan menunjuk sebuah kantor kecil yang tak jauh dari penginapan.
Hily pun mengangguk seraya tersenyum pada Pak Kepala Desa.
Setelah kepergian Pak Ridwan, Hily segera masuk kedalam rumah kecil itu. Saat berada didalam Ia sudah disuguhi dengan pemandangan yang tak enak— dimana Harley bermanja-manja pada Aana karena masih melanjutkan drama tadi.
" aku istirahat dulu yah." ucap Hily hingga membuat Harley dan Aana menoleh seketika.
Harley tak menghiraukan suara Hily dan memilih memandang wajah kekasihnya, sedangkan Aana hanya tersenyum tipis.
Hily pun segera merebahkan dirinya di samping Aana karena rumah itu sangat kecil jadi hanya cukup untuk ruang tidur tanpa adanya ruang tamu atau kamar serta dapur dan toilet.
****
Tak terasa hari sudah malam dan Hily baru bangun dari tidurnya. Membuka kelopak matanya, samar-samar Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Dengan kepala yang terasa berat karena baru bangun, Hily memperbaiki posisinya yang saat ini sudah duduk.
Mengedarkan pandangannya, Ia mencari dua sepasang kekasih itu namun tidak tampak sama sekali. Ia pun segera bangkit dan keluar dari rumah.
Saat berdiri diambang pintu, Ia sudah melihat api unggun yang menyala dan menghasilkan kemilauan cahaya.
" oh, Hily kemarilah." panggil Aana saat melihat saudarinya yang berdiri di depan pintu. Ia menepuk tempat disampingnya dan Hily pun segera bergabung.
" kau tau tidak, hal seperti ini baru terjadi dalam hidupku. Pergi bersama kekasih dan saudara untuk menikmati udara luar." celoteh Aana dengan memeluk erat lengan kekar Harley.
Harley kini menoleh pada Aana dan tersenyum, sedangkan Hily hanya tersenyum getir melihat kemesraan antara orang yang Ia sukai selama enam belas tahun bersama saudari angkatnya.
" sangat sunyi, bagaimana jika kita bermain saja." ucap Aana tiba-tiba.
" iss, kau itu selalu saja mengikuti aku." sinis Harley pada sahabatnya dengan setengah bercanda.
" ah, sudah. tunggu aku yah."
Aana segera beranjak masuk kedalam rumah dan tak lama Ia sudah keluar dengan membawa dua botol wine dan dua botol soju.
" kenapa ada minuman sayang?"
Harley bertanya karena Ia baru melihat minuman yang dipegang kekasihnya, sebab saat di Jakarta Ia sama sekali tidak tau bahwa Aana akan membawa dua botol wine dan soju.
" ini hanya bagian dari permainan." jawab Aana dengan santai. Ia segera duduk di tempat sebelumnya dan membuka semua penutup botol wine dan soju.
" jika Harley kalah, dia akan minum wine dan jika aku atau Hily kalah maka kami hanya minum soju."
Aana mulai menjelaskan peraturan dasar dari permainan yang akan dibuatnya.
" tidak, jika kau kalah maka aku yang akan ambil jatahmu." sahut Harley pada Aana karena Ia tidak membiarkan kekasihnya menyentuh minuman.
Perkataan Harley— tanpa sadar sudah menyakiti perasaan Hily hingga mau tidak mau sahabatnya itu hanya tersenyum saja.
▪︎
▪︎
Bersambung....
Jangan lupa dukung dan suport serta like and vote😃🥰🥰
Follow IG @ningsih_official07